Makalah Hadits Tarbawi: Media Pembelajaran yang Diterpkan Nabi SAW


MEDIA PEMBELAJARAN YANG DITERAPKAN NABI SAW DALAM MELAKUKAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Hadits Tarbawi
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan
Tahun Akademik 2010/2011

Oleh:

1. Kartika Anggun Pratiwi 202 111 0190
2. Kurnia Hidayati 202 111 0206
4. Saikhu 202 111 0216
5. Muhammad Muslimin 202 111 0220
6. Lukman Hakim 202 111 0235

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2011
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “Media Pembelajaran yang Diterapkan Nabi SAW dalam Melakukan Kegiatan Belajar Mengajar” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikantantang media pembelajaran pada masa Rasulullah. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami media pembelajaran pada masa Rasulullah serta mampu membandingkan dengan konteks kekinian. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Kurdi Fadhal, MHI, M.Si selaku dosen pembimbing Hadits Tarbawi dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Hadits Tarbawi. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

Pekalongan, 23 Oktober 2011

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran alat / media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media pengajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Alat / Media merupakan sarana yang membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indera pendengaran dan penglihatan, bahkan adanya alat / media tersebut dapat mempercepat proses pembelajaran murid karena dapat membuat pemahaman murid lebih cepat pula.
Penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Bukan pada masa modern saja, penggunaan media atau alat bantu pembelajaran juga sudah dikenal sejak masa Nabi SAW. Nabi SAW adalah sosok pendidik yang agung bagi umat manusia. Meskipun pendidik pertama-adalah Allah SWT. Nabi Muhammad pada dasarnya mempresentasikan dan mengejawantahkan apa yang diajarkan melalui tindakan, kemudian menerjemahkan tidakannya dalam kata-kata. Sehingga segala “materi” yang diajarkan Muhammad akan segera diterima para sahabatnya karena ucapannya yang diawali dengan contoh tindakan konkret.
Nabi Muhammad adalah sosok pendidik agung bagi umat islam. Meskipun pendidik pertama sebagai mana diyakini umat islam adalah Allah SWT. Praktek pendidikan Rasul penuh dengan muatan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Media Pembelajaran Nabi SAW
Berikut ini adalah contoh hadits tentang media pembelajaran yang digunakan Rasulullah di sela-sela kegiatan belajar mengajar.
1. Membentuk Lingkaran

Terjemah: Nabi bersabada : “Tiada Tuhan selain Allah, kerusakan bagi orang Arab karena keburukan yang mendekati, hari semakin hari terbuka dari bentengnya Ya’juj Ma’juj seperti ini.” (Nabi melingkarkan jarinya) (HR Bukhari)
2. Mengarahkan Jarinya ke Lisan

Terjemah: “Apakah kalian tidak mendengarkan: Sesungguhnya Allah tidak menyiksa disebabkan air mata dan tidak juga sebab susahnya hati, akan tetapi Allah menyiksa dengan ini. (Rasulullah mengarahkan jarinya ke lisan) atau Allah mengasihi. Sesungguhnya mayit itu disiksa sebab tangisan keluarganya. (HR Bukhari)
3. Mengepalkan Tangan

Terjemah: “Orang mukmin terhadap mukmin bagaikan bangunan yang saling mengokohkan. (Rasulullah menyatukan kedua telapak tangannya). (HR Bukhari)
4. Isyarat Tangan

Terjemah: “Mintalah pertolongan dengan tangan kananmu.” (Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya untuk menulis) (HR Tirmidzi)
5. Isyarat Dada

Terjemah: “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kamu dan tidak pula bentuk kamu, akan tetapi Allah melihat hati kamu.” (Nabi memberi isyarat dengan menunjuk ke arah dada dengan jarinya) (HR Bukhari)

Dari beberapa hadits di atas dapat kita ambil nilai-nilai pembelajaran yang di berikan Nabi. Apa yang di ajarkan Nabi merupakan persoalan yang berkaitan dengan materi pendidikan, dan menjadi karakteristik selanjutnya dengan pendidikan Nabi. Pendidikan Akhlak merupakan sisi lain dari pendidikan Nabi yang menjadi jiwa dari pendidikan Muslim.
Usaha Nabi dalam menanamkan akidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya yaitu dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh / teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” barangkali dapat diidentifikasikan dengan “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya.

