LATAR BELAKANG ILMU PENGETAHUAN


MAKALAH

LATAR BELAKANG ILMU PENGETAHUAN

Disusun guna memenuhi tugas

Mata kuliah                 : Metode Penelitian

Dosen Pengampu        : Drs. M. Slamet Untung, M.Ag.

Disusun Oleh :

  1. Kurnia Hidayati                                  2021110206
  2. Salafuddin                                          2021110207
  3. M. Bagus Yudistira                             2021110214
  4. Dewi Riska Khodijah                         2021110219

 

 

Kelas E

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PEKALONGAN 2011

BAB I

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dan berkembang sebagai konsekuensi dari usaha-usaha manusia baik untuk memahami realitas kehidupan dan alam semesta maupun untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, serta mengembangkan dan melestarikan hasil yang sudah dicapai oleh manusia sebelumnya. Usaha-usaha tersebut terakumulasi sedemikian rupa sehingga membentuk tubuh ilmu pengetahuan yang memiliki strukturnya sendiri.

Struktur tubuh ilmu pengetahuan bukan barang jadi dan mapan, karena struktur tersebut selalu berubah seiring dengan perubahan manusia baik dalam mengidentifikasika dirinya, memahami alam semesta maupun dalam cara mereka berpikir.

Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan, suatu sisitem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Motif-Motif Perkembangan Ilmu Pengetahuan
    1. Definisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Pengetahuan diartikan secara luas yang mencakup segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek.[1]

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[2]

Sifat-sifat ilmu pengetahuan adalah bersifat akumulatif, mutlak, dan objektif. Adapun ciri-ciri umum daripada ilmu, yaitu:

  1. Rasional
  2. Empiris
  3. Umum
  4. Akumulatif[3]

Syarat-syarat ilmu adalah sebagai berikut:

  1. Objektif.

Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam.

  1. Metodis

Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran.

  1.  Sistematis.

Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.

  1. Universal.

Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). [4]

  1. Motif-Motif Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh.

Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, namun lebih dari itu manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna kepada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya. Dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya.

Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuan dan pengetahuan ini juga yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi. Motif-motif perkembangan ilmu pengetahuan oleh manusia disebabkan dua hal utama, yakni:

  1. Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.
  2. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap karena kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.[5]

 

 

  1. B.     Tugas-Tugas Ilmu Pengetahuan

Tugas-tugas Ilmu Pengetahuan dan Penelitian

  1. Menyandra (deskripsi)

Menggambarkan secara jelas dan cermat, hal-hal yang dipersoalkan.

Contoh : terjadi kecelakaan di jalan Juanda.

  1. Menerangkan (Eksplanasi)

Menerangkan secara detil kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa.

Contoh : kecelakaan itu disebabkan:

Melibatkan dua buah bis yang sarat penumpang

Keduanya sama-sama kencang

Jalanan licin sehabis hujan.

  1. Menyusun teori

Mencari dan merumuskan hukum-hukum, tata hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain. Contoh :

-          Bila kendaraan dijalankan kencang terlebih di jalan licin maka akan terjadi kecelakaan.

-          Bila kecelakaan melibatkan kendaraan yang penuh penumpang, maka akan banyak korban.

  1. Ramalan (Prediksi)

Membuat prediksi (ramalan), estimasi (taksiran) dan proyeksi mengenai peristiwa yang bakal muncul bila keadaan didiamkan. Contoh :

-          Bila didiamkan semakin banyak terjadi kecelakaan

-          Tempat itu dianggap rawan (dikeramatkan)

  1. Pengendalian (Kontrol)

Melakukan tindakan-tindakan guna mengatasi keadaan atau gejala yang bakal muncul. Contoh:

-          Memasang rambu lalu lintas

-          Membuat/memasang lampu penerangan[6]

  1. C.    Postulat-Postulat Pokok Tentang Alam Semesta

Postulat adalah adalah asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya atau anggapan dasar.

Postulat – postulat tentang Alam Semesta antara lain:

  1.  Postulat Jenis

Postulat jenis  adalah menentukan bahwa gejala yang ada di alam ini mempunyai kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Adanya perbedaan-perbedaan akan menentukan aneka ragam jenis dan kesamaan gejala yang akan mewujudkan rumpun sejenis.

Contohnya, air dan minyak berbeda tapi sejenis, batu dan besi walau berbeda tetapi sejenis.

  1. Postulat Keajegan

Postulat ini beranggapan bahwa gejala-gejala alam mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan sifat-sifat hakikat dalam keadaan dan waktu tertentu. Gejala-gejala alam dan sosial sifatnya tidak mutlak atau dapat berubah-ubah. Perubahan kemutlakan gejala alam relatif lebih kecil daripada gejala-gejala sosial.  Contohnya, matahari terbit disebelah timur adalah postulat keajegan karena kita menyaksikan bahwa disepanjang hidup kita matahari selalu terbit disebelah timur.[7]

  1.  Postulat Sebab Akibat

Postulat ini menganggap bahwa semua kejadian dalam alam semesta ini terikat pada hubungan kausal (sebab akibat). Benda jatuh karena gaya gravitasi bumi, mengantuk karena terlalu banyak makan, sakit, capek, dll.

  1. Postulat Keterbatasan Sebab Akibat

Tidak, semua sebab menimbulkan akibat. Sebab dapat membatasi akibat, demikian juga akibat dapat membatasi sebab. Belum tentu mengantuk disebabkan kurang istirahat, demikian juga sebaliknya.

  1. Postulat Variabilitas Gejala

Contohnya adalah pencampuran berbagai kadar pewarna dalam air putih; tingkah laku orang melihat kita tersenyum.

 

  1. D.     Postulat Pokok tentang Kemampuan Manusia

Postulat pokok tentang kemampuan manusia antara lain:
1. Postulat Reliabilitas Pengamatan :

Tidak selamanya pengamatan peneliti tetap, bahkan mungkin pada suatu saat salah dalam pengamatannya, kelelahan, keinginan tak terpenuhi, harapan tak terwujud atau motivasi yang rendah.
ang  perlu dilakukan adalah:
1) Pengamatan ulang

2) Menambah banyak kasus yang diamati
3) Membandingkan dengan hasil pengamatan orang lain
4) Menggunakan ukuran-ukuran yang mantap, terpercaya dan memadai
5) Menggunakan simbol-simbol
6) Berbuat obyektif
2.  Postulat Reliabilitas Ingatan :

Orang mudah mengingat hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mengesankan : apa yang disenangi, dikagumi, dibenci, mencemaskan, dan lain sebagainya. Yang perlu dilakukan adalah :
1. Dokumentasi
2. Penggunaan simbol
3. Postulat Reliabilitas Pemikiran

Seseorang tak luput dalam reasoning. Pemikiran seseorang dapat dipengaruhi keadaan, tempat, dan waktu. Kadang kita mengikuti logika, tapi kadang mengikuti perasaan (hati). Kita harus ingat bahwa yang benar itu logis tapi yang logis tak selamanya selalu benar.[8]

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. A.    Motif-Motif Perkembangan Ilmu Pengetahuan
    1. Definisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

  1. B.     Tugas-Tugas Ilmu Pengetahuan
    1. Menyandra (deskripsi)
    2. Menerangkan (Eksplanasi)
    3. Menyusun teori
    4. Ramalan (Prediksi)
    5. Pengendalian (Kontrol)
    6. C.    Postulat-Postulat Pokok Tentang Alam Semesta
      1. Postulat Jenis
      2. Postulat Keajegan
      3. Postulat Sebab Akibat
      4. 4.      Postulat Keterbatasan Sebab Akibat
      5. Postulat Variabilitas Gejala
      6. D.    Postulat Pokok tentang Kemampuan Manusia
        1. Postulat Reliabilitas Pengamatan
        2. Postulat Reliabilitas Ingatan
        3. Postulat Reliabilitas Pemikiran

 

M. Toyibi, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1994), hal. 1

[1] Ilmu, (http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu), diakses tanggal 15 Februari 2012

[1] Burhanudin Salam , Pengantar Filsafat, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 24

 

 

 


[1] M. Toyibi, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1994), hal. 1

[2] Ilmu, (http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu), diakses tanggal 15 Februari 2012

[3] Burhanudin Salam , Pengantar Filsafat, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 24

[4] Ibid.

[5] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 93.

[6] Yulia Dwi Indiarti, Research Method Metode Penelitian, (http://jul1a_indria.staff.ipb.ac.id/2011/02/26/metode-penelitian/) diakses tanggal 14 Februari 2012.

 

Tugas Bahasa Inggris (Lagi)


Name: 1. Kurnia Hidayati                202 111 0206

2. Uswatun Khasanah           202 111 0210

3. Rizki Amalia R                  202 111 0213

4. Mei Andrianti                    202 111 0384

Class: A

Title: Education and Islam

Score:

 

The Answer :

 

Education and Islam

Islam is the religion of peace, and it is one of the most sacred and trustworthy religions, which has given us guidance in every aspect of life. Islam has given us education with knowledge which has no limits. The Holy Quran is the most sacred book of Allah revealed on Prophet Muhammad (SAW), for the upliftment guidance and enriched messages to the humanity.

Education is the knowledge of putting one’s potentials to maximum use. Without education, no one can find the proper right path in this world.

The importance of education is basically for two reasons. Education makes man a right thinker. Without education, no one can think properly in an appropriate context you. It tells man how to think and how to make decision. The second reason for the importance of education is that only through the attainment of education, man is enabled to receive information from the external world.  This is why Islam attaches such great importance to knowledge and education. When the Quran began to be revealed, the first word of its first verse was ‘Iqra’ that is, read.

Islamic Education is one of the best systems of education, which makes an ethical groomed person with all the qualities, which he/she should have as a human being. The Western world has created the wrong image of Islam in the world. They don’t know that our teachings are directly given to us from Allah, who is the creator of this world, through our Prophets.