B. Media Pembelajaran dalam Konteks Kekinian
Kata media sebenarnya berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Kalau kita lihat perkembangan media, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru.
Jenis Alat / Media
Para ahli mengklasifikasikan alat / media kepada dua bagian, yaitu alat yang bersifat benda (materiil) dan yang bukan benda.
1. Alat yang bersifat benda
Pertama, media tulis, seperti Al-Qur’an, Hadis, Tauhid, Fiqih, Sejarah. Kedua, benda-benda alam seperti hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Ketiga, gambar-gambar yang dirancang seperti grafik. Keempat, gambar yang diproyeksikan, seperti video, transparan. Kelima, audio recording (alat untuk didengar), seperti kaset, tape, radio, dan lain-lain.
2. Alat yang bersifat bukan benda
Di antara alat / media pengajaran yang bukan berupa benda adalah :
(1). Keteladanan
(2). Perintah / Larangan
(3). Ganjaran dan Hukuman.
Dengan melihat manfaat alat / media tersebut di atas, maka akan memberikan pengaruh terhadap peserta didik yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, dan juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi. Sehingga besar kemungkinan dengan memperhatikan alat / media pengajaran itu, tujuan pendidikan akan tercapai secara efektif dan efisien.

C. Manfaat media pembelajaran
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.

C. Nilai Tarbawi
Dari berbagai penjelasan di atas. Dapat dilihat bahwa Nabi SAW merupakan seorang guru yang teladan. Sebagai seorang guru, Nabi Muhammad SAW, tidak hanya berorientasi kepada kecakapan-kecakapan ranah cipta saja, tetapi juga mencakup dimensi ranah rasa dan karsa. Sebagai contoh menggunakan media-media dalam pengajaran agar peserta didiknya menjadi jelas menyerap apa yang diajarkan.
Sebagai seorang pendidik, media pembelajaran perlu digunakan supaya memberikan pengaruh terhadap peserta didik yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, dan juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi.

BAB III
KESIMPULAN

Usaha Nabi dalam menanamkan akidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya yaitu dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh / teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” barangkali dapat diidentifikasikan dengan “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya.
Media pembelajaran bisa berupa alat yang bersifat bukan benda dan alat yang bersifat benda. Manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiani Mustikasari, Mengenal Media Pembelajaran, (http://edu-articles.com/mengenal-media-pembelajaran/2011/10/25, diakses 25 Oktober 2011)

Kitab Sunan Al Tirmidzi.
Kitab Sahih Bukhari.
Kitab Sahih Muslim.

Mahmud, Media Pembelajaran PAI, ( http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/10/media-pembelajaran-pai.html/2011/10/24, diakses 24 Oktober 2011)

Sadiman. Arief S, Raharjo, R. dkk. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Untung,Moh. Slamet. 2007. Menulusuri Metode Pendidikan Ala Raulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

.

Makalah: Kepribadian dan Sikap Keagamaan


KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Psikologi Agama

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Ani Maftuchah            2021110201

Mubarokah                  2021110202

Afik Fatkhurrahman   2021110203

Ely Maghfiroh             2021110204

Indah Rediana                        2021110205

Kurnia Hidayati          2021110206

 

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

Kepribadian dalam khasanah peradaban dan pemkiran Islam telah mendapatkan posisi yang penting meski tidak pernah disebut teori. Konsep-konsep kepribadian tersebut semuanya berbahan buku yang sama, yaitu dua raja dalil ( Al-Qur’an dan Al-Hadits). Penafsiran keduanya menjadi karya-karya tulis yang luar biasa. Memang tidak mudah untuk menyusun teori alternatif bagi teori kepribadian. Belajar dari teori-teori kepribadian yang ditawarkam psikologi kontemporer.

Sebenarnay tidak pantas untuk menyandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW dengan kata-kata keilmuan psikologi, terutama psikologi barat. Tetapi selama ilmu itu bersifat eksakta dan sains murni maka ia merupakan bagian dari sunatullah yang boleh di sadur sebagai khasanah kekayaan intelektual.


BAB II

KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN

 

  1. Pengertian dan Teori Kepribadian

Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah:

  1. Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Pengertian secara definitif yang dikemukakan dalam Oxford Dictionary:

Mentality   = Intellectual Power.

= Integrated activity of the organism.