The Muslims all over the world are thirsty of acquiring quality education. They know their boundaries and never try to cross it. It is The West, which has created a hype that the Muslim are not in a path of getting proper education. They think that our education teaches us fighting, about weapons, etc., which is so false. This is true that there are certain elements, which force an individual to be on the wrong path, because as we will mould a child, they will be like that, but it doesn’t mean that our religion teaches improperly to us.

Our Holy Prophet (SAW), said,

“Seek knowledge from the cradle to the grave” and  “Seek knowledge even [if it is to be found in a place as distant asChina].

Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Munir_Moosa

Question and answer:

  1. What is the main idea of the first paragraph? The main idea is

Islam is the religion of peace, and it is one of the most sacred and trustworthy religions, which has given us guidance in every aspect of life.

  1. What is the importance of education?

The importance of education is basically for two reasons. Education makes man a right thinker. Without education, no one can think properly in an appropriate context you. It tells man how to think and how to make decision. The second reason for the importance of education is that only through the attainment of education, man is enabled to receive information from the external world.

  1. The word “guidance”(first paragraph) can best replaced by direction.
  1. 4.      What  is the main idea of the third paragraph? 

The importance of education.

  1. 5.      It tells man how to think and how to make decision. The word “decision” can best replaced by judgment.
  1. Why The Western world has created the wrong image of Islam?

Because they don’t know that our teachings are directly given to us from Allah, who is the creator of this world, through our Prophets.

7. They think that our education teaches us fighting, about weapons, etc., which is so false. “They” refers to The West.

  1. How The West think about  Islam Education? They think that our education teaches us fighting, about weapons, etc.
  2. What is the meaning  “Seek knowledge even [if it is to be found in a place as distant as China]. The meaning is motivation to study although very distant place.

10. What is the purpose of the text? To explain the reader about education and Islam.

***

 

IBNU SINA


IBNU SINA

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Fisafat Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

 

  1. Kurnia Hidayati                      202 111 0206
  2. Uswatun Khasanah                 202 111 0210
  3. Muhammad Bagus Yudistira  202 111 0214
  4. Naelal Khusna                         202 111 0222

 

 

KELAS E

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul Ibnu Sina” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.

Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang Ibnu Sina dan filsafat serta pemikirannya. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami filsafat Ibnu Sina, mengingat beliau adalah seorang filosof yang cerdas. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Amat Zuhri M.Ag, selaku dosen pembimbing Filsafat Islam dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Filsafat Islam. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

 

 

Pekalongan, 2 Oktober 2011

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 Dinamika pemikiran dalam dunia Islam tetap berkembang sampai sekarang. Kenyataan ini dimungkinkan terjadi berkat doktrin yang menghargai akal setinggi mungkin sebagai salah satu sumber pengetahuan dan kebenaran.

Menurut Ibnu Sina, jiwa merupakan satu kesatuan dan memiliki wujud sendiri. Jiwa nihil sebagai fungsi-fungsi fisikan dan tugasnya ialah untuk berfikir dalam rangka ini, jiwa memerlukan tubuh. Pada mulanya tubuh menolong jiwa manusia untuk berfikir.

Namun, jika jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan maka sebaliknya, tubuh hanya akan menjadi penghalang bagi jiwa untuk berkembang. Karena jiwa merupakan satu unit sendiri yang terlepas dari badan. Inilah sebagian pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Sina dasar ajaran filsafatnya. Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini akan kami jelaskan lebih lanjut mengenai filsafat Ibnu Sina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Biografi Ibnu Sina

Abu Ali Husein Ibnu Abdillah Ibnu Sina lahir Afyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukharadi tahun 980 M. Orang tuanya berkedudukan pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani. Menurut sejarah hidup yang disusun oleh murinya, Jurjani, dari semenjak kecil Ibnu Sina telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, seperti fisika, metematika, kedokteran, hukum, dan lain-lain. Sewaktu masih berumur 17 tahun, ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan istana.[1]

Pada waktu usianya mencapai 22 tahun, ayahnya meninggal dunia, kemudian ia meninggalkan negeri Bukharauntuk menuju Jurjan, dan dari sini ia pergi ke Chawarazm. Di Jurjan ia mengajar  dan mengarang, tetapi karena kekacauan politik, ia tak lama tinggal di situ.[2]

Ibnu Sina dalam berfilsafat berusaha mensintesakan ajaran filsafat Aristoteles dengan Neo-Platonisme. Bagi Ibnu Sina, filsafat tidak lain adalah pengetahuan mengenai segela sesuatu (benda) sejauh mana kebenaran obyek itu dapat dijangkau oleh akal manusia.

Ibnu Sina melihat filsafat dari dua arah, pertama dari segi teoritisnya dan kedua dari segi praktisnya. Yang teoritis terbagi atas ilmu-ilmu fisika, matematika dan metafisika, sedangkan yang praktis disebutkan dengan politik dan etika.[3]

Pada akhir hayatnya ia menjadi guru filsafat dan dokter di Ishfahan dan meninggal di Hamadzan pada tahun 428H (1037 M) dalam usia 57 tahun. Diberitakan, penyakit perut (maag) yang membawa kematiannya sebagai dampak dari kerja kerasnya untuk urusan negara dan ilmu pengetahuan.[4]

 

 

 

  1. Hasil Karya Ibnu Sina

Ibnu Sina meskipun disibukkan oleh kegiatan politik namun karena kecerdasan yang dimilikinya, menyebabkan ia mampu menulis beberapa buku.

Karena kecerdasan dan kepandaiannya dalam mengatur waktu. Tidak kurang dari 50 lembar karya yang ia hasilkan. Ia sangat berjasa bagi para ilmuwan.

Adapun karya-karya Ibnu Sina adalah:

  1. 1.      As-Syifa

Merupakan buku filsafat terpenting dan terbesar yang terdiri dari 4 bagian, yaitu logika, fisika, matematika dan metafisika.

  1. 2.      An-Najat

Merupakan buku ringkasan As-Syifa.

  1. 3.      Al-Syarat Wat-Tanbihat

Merupakan buku terakhir dan paling baik, pernah diterbitkan diLeidentahun 1892.

  1. 4.      Al-Hikmat Al-Masyriqiyyah

Memuat tentang logika, namun banyak orang yang membicarakannya kerena ketidakjelasan maksud judul ini.

  1. 5.      Al-Qanun/ Canon of Medicine

Pernah diterjemahkan dalam bahasa latin dan menjadi buku standar universitas-universitas di Eropa.[5]

  1. Filsafat Ibnu Sina
  1. 1.      Filsafat Jiwa

Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah filsafatnya tentang jiwa. Sebagaiman al-Farabi, ia juga menganut paham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari Akal Pertama; demikian seterusnya sehingga tercapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari Akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah Jibril.

Ibnu Sina berpendapat bahwa Akal Pertama mempunyai dua sifat, yaitu:

1)      Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah.

2)      Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.[6]

Akal pertama mempunyai tiga objek pemikiran, yakni Tuhan, dirinya sendiri sebagai wajib wujudnya,  dan dirinya sendiri sebagai mungkin wujudnya. Ketika akal memikirkan Tuhan akan timbul akal-akal lain. Ketika akal memikirkan dirinya sebagai dirinya sebagai wajib wujudnya, timbul jiwa-jiwa, dan dari dari aktivitas berfikir tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit. Jadi, Akal Pertama melimpahkan tiga wujud: Akal Kedua, Jiwa Pertama, dan langit tempat fixed stars.[7]

Ibnu Sina juga membagi jiwa itu sendiri dalam tiga bagian:

1)      Jiwa tumbuh-tumbuhan, dengan tiga daya (makan, tumbuh, dan berkembang biak)

2)      Jiwa binatang, dengan dua daya (gerak dan menangkap)

3)      Jiwa manusia, dengan dua daya (praktis dan teoritis)[8]

Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan ini tidak dapat diremehkan, baik pada dunia fikir Arab sejak abad 10 M sampai akhir abad 19 M, maupun pada filsafat scolastik Yahudi dan Masehi.

Bukti-bukti wujud jiwa juga diungkapkan Ibnu Sina dengan mengedepankan 4 dalil, yaitu:

1)      Dalil psiko-fisik

2)      Dalil aku dan kesatuan fenomena kejiwaan

3)      Dalil kelangsungan (kontinuitas)

4)      Dalil manusia terbang atau dalil manusia melayang-layang di udara.[9]

Ibnu Sina juga membuktikan bahwa jiwa adalah kekal, ia memaklumi bahwa jiwa itu adalah makhluk yang temporal tidak ada kecuali ada badan. Jiwa tidak mendahului badan, walaupun ia kekal setelah badan sirna, sehingga dengan demikian jiwa diklasifikasikan sebagai sesuatu yang mempunyai awal tetapi tidak mempunyai akhir. [10]

  1. 2.      Filsafat Wahyu dan Nabi

Pendapat Ibnu Sina tentang Nabi bertitik tolak dari tingkatan akal. Akal meteriil sebagai yang terendah adakalanya dianugerahkan Tuhan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, oleh Ibnu Sina dinamakan intuisi. [11] Daya yang ada pada pada akal materiil seperti ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada nabi-nabi.[12]

  1. 3.      Filsafat Wujud

Ibnu Sina berpendapat bahwa dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama, sendiru karena hanya dari yang tunggal. Yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Namun sifat intelegensi pertama itu tidak selamanya mutlak satu, karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan berkat kedua sifat itu., yang sejak saat itu melingkupi seluruh ciptaan di dunia, intelegensi pertama memunculkan dua kemaujudan yaitu:

1)      Intelegensi kedua melalui kebaikan ego tertinggi dari adanya aktualitas, dan

2)      Lingkungan pertama dan tertinggi berdasarkan segi terendah dari adanya kemungkinan alamiahnya. Dua proses pemancaran ini berjalan terus sampai mencapai intelegensi kesepuluh yang mengatur dunia ini, yang oleh kebanyakan filosof mungkin disebut malaikat jibril.[13]

Esensi dalam paham Ibnu Sina, terdapat dalam akal, sedang wujud itu diluar itu diluar akal. Ibnu Sina mengombinasikan antara wujud dan esensi sebagai berikut:

  1. Esensi yang tak dapat mempunyai wujud
  2. Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud
  3. Esensi tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud adalah sama dan satu.[14]

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Sina sependapat dengan al-Farabi mengenai filsafat jiwanya. Ibnu Sina dapat berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat, yaitu:

  1. Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah.
  2. Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.