  1. Personality, menurut Wibters Dictionary adalah:
    1. a.      The totality of personality’s characteristic.
    2. An integrated group of constitution of trends behavior tendencies act.
    3. Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya.
    4. 4.      Identity, yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance of personality).[1]

 

Selanjutnya berdasarkan pengertian dari kata-kata tersebut, beberapa ahli mengemukakan definisinya sebagai berikut: [2]

1)      Allport

Dengan mengecualikan beberapa sifat kepribadian dapat dibatasi sebagai cara bereaksi yang khas dari seseorang individu terhadap perangsang sosial dan kualitas penyesuaian diri yang dilakukannya terhadap segi sosial dari lingkungannya.

2)      Mark A. May

Apa yang memungkinkan seseorang berbuat efektif atau memungkinkan seseorang mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Dengan kata lain kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang.

3)      Woodwort

Kualitas dari tingkah laku seseorang.

4)      Morisson

Keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang individu dengan jalan menampilkan hasil-hasil kultural dari evolusi sosial.

5)      Hartmann

Susunan yang terintegritaskan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas yang diperlihatkannya kepada orang lain.

6)      L.P Thorp

Sinonim dengan pikiran tentang berfungsinya seluruh individu-individu secara organisme yang meliputi seluruh aspek yang secara verbal terpisah-pisah seperti: Intelek, watak , motif dan emosi, minat, kesediaan untuk bergaul dengan orang lain (sosialias) dan kesan individu yang ditimbulkanya pada orang lain serta efektivitas sosial pada umumnya.

7)      C.H Judd:

Hasil lengkap serta merupakan suatu keseluruhan dari proses perkembangan yang telah dilalui individu.

8)      Wetherington

Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas wetheringthon menyimpulkan, bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
  2. Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu.
  3. Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pkiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.
  4. Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang.
  5. Kepribadian tidak berkembang secara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial.

Selanjutnya dari sudut filsafat dikemukakan pendapat: [3]

  1. William Stern

Menurut W.Stern kepribadian adalah suatu kesatuan banyak (Unita multi compleks) yang diarah kan kepada tujuan-tujuan terentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri.

Dalam uraian selanjutnya ia mengemukakan ciri-ciri kepribadian:

  1. Kesatuan banyak: Mengandung unsur-unsur yang banyak dan tersusun secara hierarki dari unsur yang berfungsi tinggi ke unsur yang rendah.
  2. Bertujuan: mempunyai tujuanyang erdiri dari mempertahankan diri dan mengembangkan diri.
  3. Individualitas: Merdeka untuk menentukan dirinya sendiri dan kesadaran tidak termasuk ke dalamnya.

Berdasarkan pendapat ini W.Stern menganggap bahwa Tuhan juga termasuk suatu pribadi, karena Tuhan menurutnya mempunyai tujuan dalam diri Nya dan tidak ada tujuan lain di atas Nya.

  1. Prof. Kohnstamm

Ia menentang pendapat W.Stern yang meniadakan kesadaran dalam pribadi terutama pada Tuhan. Menurut Kohnstamm Tuhan merupakan pribadi yang menguasai alam semesta. Dengan kata lain kepribadian sama artinya dengan teistis (Keyakinan). Orang yang berkepribadian menurutnya adalah orang yang berkeyakinan ke-Tuhanan.

Selanjutnya dari pendapat yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pribadi seseorang terkumpul beberapa aspek yang terintegrasikan, berupa:

 

  1. Keyakinan hidup yang dimiliki seseorang: Filsafat, keyakinan, cita-cita, sikap dan era hidupnya.
  2. Keyakinan mengenai diri: perawakan jasmani, sifat psikis, intelegensi, emosi, kemauan, pandangan terhadap orang lain, kemampuan bergaul, kemampuan memimpin, dan kemampuan bersatu.
  3. Keyakinan mengenai kemampuan diri: status diri dalam keluarga dan masyarakat, status sosial berdasarkan keturunan dan historis.

Manusia melaksanakan perbuatanya untuk memenuhi naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya. Perkumpulan perbuatan-pernuatan tersebut adalah tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bergantung pada pemahaman-pemahaman atau (mafahim) manusia tentang segala sesuatu (asyya’), aktivitas dan kehidupan. Tingkah lakulah yang menunjukkan kepribadian manusia, sedangkan tampan, postur tubuh, warna kulit atau jenis kelamin itu tidak menentukan kepribadian. [4]

Kepribadian adalah metode berfikir manusia terhadap realita. Kepribadian juga merupakan kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap realita. [5]

Kepribadian yang khas adalah kepribadian dimana pola pikir dan pola jiwa pemiliknya terdiri dari satu jenis. Lalu kecenderungan nya tunduk kepa dan kecenderungannya, maksudnya pola jiwa nya tunduk pada pola pikirnya. Ia cenderung pada segala sesuatu (benda) dan perbuatan sesuai dengan pemahaman-pemahamannya dalam memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan mensetandarkan pada standar pemikiran dasar (ideologi). [6]

Kepribadian yang khas ini tidak terwujud kecuali dengan kepribadian yang berideologi (mabda’iyah) seperti kepribadian islam, kepribadian kapitalisme, dan kepribadian komunisme karena pola pikir dan pola jiwa setiap kepribadian tersebut standarnya pada pemikiran dan kecenderungan nya yaitu aqidah aqliyah yang memancarkan sistem untuk mengatur semua interaksi manusia inilah yang dinamakan ideologi. [7]

Kepribadian tidak khas adalah pola pikirnya berbeda dengan pola jiwanya, kepribadian yang tidak khas ini tumbuh pada seseorang ketika standar yang membangun pemikirannya berbeda dengan standar yang membangun kecenderungan nya.

Orang-orang yang memilki kepribadian tidak khas, tingkah laku mereka selalu tampak gelisah dan kacau, karena pemikiran mereka adalah bukan kecenderungan mereka.

Kepribadian yang tidak khas terkadang menjadi kepribadian kacau. Memilik kepribadian yang tidak khas ini tidak membuat kaidah-kaidah yang tetap untuk pola pikir dan pola jiwanya. Jadi pemikiran dan kecenderungan nya terhadap segala seseuatu dan perbuatan saling berselisih, kontradiksi, berbeda-beda dan terpengaruh oleh lingkungan dari waktu ke waktu.

Kepribadian tidak khas terkadang stagnan. Orang yang memiliki kepribadian tersebut menjadikan sebuah kaidah atau kaidah-kaidah yang kokoh untuk menghukumi perbuatan dan segala sesuatu (benda-benda) yang terindra olehnya. [8]

  1. B.     Tipe-tipe Kepribadian

Secara garis besarnya pembagian kepribadian manusia ditinjau dari berbagai aspek: [9]

 

  1. Aspek biologis

Aspek biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya bedasarkan aspek biologis ini antaranya:

  1. Hippocrates dan Galenus

Mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan, yaitu:

1)      Tipe choleris

Tipe ini disebabkan cairan empedu kuning yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak emosi: mudah marah mudah tersinggung.

2)      Tipe Melancholis

Tipe ini disebabkan cairan empedu hitam yang dominan dalam tubuh nya. Sifatnya agak tertutup : rendah diri, mudah sedih, sering putus asa.

3)      Tipe Plegmatis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan lendir yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak statis: Lamban, apatis, pasif, pemalas.

4)      Tipe Sanguinis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan darah merah yang dominan. Sifat yang dimilkinya agak aktif, cekatan, periang, mudah bergaul.

  1. Cretchmer

Dalam membagi tipe wataknya Cretchmer mendasarkan pada bentuk tubuh seseorang, yaitu :

1)      Tipe Astenis (Litosome)

Yaitu tipe orang yang memiliki tubuh tinggi, kurus, dada sempit dan lengan kecil.

2)      Tipe Piknis

Yaitu tipe orang yang memiliki bentuh tubuh gemuk bulat. Sifat yang dimilikinya antaralain : Periang, mudah bergaul dan suka humor.

3)      Tipe Atletis

Yaitu Tipe orang yang memiliki bentuk tubuh tubuh atlit tinggi, kekar dan berotot, sifat-sifat yang dimiliki antara lain: mudah menyesuaikan dri, berpendrian teguh dan pemberani.

4)      Tipe Displastis

Yaitu Tipe manusia yang memiliki bentuk tubuh campuran. Sifat yang dimiliki tipe ini adalah sifat yang mudah terombang ambing oleh situasi sekelilingnya. Oleh karena itu di istilahkan Cretchmer tpe ini adalah tipe orang yang tidak mempunyai ciri kepribadian yang mantab.

  1. Sheldon

Sheldon membagi tipe kepribadian berdasarkan dominasi lapisan yang berada dalam tubuh seseorang. Berdasar aspek ini ia membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Ektomorph, yaitu tipe orang yang berbadan kurus tinggi, karena lapisan badan bagian luar yang dominan. Sifatnya antara lain suka menyendiri dan kurang bergaul pada masyarakat.