Sedangkan mengenai filsafat wujud, Ibnu Sina berpendapat bahwa dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama sendiri. Karena hanya dari yang tunggal yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Namun, sifat intelegensi pertama itu tidak selamanya mutlak satu sebab ia bukan ada dengan sendirinya.Ia hanya mungkin dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Amin, Miska Muhammad. 1983. Epistemologi Islam. Jakarta: Penerbit UniversitasIndonesia.

 

Drajat, Amroeni. 2006. Filsafat Islam:Buat yang Pengen Tahu, Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Mustofa, H. A. 2004. Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia.

 

Nasution, Harun. 1999. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

 

Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta:Gaya Media Pratama.


[1] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), hal. 28.

[2] H. A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hal.189.

[3] Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1983), hal. 42)

[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999). Hal. 68.

[5]Mustofa, Op.Cit. hal. 189-190

[6] Harun Nasution, Op. Cit. hal. 29.

[7] Amroeni Drajat, Filsafat Islam:Buat yang Pengen Tahu, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hal.47.

[8] Nasution, Op. Cit, hal. 29-30.

[9] Mustofa, Loc. Cit, hal. 209.

[10] Ibid.

[11] Hasyimsyah Nsution, Loc. Cit, hal. 75.

[12] Nasution, Loc. Cit, hal. 33.

[13]Mustofa, Loc. Cit, hal. 190-191.

[14] Nasution, Op.Cit, hal. 33-34.

PERINTAH AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR ( Telaah QS. Al-Hajj Ayat 41 )


PERINTAH AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

( Telaah QS. Al-Hajj Ayat 41 )

Dosen Pengampu : H.A.UBAEDI FATHUDDIN, Lc, MA

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

1.         Nita Eviana                        : 2021110217

  1. 2.         Indah Rediana                  : 2021110205
  2. 3.         Kurnia Hidayati                : 2021110206
  3. 4.         Ulva Riskilah                     : 2021110195

Kelompok 12

KELAS E

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN

2011

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. A.      Perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar ( QS. Al-Hajj ayat 41)

t

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

 

  1. B.       Asbabun Nuzul

Ibnu abbas mengatakan tentang Asbabun Nuzul ayat ini. “ Tatkala Rasulullah SAW. Di usir dari mekkah Abu Bakar berkata “ Mereka telah mengusir Nabi, mereka sesungguhnya kita kepunyaan Allah, sesungguhnya kita kembali pada-Nya benar-benar hancurlah kaum itu.” Maka Allah SWT menurunkan ayat ini yang artinya : Di izinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh Allah Maha Kuasa Menolong mereka itu. Abu Bakar berkata : Maka tahulah aku Sesungguhnya aka nada peperangan.’ ( Riwayat Ahmad At-Tarmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majjah).[1]

  1. C.      Hadits Pendukung

أ. عن ابى سعيد الحد رى رضي الله عنه قا ل : سمعت رسو ل الله ص.م يقو ل : من را ى منكم منكرا فليغيره بيده وان لم يستطع فبلسا نه فا ن لم يستطع فبقلبه وذ لك اذعف اليمان .

Artinya : Dari Abu Sa’id al Khudriy ra, ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW beesabda : “ Siapa saja diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganya, apabila ia tidak mampu, maka Rasulullah dengan lisanya, bila ia tidak mampu rubahlah hatinya, dan itu adalah paling lemahnya iman.” (HR. Muslim).[2]

 

  1. D.            Penjelasan Tafsir

 

  1. 1.    Tafsir Al-Azhar ( Nita Eviana : 2021110217)

Dalam suratAl Hajj ayat 41, yang artinya :(yaitu) Orang-orang yang apabila kemi kokohkan mereka di bumi.” Dapat diartikan telah Kami tolong dan berhasil perjuangan mereka melawan kedhaliman itu,” mereka mendirikan sholat dan memberikan zakat .” Dengan susunan ayat ini bukanlah berarti bahwa mereka mau mendirikan sholat dan kokoh di muka bumi, atau setelah mereka menang menghadapi musuh-musuhnya, bahkan sejak semula perjuangan keyakinan dan keimanan kepada Tuhan itulah pegangan teguh mereka. Dalam pengalaman kita dimasa perjuangan melawan penjajahan belanda, pada umumnya orang shalih dan taat sembahyanglima waktu mereka kerjakan dengan tekun. Zakat mereka berikan. Tetapi setelah kedudukan kokoh di muka bumi prang mulai melalikan agama.

“Dan mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf.” Maka timbullah berbagai anjuran agar sama-sama berbuat yang ma’ruf. Artinya yang ma’ruf ialah anjuran-anjuran atau perbuatan yang diterima baik dan disambut dengan segala senang hati oleh masyarakat ramai. Betambah banyak anjuran kepada yang ma’ruf bertambah majulah masyarakat.

“Dan mereka mecegah dari berbuat yang munkar.” Artinya yag munkar adalah segala anjuran atau perbuatan yang masyarakat bersama tidak senang melihat atau menerimanya, karena tidak sesuai dengan garis-garis kebenaran.

“Dan kepada Alah jualah akibat dari segala urusan.” ujung ayat 41) Artinya walau bagaimanapun keadaan yang dihadapi, baik ketika lemah yang menghendaki kesabaran, atau menghadapi perjuangan yang amat sengit dengan musuh karena mempertahankan ajaran Alah atau seketika kemenangan telah tercapai, sekali-kali jangan lupa, bahwa keputusan terakhir adalah pada Allah SWT jua.[3]

  1. 2.    Tafsir Al Maragi ( Indah Rediana : 2021110205)

Orang-orang yang diusir dari kampung halamannya ialah orang-orang  yang apabila kami meneguhkan kedudukan mereka didalam negeri, lalu mereka mengalahkan kaum musrikin. Lalu , mereka taat ke[pada Allah, mendirikan sholat seperti yang diperintahkan kepada mereka, mengeluarkan zakat harta yang telah diberikan kepada mereka, menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya, menyuruh orang untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh syari’at. Dan melarang melakukan kemusrikan, serta kejahatan.

Ringkasan : Mereka adalah Orang-orang yang menyempurnakan dirinya dengan menghadirkan Tuhan dan menghadapkan diri Kepada-Nya didalam shalat menurut kemampuannya dan mereka dengan menolong  orang-orang fakir dan yang butuh pertolongan diantara mereka. Disamping itu, mereka menyempurnakan orang lain dengan memberikan sebagian ilmu dan adabnya, serta mencegah berbagai kerusakan yang menghambat orang lain untuk mencapai akhlak dan adab yang luhur.

Kemudian , Allah menjanjikan akan meninggikan kalimat-Nya dan menolong para penolong agama-Nya :

 

والله عا قبة الامور

Kepada Allah lah segala urusan dikembalikan, apakah dia akan membalasnya dengan pahala ataukah dengan siksa di negeri akhirat.

Senada dengan ayat tersebut. Ialah firman Allah :

والعاقبة للمتقين

 “ Dan sesudah yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-A’raf. 7 : 128).[4]

  1. 3.    Tafsir al-Misbah (Kurnia Hidayati : 2021110206)

Ayat-ayat QS-Al Hajj ayat 41 menerangkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang jika kami anugerahkan kepada kemenangan dan kami teguhkan kedudukan mewreka dimuka bumi, yakni kami berikan mereka keleluasaan mengelola suatu wilayah dalam keadaan mereka merdeka dan berdaulat niscaya mereka yakni masyarakat itu melaksanakan shalat secara sempurna rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya dan mereka uga menunaikan zakat sesuai kadar waktu, sasaran dan cara penyuluran yang ditetapkan oleh Allah, serta mereka menyuruh anggota-anggota masyarakat agar berbuat yang ma’ruf, yani nilai-nilai luhur serta adat istiadat yang diakui baik dalam masyarakat itu, lagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ilahiah dan mereka mencegah dari yang munkar, yakni yang nilai buruk lagi diingkari oleh akal sehat masyarakat, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan, Dialah yang memenagkan siapa yang hendak dimenangka-Nya dan Dia pula yang menjatuhkan kekalahan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menentukan masa kemenangan dan kekalahan itu.

Ayat diatas mencerminkan sekelumit dari cirri-ciri masyarakat yang diidamkan islam, kapan dan dimanapun dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat beliau.

Masyarakat itu adalah yang pemimpin-pemimpin dan anggota-anggotanya dinilai kolektif bertakwa, sehingga hubungan mereka dengan Allah SWT. Baik dan jauh dari kekejian dan kemunkaran, sebagaimana dicerminkan oleh sikap mereka yang selalu melaksanakan shalat dan harmonis pula hubungan anggota masyarakat, termasuk antara kaum yang punya dan lemah yang dicerminkan oleh ayat diatas iringan menunaikan zakat. Disamping itu mereka juga menegakkan nilai-nilai yang dianut masyarakat, yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar. Pelaksanaan kedua hal tersebut menjadikan masyarakat melaksanakan control social, sehingga mereka saling mengingatkan dalam hal kebajikan, serta mencegah terjadinya pelanggaran.[5]

  1. 4.    Tafsir Ibnu Katsir (Ulva Rizkililah : 20211102195)

Menurut Abu Al Aliyah, orang yang menyebutkan alam ayat ini iaah para sahabat Muhammad SAW. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Utsman bin Affan, dia berkata : “ Mengenai kamilah ayat,orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi ini susunkan kami diusir dari kampung halaman kami sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karna kami mengatakan bahwa Tuhan kami adalah Allah, kemudian kami diteguhkan di bumi, lalu kami mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, kepunyaan Allah kemudahan segala perkara. Jadi ayat ini diturunkan berkenan dengan aku dan para sahabatku.