2)      Tipe Mesomorph, yaitu tipe orang yang berbadan sedang dikarenakan lapisan tengah yang dominan. Sifat orang tipe ini adalah: giat bekerja dan mampu mengatasi sifat agresif.

3)      Tipe Endomorph, yaitu tipe orang yang berbadan gemuk, bulat dan anggota badan yang pendek, karena lapisan dalam tubuhnya yang dominan. Sifat tipe orang ini adalah: kurang cerdas, senang makan, suka dengan kemudahan yang tidak banyak membawa resiko dalam kehidupan.

  1. Aspek Sosiologis

Pembagian ini didasarkan pada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologi ini antara lain:

  1. Edward Spranger.

Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi:

1)        Tipe Teoritis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada masalah teori dan nilai-nilai: ingin tahu, meneliti dan mengemukakan pendapat.

2)        Tipe Ekonomis, Orang yang perhatianya tertuju kepada manfaat segala sesuatu berdasarkan faidah yang dapat mendatangkan untung rugi

3)        Tipe Esthetis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada masalah-masalah keindahan.

4)        Tipe Sosial, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada kepentingan masyarakat dan pergaulan.

5)        Tipe Politis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada kepentingan kekuasaan, kepentingan dan Organisasi.

6)        Tipe Religius, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada ketaatan pada agama. Senang dengan masalah-masalah ketuhanan dan keyakinan agama.

  1. Murray

Murray membagi tipe kepribadian:

1)      Tipe Teoritis, yaitu orang yang menyenangi ilmu pengetahuan, berpikir logis dan rasional.

2)      Tipe Humanis, yaitu tipe orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang mendalam.

3)      Tipe Sensasionis, yaitu tipe orang yang suka sensasi, berkenalan.

4)      Tipe Praktis yaitu tipe orang yang giat bekerja dan mengadakan praktek.

 

  1. Fritz kunkel

Fritz kunkel membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Sachelichkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat.

2)      Tipe Ichhaftigkeit, yaitu tipe orang yang menaruh perhatianya kepada kepentinganya sendiri.

Menurut Fritz kunkel antara Tipe Sachelichkeit dan Tipe Ichhaftigkeit berbanding terbalik. Jika seseorang memiliki Sachelichkeit yang besar maka, Ichhaftigkeit menjadi kecil dan sebaliknya.

  1. Aspek Psikologis
  2. Dalam membagi tipe kepribadian berdasarkan tipe psikologis Prof. Heymann mengemukakan, bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur: emosionalitas, aktifitas dan fungsi sekunder (proses pengiring)

1)   Emosionalitas, merupakan unsur yang mempunyai sifat yang di dominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah: kurang respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, ingin menguasai, bercita-cita yang dinamis, pemurung suka berlebih-lebihan.

2)   Aktifitas, sifat yang dikuasai oleh aktifitas gerakan, sifat umum yang tampak adalah: lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang, dan selalu melindungi orang lemah.

3)   Fungsi sekunder (proses pengiring), yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak: watak tertutup, tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya.

 

  1. C.    HUBUNGAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
    1. Struktur kepribadian Sigmound freud

Merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memilki jiwa sehat ketiga sistem itu bekerja dalam susunan yang harmonis. Segala bentuk tujaun dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan dirinya dan lingkingannya. Dengan kala lain efisiensinya menjadi berkurang.

a. Id (das es)

Sebagai suatu sistem Id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah. Dengan kata lain Id mengemban prinsip kesenangan (Pleasure Principle), yang tujuanya untuk membebaskan manusia dari ketegangan dorongan naluri dasar: makamn, minum, seks dll.

  1. Ego (das es)

Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan Id ke keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang di emban oleh ego sebagai prinsip kenyataan (objektive atau reality principle). Segala bentuk dorongan naluri dasar dari Id hany dapat direalisasi dalam bentuk nyata melalui bantuan ego. Ego juga mengandung prinsip kesadaran

  1. Super Ego (das Uber ich)

Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur mural dan keadilan. Maka sebagian besar Super Ego mewakili alam ideal. Tujuan Super Ego adalah membawa individu kearah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral. Ia merupakan kode modal seseorang dan berfungsi pula sebagai pengawas tindakan yang dilakukan oleh ego. Jika tindakan itu sesuai dengan pertimbangna moral dan keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang. Sebaliknya jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa rasa gelisah dan cemas. Super Ego mempunyai dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani.

 

 

 

  1. 2.      H.J Eysenck

Menurut Eysenck kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari yang paling bawah ke yang paling tinggi adalah:

a)      Specifik response, yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu, jadi khusus sekali.

b)   Habitual response, mempunyai corak yang lebih umum dari pada Specifik response, yaitu respon-respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.

c)    Trait, yaitu terjadi saat Habitual response yang saling berhubungan satu sama lain dan cenderung ada pada individu tertentu.

d)   Tipe, yaitu organisasi dalam individu yang lebih umum, lebih mencakup lagi.

 

  1. 3.      Sukamto M.M

Menurut pendapat Sukamto M.M kepribadian terdiri dari empat sistem atau aspek:

  1. Qalb (Angan-angan kehatian).
  2. Fuad (Perasaan/hati nurani/ulu hati).
  3. Ego (Aku sebagai pelaksana dari kepribadian).
  4. Tingkah laku (Wujud gerakan)

Meskipun keempat aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun keempatnya berhubungan dengan erat dan tidak dapat dipisahkan.

a)      Qalb

Adalah hati yang menurut istilah kata atau terminologis adalah sesuatu yang berbolak balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata Qolaba, artinya membolak-balikan. Qalb bisa diartikan hati sebagai hati sekepal(biologis), dan juga bisa bersrti’ kehatian’ (nafsiologis). Ada sebuah hadist nabi riwayat bukhari muslim berbunyi sebagai berikut: “ ketehuilah bahwa didalam tubuh ada sekepal daging. Kalau itu baik, baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak- rusak lah seluruh tubuh. Itulah qalb”

Secara nafsiologis qalb disini dapat diartikan sebagai radar kehidupan dilaksanakan. Qalb adalah reservoir energi nafsiah yang menggerakkan ego dan fuad. Dilihat dari beberapa segi, ada kecenderungan bahwa teori freud tentang Id mirip dengan karakter hati yang tidak berisi iman, yaitu qalb yang selalu menuntut kepuasan dan menganut prinsip kesenangna (pleasure principle). Ia menghendaki agar segala sesuatu segera dipenuhi atau dilaksanakan. Kalau satu segi sudah terpenuhi, ia menuntut lagi yang lain, dan begitu seterusnya. Ia menjadi anak manja dari kepribadian.

 

b)      Fuad

Fuad adalah perasaan yang terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati) dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati dan merasakan akibatnya, kalau hati kufur, Fuad pun kufur dan menderita. Kalau hati bergejolak karena terancam oleh bahaya atau hati tersentuh oeh siksaan batin, fuad terasa seperti terbakar. Kalau hati tenang, Fuad pun tentram dan senang. Satu segi kelebihan fuad dibanding dengan hati ialah, bahwa fuad itu dalam situasi yang bagaimanapun, tidak bisa dusta. Ia tidak bisa menghianati kesaksian terhadap yang dipantulkan oleh hati dan apayang diperbuat oleh ego. Ia berbicara apa adanya. Berbagai rasa yang dialami oleh fuad ditutukan dalam al-quran sebagai berikut:

1)      Fuad bisa bergoncang gelisah (Qs al-Qashas: 10)

Dan fuad ibu musa menjadi bingung (kosong) Hampir saja ia membukakan rahasia (Musa), Jika aku tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia menjadi: orang yang beriman.

2)      Dengan diwahyukannya al-quran kepada Nabi, fuad Nabi menjadi teguh (QS al-furqan: 32)

Dan orang-orang kafir bertanya: “ mengapa al-quran tidak diturunkan kepadanya dengan sekaligus”? Demikianlah, karena dengan (cara) itu, Aku hendak meneguhkan fuadmu, dan aku bacakan itu dengan tertib (sebaik-baiknya)

3)      Fuad tidak bisa berdusta (QS Anm Najm: 11):

Fuad tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.