Ash-Shahab bin Suwadah al Kindi berkata, “Aku mendengar Umar Bin Abdul Aziz berkhutbah. Dia membaca ayat “Orang-orang yang kami teguhkan kedudukan mereka dibumi, kemudian berkata.” Ketahuilah, ayat ini bukan hanya ditujukan kepada pemimpin semata, namun ditujukan kepada pemimpin dan rakyatnya. Ketahuilah, aku akan memberitahukan kepadamu kewajiban pemimpin kepada rakyatnya dan kewajiban rakyat kepada pemimpinnya. Sesungguhnya yang mejadi hak kamu dan kewajiban pemimpin ialah memperlakukan amu dengan ketentuan Allah yang telah diwajibkan atasmu, memperlakukan sebagian kamu karena sebagian yang lain dengan ketentuan Allah dan menunjukkan kamu kepada jalan yang lurus sesuai dengan kemampuan pemimpin. Adapun kewajiban kamu adalah mentaati pemimpin tanpa terpaksa dan tidak bertentangan antara ketaatan perkataan dan perbuatan dengan ketaatan hati.

Zaid bin Aslam berkata, “ Dan kepada Alah lah kembali segala urusan berarti pada sisi Allah lah pahala atas apa yang telah mereka lakukan.[6]

 

  1. E.       Kesimpulan Tafsir

 

  1. 1.      Tafsir Al-Azhar ( Nita Eviana : 2021110217)

Dari penafsiran diatas, maka dapat disimpulkan behwa kita sebagai kaum muslimin untuk selalu berbuat baik, sebab dengan perbuatan yang baik agama islam akan tetap kokoh, dan mencegah dari perbuatan yang munkar, karena hal itu dapat memecah belah sesama muslim, perbuatan-perbuatan yang baik itu misalnya Shalat, Zakat,menolong orang lain yang membutuhkan. Dari contoh perbuatan ma’ruf tersebut, maka akan terjadi keseimbangan hubungan dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia.

  1. 2.      Tafsir Al Maragi ( Indah Rediana : 2021110205)

*) Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa  dalam keadaan apapun baik dalam mendapatkan kemenangan ataupun kekalahan, seperti yang dicontohkan pada masyarakat masa Nabi Muhammad SAW danParaSahabat-sahabat beliau. Manusia harus melaksanakan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar.

*) Dengan shalat maka akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, menauhkan diri dari kemungkaran, menunaikan zakat dengan memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk orang yang kurang mampu. Berarti juga telah menjalin hubungan yang baik antara orang yang mampu/punya dengan orang yang kurang punya, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dengan menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, adat istiadat, budaya yang diakui dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nila-nilai keagamaan, mencegah yang munkar, dengan cara menghindari dan mencegah segala sesuatu yang dinilai tidak baik/buruk dalam masyarakat dan juga dinilai dari kacamata agama. Saling mengingatkan dalam segala kebajikan dan salig mencegah terjadinya perbuata yang munkar. Segala urusan yang kita lakukan, semuanya ditujukan hanyalah kepada Allah, dan Allah lah yang akan menentukan kekalahan kemenangan. Yang akan membalas dengan pahala ataupun dengan siksa.

  1. 3.      Tafsir al-Misbah (Kurnia Hidayati : 2021110206)

Dalam penafsiran QS. Al-Hajj ayat 41 dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat yang diidam-idamkan islam adalah masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW, dan para Sahabat-sahabatnya. Yaitu msayarakat yang pemimpin-pemimpinya dinilai kolektif bertakwa. Orang-orang-orang yang mempunyai hubungan baik dengan Alah SWT. Sehingga perbuatan mereka baik dan jauh dari kekejian serta kemunkaran. Perbuatan baik mereka dicerminkan dengan selalu melaksanakan shalat, menjalin hubungan yang harmonis dengan anggota masyarakat, termasuk dalam semua kaum. Baik kaum berpunya ataupun kaum lemah. Yang lebih penting lagi, mereka menegakkannilai-nilai kebaikan yaitu kaum lemah. Yang lebih penting lagi, mereka menegakkan nilai-nilai kebaikan yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar, yaitu perbuatan buruk.

Lalu pelaksanaan kedua hal tersebut, dijadikan sebagai suatu control social dalam suatu masyarakat, sehingga mereka saling megingatkan dalam hal kebaikan serta saling mecegah terjadinya pelanggaran. Semoga masyarakat kita dapat meniru hal hal baik seperti yang dicontohkan masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabat beliau. Amiin .

  1. 4.      Tafsir Ibnu Katsir (Ulva Rizkililah : 20211102195)
  2. Dari penafsiran QS. Al-Hajj ayat 41, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu perbuatan para sahabat dalam membela keimanan mereka yakni mengakui ke Esa an Allah SWT dan tetap teguh menjalankan syariat agama islam, seperti halnya shalat, dan zakat. Meskipun pada hakikatnya, apa yang mereka / para sahabat lakukan mendapat kecaman dan tantangan yang tidak mudah, tetapi mereka tetap teguh pendirianya dan tetap menyakini Allah SWT sebagai Tuhan mereka.
  3. Ayat ini juga ditujukan kepada para pemimpin dan juga kepada yang dipimpin, yakni rakyat, disini tersirat bahwa seorang pemimpin dilarang bertindak sewenang-wenang, tetapi sebagai seorang pemimpin harus bias mengayomi dan sebisa mungkin mensejahterakan rakyatnya, yakni tidak terpendam rasa tidak suka / terpaksa dalam hati mereka dalam melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka terhadap pemimpin sebagai rakyat yang dipimpin.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maragi, Juz XVII, (Semarang: Toha Putra, 1993)
  • Ar-Rifa’i, Muhammad Najib. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 3
  • Al-Qur’an Bayan
  • Hamka, Tafsir Al-Azhar ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)
  • Imam Nawawi. Terjemah Riyadhus Shalihin. Jakarta : Pustaka Amani. 1996.
  • Shihab, M.Quraisy, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Al-Qur’anul Bayan. ( Jakarta : Bayan, 1996) hlm. 337.

[2] Imam Nawawi, Terjemahan Riyadus Shalihin, ( Jakarta: Pustaka Amani, 1996) hlm. 212.

[3] Hamka, tafsir Al-Azhar ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), Juz XVII, h. 177

[4] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Juz XVII, (Semarang: Toha Putra, 1993 Hal, 209-210.

[5] M.Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002),hlm, 71-75

[6] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Penerjamah Shihabudin,(Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm,. 379.

HUKUM PIDANA ISLAM DALAM KONSEP


MAKALAH

HUKUM PIDANA ISLAM DALAM KONSEP

 

Makalah ini disususn guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah                           : Fiqh II

Dosen Pengampu                   : Kuat Ismanto, M. Ag.

Disusun oleh:

  1. Ely Mustagfiroh                                  202 111 0204
  2. Indah Rediana                                                202 111 0205
  3. Kurnia Hidayati                                  202 111 0206
  4. Salafudin                                             202 111 0207
  5. Hammydiati Azifa L I                        202 111 0208

 

 

 

KELAS E

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

Perbuatan manusia yang dinilai sebagai pelanggaran atau kejahatan kepada sesamanya, baik pelanggaran tersebut secara fisik atau nonfisik, seperti membunuh, menuduh atau memfitnah maupun kejahatan terhadap harta benda lainnya, dibahas dalam jinayah. Pembahasan terhadap masalah yang sama dalam ilmu hukum, dinamai hukum pidana yang merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, strafrecht.

Dalam kitab-kitab klasik, pembahasan masalah jinayah ini hanya dikhususkan pada perbuatan dosa yang berkaitan dengan sasaran (objek) badan atau jiwa saja. Adapun perbuatan dosa selain sasaran badan dan jiwa, seperti kejahatan terhadap harta, agama, negara dan lain-lain tidak termusuk dalam jinayah, melainkan dibahas secara terpisah-pisah pada berbagai bab tersendiri.

Buku atau kitab yang memuat rincian perbuatan pelanggaran atau kejahatan dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku perbuatan tersebut dinamakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau dalam bahasa aslinya dikenal sebagai Wetboek van Strafrecht.

Dalam makalah ini akan kami bahas mengenai hokum pidana Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Hukum Pidana Islam

Hukum pidana Islam merupakan terjemahan dari kata fiqh jinayah. Fiqh Jinayah adalah segala ketentuan hukum mengenai tindak pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang mukallaf sebagai hasil dari pemahaman atas dalil-dalil hukum yang terperinci dari Al Qur’an dan Hadist.[1] Tindakan kriminal dimaksud, adalah tindakan-tindakan kejahatan yang menggangu ketentraman umum serta tindakan melawan peraturan perundang-undangan yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.

Hukum pidana Islam merupakan syariat Allah yang mengandung kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. syari’at Islam dimaksud secara materiil mengandung kewajiban asasi bagi setiap manusia untuk melaksankannya. Konsep kewajiban asasi syari’at yaitu menempatkan Allah sebagai pemegang segala hak, baik yang ada pada diri sendiri maupun yang ada pada orang lain. Setiap orang hanya pelaksana, yang berkewajiban memenuhi perintah Allah. Perintah Allah dimaksud, harus ditunaikan untuk kemaslahatan dirinya dan orang lain.[2]

Asas-asas Hukum Pidana Islam

Asas-asas hukum pidana Islam adalah asas-asas hukum yang mendasari pelaksanaan hukum pidana Islam, diantaranya:

  1. Asas Legalitas

Asas legalitas adalah asas yang menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran dan tidak ada hukuman sebelum ada undang-undang yang menyatakannya. Asas ini berdasarkan pada Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 15 dan  Surat Al-An’am ayat 19.

Kedua ayat tersebut mengandung makna bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW supaya menjadi peringatan (dalam bentuk aturan dan ancaman hukuman) kepadamu.

  1. Asas Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain

Asas ini adalah asas yang menyatakan bahwa setiap perbuatan manusia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang jahat akan mendapat imbalan yang setimpal.

Seperti yang tertulis pada ayat 38 Surat Al-Mudatsir, Allah menyatakan bahwa setiap orang terikat kepada apa yang dia kerjakan, dan setiap orang tidak akan memikul dosa atau kesalahan yang dibuat oleh orang lain.

  1. Asas Praduga Tak Bersalah

Asas praduga tak bersalah adalah asas yang mendasari bahwa seseorang yang dituduh melakukan suatu kejahatan harus dianggap tidak bersalah sebelum hakim dengan bukti-bukti yang meyakinkan menyatakan dengan tegas persalahannya itu. [3]

  1. B.     Unsur-unsur Hukum Pidana Islam

Untuk menentukan suatu hukuman terhadap suatu tindak pidana dalam hukum Islam, diperlukan unsur normative dan moral, sebagai berikut:

  1. Unsur Yuridis Normatif

Unsur ini harus didasari oleh suatu dalil yang menentukan larangan terhadap perilaku tertentu dan diancam dengan hukuman.

  1. Unsur Moral

Adalah kesanggupan seseorang untuk menerima sesuatu yang secara nyata mempunyai nilai yang dapat dipertanggung jawabkan.[4]

 

  1. Ciri-ciri Hukum Pidana Islam

Ciri-ciri hukum pidana Islam adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Islam adalah bagian dan bersumber dari ajaran agama Islam
  2. Hukum Islam mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dicerai-pisahkan dengan iman dan kesusilaan atau akhlak Islam.
  3. Hukum Islam mempunyai istilah kunci, yaitu a)syariah, dan b) fikih.
  4. Hukum Islam terdiri dari dua bagian utama, yaitu 1) hukum ibadah dan 2) hukum muamalah dalam arti  yang luas.
  5. Hukum Islam mempunyai struktur yang berlapis-lapis seprti dalam bentuk bagan bertingkat.
  6. Hukum Islam mendahulukan kewajiban dari hak, amal, dan pahala.
  7. Hukum Islam dapat dibagi menjadi: 1) hukum taklifi, 2) hukum wadh’i. [5]

 

  1. D.    Tujuan Hukum Islam

Tujuan hukum pada umumnya adalah menegakkan keadilan berdasarkan kemauan pencipta manusia sehingga terwujud ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Namun bila tujuan hukum Islam dilihat dari ketetapan hukum yang dibuat oleh Allah dan Nabi Muhammad, baik yang  termuat di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan mencegah  serta menolak segala yang tidak berguna kepada kehidupan manusia. Dengan kata lain tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia baik jasmani maupun rohani individu dan masyarakat. Kemaslahatan dimaksud, dirumuskan oleh Abu Ishak Asy-Syathibi dan disepakati oleh ahli hukum Islam lainnya seperti yang telah dikutip oleh H.Hakam Haq, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.[6]

 

  1. E.     Perbandingan  Hukum Pidana Islam dengan Hukum Pidana di Indonesia

Hukum pidana yang berlaku di Indonesia hingga kini merupakan peninggalan penjajahan Belanda yang dilandasi oleh falsafah yang berbeda dengan falsafah yang dianut bangsa Indonesia, seperti mengutamakan kebebasan, menonjolkan hak-hak individu, dan kurang berhubungan dengan moralitas.

Ancaman pidana yang dijatuhkan oleh para hakim di sidang pengadilan seringkali tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat, khususnya korban kejahatan dan keluarganya. Berbagai kejahatan dengan kekerasan seperti perampokan, pencurian, pembunuhan, perkosaan, penganiayaan yang setiap hari terjadi di depan mata masyarakat hanya diganjar hukuman ringan. Ditambah dengan faktor krisis multidimensi dan lemahnya penegakan hukum, masyarakat yang terhimpit berbagai beban bangkit melakukan perlawanan secara masal terhadap berbagai macam kejahatan tadi dan akibatnya sering sangat fatal.[7]

Hukum pidana Islam ditandai oleh kuatnya celupan (shibgah) keagamaan. Dengan demikian ketaatan seorang muslim pada hukum ini bukan atas dasar ketakutan, tetapi atas  dasar kesadaran iman. Dengan demikian menjalankan atau menegakkan hukum ini dalam pandangan seorang muslim merupakan bagian dari keislaman yang total, hukum ini juga berfungsi menjaga nilai-nilai moral (akhlak) karena hukum diturunkan dan sanksi dijatuhkan untuk menjaga akhlak manusia.[8]

.

Dalam Hukum Pidana Positif di indonesia yang menjadi perbedaan adalah bahwa tidak dapat dilakukan damai secara hukum antara keluarga pihak yang dibunuh dan orang yang membunuh. Jadi walaupun ada perdamaian antara kedua belah belah pihak proses pidananya tetap berjalan. Dalam hukum pidana positif di indonesia tidak dikenal damai yang menggugurkan proses pidana kecuali untuk kasus yang memuat delik aduan, seperti kasus pencurian dalam keluarga dan kasus perzinahan atau perselingkuhan bagi suami/istri. Delik aduan dapat dicabut kembali apabila pihak yang mengadukan tindakan pidana tersebut mencabutnya.

Perbedaannya dalam hukum pidana islam berlaku Qishaash dan Dziyat, sementara dalam hukum positif di indonesia yang di berlakukan adalah pidana penjara, kurungan, denda seperti pidana mati dan seumur hidup.

Sementara itu dalam kasus pidana positif yang berlaku di indonesia tidak berlaku perdamaian secara hukum bila terjadi perbuatan melawan hukum yang melanggar kejahatan.[9]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Hukum pidana Islam merupakan terjemahan dari kata fiqh jinayah. Fiqh Jinayah adalah segala ketentuan hukum mengenai tindak pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang mukallaf sebagai hasil dari pemahaman atas dalil-dalil hukum yang terperinci dari Al Qur’an dan Hadist.

Asas-asas hukum pidana Islam adalah asas-asas hukum yang mendasari pelaksanaan hukum pidana Islam, diantaranya:

  1. Asas Legalitas
  2. Asas Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain
  3. Asas Praduga Tak Bersalah

Tujuan hukum pada umumnya adalah menegakkan keadilan berdasarkan kemauan pencipta manusia sehingga terwujud ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Perbedaannya dalam hukum pidana islam berlaku Qishaash dan Dziyat, sementara dalam hukum positif di indonesia yang di berlakukan adalah pidana penjara, kurungan, denda seperti pidana mati dan seumur hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Ali, Zainuddin. 2007. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

Haq, Hamka. 1998. Filsafat Ushul Fiqh. Makasar:Yayasan Al-Ahkam.

Rosyada, Dede. 1992. Hukum Islam dan Pranata Sosial. Jakarta: Lembaga Study Islam dan Kemasyarakatan.

Santoso, topo.1998. Membumikan Hukum Pidana Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Unik Karlita, Perbandingan hukum Pidana Islam dangan Hukum Pidana Positif, (http://unikkarlita.blogspot.com/2011/03/perbandingan-hukum-pidana-islam-fiqh.htm,l, diakses 14 November 2011 )

 


[1] Dede Rosyada, Hukum Islam dan Pranata Sosial (Jakarta: Lembaga Study Islam dan Kemasyarakatan, 1992), hlm.86.

[2] Zainudin Ali, Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), hlm.1.

[3] Ibid, hal.5-7.

[4] Zainuddin  Ali, Ibid, hal. 22.

[5] Ibid, hal. 22-23.

[6] H.Hamka Haq, Filsafat Ushul Fiqh (Makassar: Yayasan Al-Ahkam, 19kum 98), hlm.68.

[7] Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Gema Insani Press , 2003), hlm. 84-85.

[8] Ibid, Hlm, 90.