4)      Orang yang zalim hatinya kosong (bingung). (QS Ibrahim:43):

Dengan terburu-buru sambil menundukkan kepala, mereka tidak berkedip, tetapi fuadnya kosong (bingung)

5)      Orang musrik, fuad dan pandanganya dibolak-balikan atau diguncang (QS al-an’am: 110):

Aku goncangkan fuad dan pandangan mereka (kaum musrikin), sebagaimana jejak semula mereka tidak mau beriman, dan aku biarkan mereka dalam kedurhakaanya mengembara tanpa arah tertentu.

c)      Ego

Aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Ego atau aku bisa dipandang sebagai eksekutif kepribadian, mengntrol cara-cara yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan, memilih objek-objek yang bisa memenuhi kebutuhan, mempersatukan pertentangan-pertenangan antara qalb dengan fuad dengan dunia luar. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang objek (dunia realitas). Didalam fungsinya, Ego berpegang pada prinsip kenyataan atau realiti principle. Tujuan prinsip kenyataan ini adalah mencari objek yang tepat (serasi), Untuk mereduksikan keteganganya yang timbul dalam organisme. Ia merumuskan suatu rencana pemuasan kebutuhan dan mengujinya (biasanya dengan tindakan). Untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil atau tidak.

d)     Tingkah laku

Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersifat objektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang di sadari oleh pribadi. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan, adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya.

Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal soleh disegala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal yaitu, sifat-sifat dholim, fasik, syirik, kufur, nifak, dan sejenis itu. [10]

 

  1. D.    DINAMIKA KEPRIBADIAN

Selain tipe dan struktur kepribadan juga memiliki dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktifitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:

  1. Energi rohaniyah (psychis energy) yang berfungsi sebagai pengatur aktifitas rohaniyah seperti berfikir, mengingat, mengamati dan sebagainya.
  2. Naluri yang berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan, minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniyah dan gerak hati. Berbeda dengan energi rohaniyah, maka naluri mempunyai sumber (pendorong), maksud dan tujuan.
  3. Ego (aku sadar) yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri drngan cara melakukan aktifitas penyesuain dorongan-dorongan yang ada dengan kenyaaan obyektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisaahan atau ketegangan batin.
  4. Super ego yang berfungsi sebagai ganjaran batin baik berupa penghargaan (rasa puas, senang dan berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa dan menyesal). Penghargaan batin diperankan oleh ego-ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani. [11]

Pemenuhan dorongan pertama akan menyebabkan terjadi kegelisahan pada ego, sedangkan pemenuhan dorongan kedua akan menjadikan ego tentram. Dengan demikian, kemampuan ego untuk mempertahankan diri tergantung dari pembentukan ego-ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan kaitanya agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan moral dan ahlak ini adalah upaya membekali ego-ideal dengan nilai-nilai luhur.

Dalam konteks ini terlihat bagaimana pentingya pendidikan agama diberikan kepada anak-anak dalam usia dini dalam upaya mengisi nilai-nilai agama agar karakternya terbentuk, oleh pengaruh nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai agama ini kemudian akan memperkuat ego-ideal yang sekaligus akan berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin. Jika kondisi ego-ideal ini berperan secara dominan dalam diri seseorang, maka ego akan senantiasa terpelihara dari pengaruh dorongan naluri yang menyalahi norma dan agama.  [12]

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

Dalam kaitanya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketenteraman dalam batinya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhanya yang bertentangan dengan realita yang ada. Misalnya dorongan untuk makan ingin dipenuhi, tetapi makanan tidak ada (realita) maka timbul dorongan untuk mencuri. Jika perbuatan itu dilaksanakan, maka  ego (aku sadar), akan merasa bersalah karena mendapat hukuman dari ego ideal ( norma yang terbentuk dalam batin baik oleh norma masyarakat maupun agama). Sebaliknya jika dorongan untuk mencuri tidak dilaksanakan, maka ego akan memperoleh penghargaan dari hati nurani.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:1996), PT. RajaGrafindo Persada.

Purwanto, Yadi, Psikologi Kepribadian, (Bandung: 2007), PT. Refika Aditama.