[9]Unik Karlita, Perbandingan hukum Pidana Islam dangan Hukum Pidana Positif, (http://unikkarlita.blogspot.com/2011/03/perbandingan-hukum-pidana-islam-fiqh.htm,l, diakses 14 November 2011 )

Makalah Hadits Tarbawi: Media Pembelajaran yang Diterpkan Nabi SAW


MEDIA PEMBELAJARAN YANG DITERAPKAN NABI SAW DALAM MELAKUKAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Hadits Tarbawi
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan
Tahun Akademik 2010/2011

Oleh:

1. Kartika Anggun Pratiwi 202 111 0190
2. Kurnia Hidayati 202 111 0206
4. Saikhu 202 111 0216
5. Muhammad Muslimin 202 111 0220
6. Lukman Hakim 202 111 0235

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2011
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “Media Pembelajaran yang Diterapkan Nabi SAW dalam Melakukan Kegiatan Belajar Mengajar” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikantantang media pembelajaran pada masa Rasulullah. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami media pembelajaran pada masa Rasulullah serta mampu membandingkan dengan konteks kekinian. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Kurdi Fadhal, MHI, M.Si selaku dosen pembimbing Hadits Tarbawi dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Hadits Tarbawi. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

Pekalongan, 23 Oktober 2011

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran alat / media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media pengajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Alat / Media merupakan sarana yang membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indera pendengaran dan penglihatan, bahkan adanya alat / media tersebut dapat mempercepat proses pembelajaran murid karena dapat membuat pemahaman murid lebih cepat pula.
Penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Bukan pada masa modern saja, penggunaan media atau alat bantu pembelajaran juga sudah dikenal sejak masa Nabi SAW. Nabi SAW adalah sosok pendidik yang agung bagi umat manusia. Meskipun pendidik pertama-adalah Allah SWT. Nabi Muhammad pada dasarnya mempresentasikan dan mengejawantahkan apa yang diajarkan melalui tindakan, kemudian menerjemahkan tidakannya dalam kata-kata. Sehingga segala “materi” yang diajarkan Muhammad akan segera diterima para sahabatnya karena ucapannya yang diawali dengan contoh tindakan konkret.
Nabi Muhammad adalah sosok pendidik agung bagi umat islam. Meskipun pendidik pertama sebagai mana diyakini umat islam adalah Allah SWT. Praktek pendidikan Rasul penuh dengan muatan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Media Pembelajaran Nabi SAW
Berikut ini adalah contoh hadits tentang media pembelajaran yang digunakan Rasulullah di sela-sela kegiatan belajar mengajar.
1. Membentuk Lingkaran

Terjemah: Nabi bersabada : “Tiada Tuhan selain Allah, kerusakan bagi orang Arab karena keburukan yang mendekati, hari semakin hari terbuka dari bentengnya Ya’juj Ma’juj seperti ini.” (Nabi melingkarkan jarinya) (HR Bukhari)
2. Mengarahkan Jarinya ke Lisan

Terjemah: “Apakah kalian tidak mendengarkan: Sesungguhnya Allah tidak menyiksa disebabkan air mata dan tidak juga sebab susahnya hati, akan tetapi Allah menyiksa dengan ini. (Rasulullah mengarahkan jarinya ke lisan) atau Allah mengasihi. Sesungguhnya mayit itu disiksa sebab tangisan keluarganya. (HR Bukhari)
3. Mengepalkan Tangan

Terjemah: “Orang mukmin terhadap mukmin bagaikan bangunan yang saling mengokohkan. (Rasulullah menyatukan kedua telapak tangannya). (HR Bukhari)
4. Isyarat Tangan

Terjemah: “Mintalah pertolongan dengan tangan kananmu.” (Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya untuk menulis) (HR Tirmidzi)
5. Isyarat Dada

Terjemah: “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kamu dan tidak pula bentuk kamu, akan tetapi Allah melihat hati kamu.” (Nabi memberi isyarat dengan menunjuk ke arah dada dengan jarinya) (HR Bukhari)

Dari beberapa hadits di atas dapat kita ambil nilai-nilai pembelajaran yang di berikan Nabi. Apa yang di ajarkan Nabi merupakan persoalan yang berkaitan dengan materi pendidikan, dan menjadi karakteristik selanjutnya dengan pendidikan Nabi. Pendidikan Akhlak merupakan sisi lain dari pendidikan Nabi yang menjadi jiwa dari pendidikan Muslim.
Usaha Nabi dalam menanamkan akidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya yaitu dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh / teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” barangkali dapat diidentifikasikan dengan “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya.

B. Media Pembelajaran dalam Konteks Kekinian
Kata media sebenarnya berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Kalau kita lihat perkembangan media, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru.
Jenis Alat / Media
Para ahli mengklasifikasikan alat / media kepada dua bagian, yaitu alat yang bersifat benda (materiil) dan yang bukan benda.
1. Alat yang bersifat benda
Pertama, media tulis, seperti Al-Qur’an, Hadis, Tauhid, Fiqih, Sejarah. Kedua, benda-benda alam seperti hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Ketiga, gambar-gambar yang dirancang seperti grafik. Keempat, gambar yang diproyeksikan, seperti video, transparan. Kelima, audio recording (alat untuk didengar), seperti kaset, tape, radio, dan lain-lain.
2. Alat yang bersifat bukan benda
Di antara alat / media pengajaran yang bukan berupa benda adalah :
(1). Keteladanan
(2). Perintah / Larangan
(3). Ganjaran dan Hukuman.
Dengan melihat manfaat alat / media tersebut di atas, maka akan memberikan pengaruh terhadap peserta didik yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, dan juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi. Sehingga besar kemungkinan dengan memperhatikan alat / media pengajaran itu, tujuan pendidikan akan tercapai secara efektif dan efisien.

C. Manfaat media pembelajaran
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.

C. Nilai Tarbawi
Dari berbagai penjelasan di atas. Dapat dilihat bahwa Nabi SAW merupakan seorang guru yang teladan. Sebagai seorang guru, Nabi Muhammad SAW, tidak hanya berorientasi kepada kecakapan-kecakapan ranah cipta saja, tetapi juga mencakup dimensi ranah rasa dan karsa. Sebagai contoh menggunakan media-media dalam pengajaran agar peserta didiknya menjadi jelas menyerap apa yang diajarkan.
Sebagai seorang pendidik, media pembelajaran perlu digunakan supaya memberikan pengaruh terhadap peserta didik yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, dan juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi.

BAB III
KESIMPULAN

Usaha Nabi dalam menanamkan akidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya yaitu dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh / teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” barangkali dapat diidentifikasikan dengan “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya.
Media pembelajaran bisa berupa alat yang bersifat bukan benda dan alat yang bersifat benda. Manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiani Mustikasari, Mengenal Media Pembelajaran, (http://edu-articles.com/mengenal-media-pembelajaran/2011/10/25, diakses 25 Oktober 2011)

Kitab Sunan Al Tirmidzi.
Kitab Sahih Bukhari.
Kitab Sahih Muslim.

Mahmud, Media Pembelajaran PAI, ( http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/10/media-pembelajaran-pai.html/2011/10/24, diakses 24 Oktober 2011)

Sadiman. Arief S, Raharjo, R. dkk. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Untung,Moh. Slamet. 2007. Menulusuri Metode Pendidikan Ala Raulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

.

Makalah: Kepribadian dan Sikap Keagamaan


KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Psikologi Agama

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Ani Maftuchah            2021110201

Mubarokah                  2021110202

Afik Fatkhurrahman   2021110203

Ely Maghfiroh             2021110204

Indah Rediana                        2021110205

Kurnia Hidayati          2021110206

 

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

Kepribadian dalam khasanah peradaban dan pemkiran Islam telah mendapatkan posisi yang penting meski tidak pernah disebut teori. Konsep-konsep kepribadian tersebut semuanya berbahan buku yang sama, yaitu dua raja dalil ( Al-Qur’an dan Al-Hadits). Penafsiran keduanya menjadi karya-karya tulis yang luar biasa. Memang tidak mudah untuk menyusun teori alternatif bagi teori kepribadian. Belajar dari teori-teori kepribadian yang ditawarkam psikologi kontemporer.

Sebenarnay tidak pantas untuk menyandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW dengan kata-kata keilmuan psikologi, terutama psikologi barat. Tetapi selama ilmu itu bersifat eksakta dan sains murni maka ia merupakan bagian dari sunatullah yang boleh di sadur sebagai khasanah kekayaan intelektual.


BAB II

KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN

 

  1. Pengertian dan Teori Kepribadian

Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah:

  1. Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Pengertian secara definitif yang dikemukakan dalam Oxford Dictionary:

Mentality   = Intellectual Power.

= Integrated activity of the organism.

  1. Personality, menurut Wibters Dictionary adalah:
    1. a.      The totality of personality’s characteristic.
    2. An integrated group of constitution of trends behavior tendencies act.
    3. Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya.
    4. 4.      Identity, yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance of personality).[1]

 

Selanjutnya berdasarkan pengertian dari kata-kata tersebut, beberapa ahli mengemukakan definisinya sebagai berikut: [2]

1)      Allport

Dengan mengecualikan beberapa sifat kepribadian dapat dibatasi sebagai cara bereaksi yang khas dari seseorang individu terhadap perangsang sosial dan kualitas penyesuaian diri yang dilakukannya terhadap segi sosial dari lingkungannya.

2)      Mark A. May

Apa yang memungkinkan seseorang berbuat efektif atau memungkinkan seseorang mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Dengan kata lain kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang.

3)      Woodwort

Kualitas dari tingkah laku seseorang.

4)      Morisson

Keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang individu dengan jalan menampilkan hasil-hasil kultural dari evolusi sosial.

5)      Hartmann

Susunan yang terintegritaskan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas yang diperlihatkannya kepada orang lain.

6)      L.P Thorp

Sinonim dengan pikiran tentang berfungsinya seluruh individu-individu secara organisme yang meliputi seluruh aspek yang secara verbal terpisah-pisah seperti: Intelek, watak , motif dan emosi, minat, kesediaan untuk bergaul dengan orang lain (sosialias) dan kesan individu yang ditimbulkanya pada orang lain serta efektivitas sosial pada umumnya.

7)      C.H Judd:

Hasil lengkap serta merupakan suatu keseluruhan dari proses perkembangan yang telah dilalui individu.

8)      Wetherington

Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas wetheringthon menyimpulkan, bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
  2. Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu.
  3. Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pkiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.
  4. Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang.
  5. Kepribadian tidak berkembang secara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial.

Selanjutnya dari sudut filsafat dikemukakan pendapat: [3]

  1. William Stern

Menurut W.Stern kepribadian adalah suatu kesatuan banyak (Unita multi compleks) yang diarah kan kepada tujuan-tujuan terentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri.

Dalam uraian selanjutnya ia mengemukakan ciri-ciri kepribadian:

  1. Kesatuan banyak: Mengandung unsur-unsur yang banyak dan tersusun secara hierarki dari unsur yang berfungsi tinggi ke unsur yang rendah.
  2. Bertujuan: mempunyai tujuanyang erdiri dari mempertahankan diri dan mengembangkan diri.
  3. Individualitas: Merdeka untuk menentukan dirinya sendiri dan kesadaran tidak termasuk ke dalamnya.

Berdasarkan pendapat ini W.Stern menganggap bahwa Tuhan juga termasuk suatu pribadi, karena Tuhan menurutnya mempunyai tujuan dalam diri Nya dan tidak ada tujuan lain di atas Nya.

  1. Prof. Kohnstamm

Ia menentang pendapat W.Stern yang meniadakan kesadaran dalam pribadi terutama pada Tuhan. Menurut Kohnstamm Tuhan merupakan pribadi yang menguasai alam semesta. Dengan kata lain kepribadian sama artinya dengan teistis (Keyakinan). Orang yang berkepribadian menurutnya adalah orang yang berkeyakinan ke-Tuhanan.

Selanjutnya dari pendapat yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pribadi seseorang terkumpul beberapa aspek yang terintegrasikan, berupa:

 

  1. Keyakinan hidup yang dimiliki seseorang: Filsafat, keyakinan, cita-cita, sikap dan era hidupnya.
  2. Keyakinan mengenai diri: perawakan jasmani, sifat psikis, intelegensi, emosi, kemauan, pandangan terhadap orang lain, kemampuan bergaul, kemampuan memimpin, dan kemampuan bersatu.
  3. Keyakinan mengenai kemampuan diri: status diri dalam keluarga dan masyarakat, status sosial berdasarkan keturunan dan historis.

Manusia melaksanakan perbuatanya untuk memenuhi naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya. Perkumpulan perbuatan-pernuatan tersebut adalah tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bergantung pada pemahaman-pemahaman atau (mafahim) manusia tentang segala sesuatu (asyya’), aktivitas dan kehidupan. Tingkah lakulah yang menunjukkan kepribadian manusia, sedangkan tampan, postur tubuh, warna kulit atau jenis kelamin itu tidak menentukan kepribadian. [4]

Kepribadian adalah metode berfikir manusia terhadap realita. Kepribadian juga merupakan kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap realita. [5]

Kepribadian yang khas adalah kepribadian dimana pola pikir dan pola jiwa pemiliknya terdiri dari satu jenis. Lalu kecenderungan nya tunduk kepa dan kecenderungannya, maksudnya pola jiwa nya tunduk pada pola pikirnya. Ia cenderung pada segala sesuatu (benda) dan perbuatan sesuai dengan pemahaman-pemahamannya dalam memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan mensetandarkan pada standar pemikiran dasar (ideologi). [6]

Kepribadian yang khas ini tidak terwujud kecuali dengan kepribadian yang berideologi (mabda’iyah) seperti kepribadian islam, kepribadian kapitalisme, dan kepribadian komunisme karena pola pikir dan pola jiwa setiap kepribadian tersebut standarnya pada pemikiran dan kecenderungan nya yaitu aqidah aqliyah yang memancarkan sistem untuk mengatur semua interaksi manusia inilah yang dinamakan ideologi. [7]

Kepribadian tidak khas adalah pola pikirnya berbeda dengan pola jiwanya, kepribadian yang tidak khas ini tumbuh pada seseorang ketika standar yang membangun pemikirannya berbeda dengan standar yang membangun kecenderungan nya.

Orang-orang yang memilki kepribadian tidak khas, tingkah laku mereka selalu tampak gelisah dan kacau, karena pemikiran mereka adalah bukan kecenderungan mereka.

Kepribadian yang tidak khas terkadang menjadi kepribadian kacau. Memilik kepribadian yang tidak khas ini tidak membuat kaidah-kaidah yang tetap untuk pola pikir dan pola jiwanya. Jadi pemikiran dan kecenderungan nya terhadap segala seseuatu dan perbuatan saling berselisih, kontradiksi, berbeda-beda dan terpengaruh oleh lingkungan dari waktu ke waktu.

Kepribadian tidak khas terkadang stagnan. Orang yang memiliki kepribadian tersebut menjadikan sebuah kaidah atau kaidah-kaidah yang kokoh untuk menghukumi perbuatan dan segala sesuatu (benda-benda) yang terindra olehnya. [8]

  1. B.     Tipe-tipe Kepribadian

Secara garis besarnya pembagian kepribadian manusia ditinjau dari berbagai aspek: [9]

 

  1. Aspek biologis

Aspek biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya bedasarkan aspek biologis ini antaranya:

  1. Hippocrates dan Galenus

Mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan, yaitu:

1)      Tipe choleris

Tipe ini disebabkan cairan empedu kuning yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak emosi: mudah marah mudah tersinggung.

2)      Tipe Melancholis

Tipe ini disebabkan cairan empedu hitam yang dominan dalam tubuh nya. Sifatnya agak tertutup : rendah diri, mudah sedih, sering putus asa.

3)      Tipe Plegmatis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan lendir yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak statis: Lamban, apatis, pasif, pemalas.

4)      Tipe Sanguinis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan darah merah yang dominan. Sifat yang dimilkinya agak aktif, cekatan, periang, mudah bergaul.

  1. Cretchmer

Dalam membagi tipe wataknya Cretchmer mendasarkan pada bentuk tubuh seseorang, yaitu :

1)      Tipe Astenis (Litosome)

Yaitu tipe orang yang memiliki tubuh tinggi, kurus, dada sempit dan lengan kecil.

2)      Tipe Piknis

Yaitu tipe orang yang memiliki bentuh tubuh gemuk bulat. Sifat yang dimilikinya antaralain : Periang, mudah bergaul dan suka humor.

3)      Tipe Atletis

Yaitu Tipe orang yang memiliki bentuk tubuh tubuh atlit tinggi, kekar dan berotot, sifat-sifat yang dimiliki antara lain: mudah menyesuaikan dri, berpendrian teguh dan pemberani.

4)      Tipe Displastis

Yaitu Tipe manusia yang memiliki bentuk tubuh campuran. Sifat yang dimiliki tipe ini adalah sifat yang mudah terombang ambing oleh situasi sekelilingnya. Oleh karena itu di istilahkan Cretchmer tpe ini adalah tipe orang yang tidak mempunyai ciri kepribadian yang mantab.

  1. Sheldon

Sheldon membagi tipe kepribadian berdasarkan dominasi lapisan yang berada dalam tubuh seseorang. Berdasar aspek ini ia membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Ektomorph, yaitu tipe orang yang berbadan kurus tinggi, karena lapisan badan bagian luar yang dominan. Sifatnya antara lain suka menyendiri dan kurang bergaul pada masyarakat.

2)      Tipe Mesomorph, yaitu tipe orang yang berbadan sedang dikarenakan lapisan tengah yang dominan. Sifat orang tipe ini adalah: giat bekerja dan mampu mengatasi sifat agresif.

3)      Tipe Endomorph, yaitu tipe orang yang berbadan gemuk, bulat dan anggota badan yang pendek, karena lapisan dalam tubuhnya yang dominan. Sifat tipe orang ini adalah: kurang cerdas, senang makan, suka dengan kemudahan yang tidak banyak membawa resiko dalam kehidupan.

  1. Aspek Sosiologis

Pembagian ini didasarkan pada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologi ini antara lain:

  1. Edward Spranger.

Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi:

1)        Tipe Teoritis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada masalah teori dan nilai-nilai: ingin tahu, meneliti dan mengemukakan pendapat.

2)        Tipe Ekonomis, Orang yang perhatianya tertuju kepada manfaat segala sesuatu berdasarkan faidah yang dapat mendatangkan untung rugi

3)        Tipe Esthetis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada masalah-masalah keindahan.

4)        Tipe Sosial, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada kepentingan masyarakat dan pergaulan.

5)        Tipe Politis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada kepentingan kekuasaan, kepentingan dan Organisasi.

6)        Tipe Religius, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada ketaatan pada agama. Senang dengan masalah-masalah ketuhanan dan keyakinan agama.

  1. Murray

Murray membagi tipe kepribadian:

1)      Tipe Teoritis, yaitu orang yang menyenangi ilmu pengetahuan, berpikir logis dan rasional.

2)      Tipe Humanis, yaitu tipe orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang mendalam.

3)      Tipe Sensasionis, yaitu tipe orang yang suka sensasi, berkenalan.

4)      Tipe Praktis yaitu tipe orang yang giat bekerja dan mengadakan praktek.

 

  1. Fritz kunkel

Fritz kunkel membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Sachelichkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat.

2)      Tipe Ichhaftigkeit, yaitu tipe orang yang menaruh perhatianya kepada kepentinganya sendiri.

Menurut Fritz kunkel antara Tipe Sachelichkeit dan Tipe Ichhaftigkeit berbanding terbalik. Jika seseorang memiliki Sachelichkeit yang besar maka, Ichhaftigkeit menjadi kecil dan sebaliknya.

  1. Aspek Psikologis
  2. Dalam membagi tipe kepribadian berdasarkan tipe psikologis Prof. Heymann mengemukakan, bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur: emosionalitas, aktifitas dan fungsi sekunder (proses pengiring)

1)   Emosionalitas, merupakan unsur yang mempunyai sifat yang di dominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah: kurang respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, ingin menguasai, bercita-cita yang dinamis, pemurung suka berlebih-lebihan.

2)   Aktifitas, sifat yang dikuasai oleh aktifitas gerakan, sifat umum yang tampak adalah: lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang, dan selalu melindungi orang lemah.

3)   Fungsi sekunder (proses pengiring), yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak: watak tertutup, tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya.