 

 


[1] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:1996), PT. RajaGrafindo Persada. H. 149

 

[2] Jalaludin, Ibid. H. 150-151

 

[3] Jalaludin, Ibid. H. 151

 

[4] Yadi Purwanto, Psikologi Kepribadian, (Bandung: 2007), PT. Refika Aditama. H. 253-254

[5] Ibid. H.254

[6]Ibid. H. 263-264

[7] Ibid. H. 271

 

[8] Yadi Purwanto,Ibid. H. 273-274

[9] Jalaludin, Loc. Cit. H. 153-160

[10] Jalaludin, Ibid. H. 160-165

[11] Jalaludin, Ibid. H. 166

[12] Jalaludin, Ibid. H. 167-168

KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN; PSIKOLOGI AGAMA


KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
  1. Pengertian Kepribadian
Menurut Pervin dan John:
    kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi yang berbeda-beda. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Dibandingkan dengan konsep trait, tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besar daripada trait.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
    * Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga:
          – Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
          – Trait konsisten dari situasi ke situasi
* Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena:
          – ada proses adaptif
          – adanya perbedaan kekuatan, dan
          – kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
  1. Sikap Keagamaan
Sikap keagamaan dalam agama terdiri dari berbagai pengaruh terhadap keyakinan dan perilaku keagamaan, dari pendidikan yang kita terima pada masa kanak-kanak, berbagai pendapat dan sikap orang-orang di sekitar kita, dan berbagai tradisi yang kita terima dari masa lampau. Mungkin kita cendrung menganggap faktor ini kurang penting dalam perkembangan agama kita dibandingkan dengan penelitian para ahli psikologi. Tidak ada seorang pun di antara kita dapat mengembangkan sikap-sikap keagamaan kita dalam keadaan terisolasi dari saudara-saudara kita dalam masyarakat. Sejak masa kanak-kanak hingga masa tua kita menerima dari perilaku orang-orang di sekitar kita dan dari apa yang mereka katakan berpengaruh terhadap sikap-sikap keagamaan kita. Tidak hanya keyakinan-keyakinan kita yang terpengaruh oleh faktor-faktor sosial, pola-pola eksperesi emosianal kita pun, sampai batas terakhir, bisa dibentuk oleh lingkungan sosial kita.
Faktor-faktor sosial juga tampak jelas dalam pembentukan keyakinan keagamaan, tetapi secara prinsip ia tidak melalui penampilan yang berlandasan penalaran sehingga keyakinan-keyakinan seseorang terpegaruh oleh orang lain. Tidak diragukan sama sekali bahwa penalaran memainkan peranan dalam intraksi timbal-balik di antara berbagai sistem keyakinan banyak orang, tetapi peranan jauh lebih kecil dibandingkan dengan proses-proses psikologik lain yang non-rasional. Tidak ada seseorang pun dapat beranggapan banwa cara untuk mengajarkan tentang Tuhan kepada anak kecil adalah dengan mengemukakan argumen rasioanal mengenai adanya Tuhan itu. Pengajaran harus dilakukan lebih dahulu, sedangkan saat bagi argumen-argumen penegasan tentang kebenaran ajaran-ajaran agama yang diberikan oleh orang-orang terhormat (terutama bila penegasannya diulang-ulang dan dengan penuh keyakinan) mungkin berpengaruh yang didasarkan atas penalaran, adalah sugesti. Agar kita dapat memahami faktor sosial dalam agama itu, kita harus menelaah psikologi segesti ini.
Konflik Moral
Ahli psikologi tidak mau membicarakan masalah-masalah filosofik yang berkaitan dengan hakikat kewajiban-kewajiban filosofik yang berkaitan dengan hakikat kewajiban-kewajiban yang disebabkan oleh hukum moral itu. Hukum moral bisa dianggap sebagai sistem tatanan sosial yang dikembangkan oleh suatu masyarakat dan diteruskan kepada generasi-genarasi berikutnya melalui proses pengkondisian sosial. Di pihak lain, ia juga dapat dianggap sebagai sistem kewajiban yang mengikat manusia tanpa mempermasalahkan apakah sistem itu bermanfaat atau tidak dilihat dari sisi sosial.
Sejumlah masyarakat menyatakan bahwa kewajiban-kewajiban ini dikendalikan secara intuitif; sementara masyarakat-masyarakat lainnya berpendapat bahwa kewajiban-kewajiban itu bisa didedukasikan dengan berbagai proses penalaran, dan masyarakat-masyarakat lainnya lagi menganggpa kewajiban-kewajibab itu diwahyukan [oleh Tuhan] secara adikodrati. Apapun jawaban yang bisa diberikan terhadap persoalan-persoalan etik ini, masalah yang penting bagi ahli psikologi adalah bahwa konflik moral itu merupakan fakta psikologik yang benar-benar ada.
Source:

http://krewengcool.blogspot.com/2011/05/kepribadian-dan-sikap-keagamaan.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.