 

  1. C.    HUBUNGAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
    1. Struktur kepribadian Sigmound freud

Merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memilki jiwa sehat ketiga sistem itu bekerja dalam susunan yang harmonis. Segala bentuk tujaun dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan dirinya dan lingkingannya. Dengan kala lain efisiensinya menjadi berkurang.

a. Id (das es)

Sebagai suatu sistem Id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah. Dengan kata lain Id mengemban prinsip kesenangan (Pleasure Principle), yang tujuanya untuk membebaskan manusia dari ketegangan dorongan naluri dasar: makamn, minum, seks dll.

  1. Ego (das es)

Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan Id ke keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang di emban oleh ego sebagai prinsip kenyataan (objektive atau reality principle). Segala bentuk dorongan naluri dasar dari Id hany dapat direalisasi dalam bentuk nyata melalui bantuan ego. Ego juga mengandung prinsip kesadaran

  1. Super Ego (das Uber ich)

Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur mural dan keadilan. Maka sebagian besar Super Ego mewakili alam ideal. Tujuan Super Ego adalah membawa individu kearah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral. Ia merupakan kode modal seseorang dan berfungsi pula sebagai pengawas tindakan yang dilakukan oleh ego. Jika tindakan itu sesuai dengan pertimbangna moral dan keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang. Sebaliknya jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa rasa gelisah dan cemas. Super Ego mempunyai dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani.

 

 

 

  1. 2.      H.J Eysenck

Menurut Eysenck kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari yang paling bawah ke yang paling tinggi adalah:

a)      Specifik response, yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu, jadi khusus sekali.

b)   Habitual response, mempunyai corak yang lebih umum dari pada Specifik response, yaitu respon-respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.

c)    Trait, yaitu terjadi saat Habitual response yang saling berhubungan satu sama lain dan cenderung ada pada individu tertentu.

d)   Tipe, yaitu organisasi dalam individu yang lebih umum, lebih mencakup lagi.

 

  1. 3.      Sukamto M.M

Menurut pendapat Sukamto M.M kepribadian terdiri dari empat sistem atau aspek:

  1. Qalb (Angan-angan kehatian).
  2. Fuad (Perasaan/hati nurani/ulu hati).
  3. Ego (Aku sebagai pelaksana dari kepribadian).
  4. Tingkah laku (Wujud gerakan)

Meskipun keempat aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun keempatnya berhubungan dengan erat dan tidak dapat dipisahkan.

a)      Qalb

Adalah hati yang menurut istilah kata atau terminologis adalah sesuatu yang berbolak balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata Qolaba, artinya membolak-balikan. Qalb bisa diartikan hati sebagai hati sekepal(biologis), dan juga bisa bersrti’ kehatian’ (nafsiologis). Ada sebuah hadist nabi riwayat bukhari muslim berbunyi sebagai berikut: “ ketehuilah bahwa didalam tubuh ada sekepal daging. Kalau itu baik, baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak- rusak lah seluruh tubuh. Itulah qalb”

Secara nafsiologis qalb disini dapat diartikan sebagai radar kehidupan dilaksanakan. Qalb adalah reservoir energi nafsiah yang menggerakkan ego dan fuad. Dilihat dari beberapa segi, ada kecenderungan bahwa teori freud tentang Id mirip dengan karakter hati yang tidak berisi iman, yaitu qalb yang selalu menuntut kepuasan dan menganut prinsip kesenangna (pleasure principle). Ia menghendaki agar segala sesuatu segera dipenuhi atau dilaksanakan. Kalau satu segi sudah terpenuhi, ia menuntut lagi yang lain, dan begitu seterusnya. Ia menjadi anak manja dari kepribadian.

 

b)      Fuad

Fuad adalah perasaan yang terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati) dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati dan merasakan akibatnya, kalau hati kufur, Fuad pun kufur dan menderita. Kalau hati bergejolak karena terancam oleh bahaya atau hati tersentuh oeh siksaan batin, fuad terasa seperti terbakar. Kalau hati tenang, Fuad pun tentram dan senang. Satu segi kelebihan fuad dibanding dengan hati ialah, bahwa fuad itu dalam situasi yang bagaimanapun, tidak bisa dusta. Ia tidak bisa menghianati kesaksian terhadap yang dipantulkan oleh hati dan apayang diperbuat oleh ego. Ia berbicara apa adanya. Berbagai rasa yang dialami oleh fuad ditutukan dalam al-quran sebagai berikut:

1)      Fuad bisa bergoncang gelisah (Qs al-Qashas: 10)

Dan fuad ibu musa menjadi bingung (kosong) Hampir saja ia membukakan rahasia (Musa), Jika aku tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia menjadi: orang yang beriman.

2)      Dengan diwahyukannya al-quran kepada Nabi, fuad Nabi menjadi teguh (QS al-furqan: 32)

Dan orang-orang kafir bertanya: “ mengapa al-quran tidak diturunkan kepadanya dengan sekaligus”? Demikianlah, karena dengan (cara) itu, Aku hendak meneguhkan fuadmu, dan aku bacakan itu dengan tertib (sebaik-baiknya)

3)      Fuad tidak bisa berdusta (QS Anm Najm: 11):

Fuad tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.

4)      Orang yang zalim hatinya kosong (bingung). (QS Ibrahim:43):

Dengan terburu-buru sambil menundukkan kepala, mereka tidak berkedip, tetapi fuadnya kosong (bingung)

5)      Orang musrik, fuad dan pandanganya dibolak-balikan atau diguncang (QS al-an’am: 110):

Aku goncangkan fuad dan pandangan mereka (kaum musrikin), sebagaimana jejak semula mereka tidak mau beriman, dan aku biarkan mereka dalam kedurhakaanya mengembara tanpa arah tertentu.

c)      Ego

Aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Ego atau aku bisa dipandang sebagai eksekutif kepribadian, mengntrol cara-cara yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan, memilih objek-objek yang bisa memenuhi kebutuhan, mempersatukan pertentangan-pertenangan antara qalb dengan fuad dengan dunia luar. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang objek (dunia realitas). Didalam fungsinya, Ego berpegang pada prinsip kenyataan atau realiti principle. Tujuan prinsip kenyataan ini adalah mencari objek yang tepat (serasi), Untuk mereduksikan keteganganya yang timbul dalam organisme. Ia merumuskan suatu rencana pemuasan kebutuhan dan mengujinya (biasanya dengan tindakan). Untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil atau tidak.

d)     Tingkah laku

Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersifat objektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang di sadari oleh pribadi. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan, adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya.

Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal soleh disegala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal yaitu, sifat-sifat dholim, fasik, syirik, kufur, nifak, dan sejenis itu. [10]

 

  1. D.    DINAMIKA KEPRIBADIAN

Selain tipe dan struktur kepribadan juga memiliki dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktifitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:

  1. Energi rohaniyah (psychis energy) yang berfungsi sebagai pengatur aktifitas rohaniyah seperti berfikir, mengingat, mengamati dan sebagainya.
  2. Naluri yang berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan, minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniyah dan gerak hati. Berbeda dengan energi rohaniyah, maka naluri mempunyai sumber (pendorong), maksud dan tujuan.
  3. Ego (aku sadar) yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri drngan cara melakukan aktifitas penyesuain dorongan-dorongan yang ada dengan kenyaaan obyektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisaahan atau ketegangan batin.
  4. Super ego yang berfungsi sebagai ganjaran batin baik berupa penghargaan (rasa puas, senang dan berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa dan menyesal). Penghargaan batin diperankan oleh ego-ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani. [11]

Pemenuhan dorongan pertama akan menyebabkan terjadi kegelisahan pada ego, sedangkan pemenuhan dorongan kedua akan menjadikan ego tentram. Dengan demikian, kemampuan ego untuk mempertahankan diri tergantung dari pembentukan ego-ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan kaitanya agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan moral dan ahlak ini adalah upaya membekali ego-ideal dengan nilai-nilai luhur.

Dalam konteks ini terlihat bagaimana pentingya pendidikan agama diberikan kepada anak-anak dalam usia dini dalam upaya mengisi nilai-nilai agama agar karakternya terbentuk, oleh pengaruh nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai agama ini kemudian akan memperkuat ego-ideal yang sekaligus akan berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin. Jika kondisi ego-ideal ini berperan secara dominan dalam diri seseorang, maka ego akan senantiasa terpelihara dari pengaruh dorongan naluri yang menyalahi norma dan agama.  [12]

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

Dalam kaitanya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketenteraman dalam batinya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhanya yang bertentangan dengan realita yang ada. Misalnya dorongan untuk makan ingin dipenuhi, tetapi makanan tidak ada (realita) maka timbul dorongan untuk mencuri. Jika perbuatan itu dilaksanakan, maka  ego (aku sadar), akan merasa bersalah karena mendapat hukuman dari ego ideal ( norma yang terbentuk dalam batin baik oleh norma masyarakat maupun agama). Sebaliknya jika dorongan untuk mencuri tidak dilaksanakan, maka ego akan memperoleh penghargaan dari hati nurani.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:1996), PT. RajaGrafindo Persada.

Purwanto, Yadi, Psikologi Kepribadian, (Bandung: 2007), PT. Refika Aditama.

 

 


[1] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:1996), PT. RajaGrafindo Persada. H. 149

 

[2] Jalaludin, Ibid. H. 150-151

 

[3] Jalaludin, Ibid. H. 151

 

[4] Yadi Purwanto, Psikologi Kepribadian, (Bandung: 2007), PT. Refika Aditama. H. 253-254

[5] Ibid. H.254

[6]Ibid. H. 263-264

[7] Ibid. H. 271

 

[8] Yadi Purwanto,Ibid. H. 273-274

[9] Jalaludin, Loc. Cit. H. 153-160

[10] Jalaludin, Ibid. H. 160-165

[11] Jalaludin, Ibid. H. 166

[12] Jalaludin, Ibid. H. 167-168

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.