TENGOKLAH KE DALAM JIWA


sendiri-dermaga-3b

Satu pertanyaan besar yang menggantung di kepalamu adalah; untuk apa kamu dilahirkan? Jika memang kehadiranmu diinginkan kamu tak mungkin disia-siakan. Tak akan ada air mata merebak dari sepasang mata. Tak akan ada kepedihan menjejal di dalam dada dan tak ada jurang kekecewaan yang kini memenjarakan kamu di dalamnya.

Ya, dalam jurang itu kamu berada. Terpuruk, asing, dan sendiri. Kamu merasa tak punya siapa-siapa padahal jelas-jelas keramaian itu nyata. Sungguh sepi yang paling menakutkan ialah sepi dalam keramaian. Ada ruang kosong di dalam hati namun kamu tak mengerti apa atau siapa yang mampu mengisi.

Kamu terus memanggul pertanyaan dan segala perasaan hingga saat ini. Tanpa kamu mengerti bahwa sejatinya kamu salah besar jika  hanya mengasihani diri sendiri. Merasa jadi korban keadaan. Merasa tak berguna bahkan sia-sia. Padahal kehidupan adalah nikmat luar biasa. Jika kamu merasa tak dicintai sesama manusia percayalah ada Maha Cinta yang mencintaimu senantiasa.

Dititipkannya waktu dalam ragamu adalah karunia terbesar dalam kehidupan. Jadi masalahnya bukan pada sesuatu di luar dirimu. Masalah itu justru berdiam di dalam dirimu. Tengoklah ke dalam hatimu mungkin ada luka yang belum disembuhkan? Barangkali bukan baru-baru ini tapi jauh bertahun-tahun lalu. Tengoklah, tengoklah ia—luka itu. Sembuhkanlah, berdamailah dengannya. Maafkan dirimu dan masa lalumu. Maka akan kamu temukan kedamaian jiwa untuk menyongsong hari berikutnya.

Batang, 2 April 2019

Sumber foto:

GURU, SANG PEMBELAJAR SEJATI


Aku senang menjadi guru karena menjadi guru membuatku terus belajar. Belajar apa saja. Karena pada sejatinya antara guru dan murid sama-sama belajar. Murid bisa belajar dari materi yang guru berikan, guru belajar dari murid bagaimana cara memahami kemampuan murid. Guru lantas terpacu untu terus mengembangkan dirinya dengan belajar.

Lebih dari seperempat abad usiaku saat ini. Sebagian besar aku habiskan untuk sekolah TK, MI, SMP, SMA, hingga kuliah. Tentu ada banyak pengalaman berjumpa dengan banyak guru. Memang tak bisa dipungkiri bahwa guru menjadi orang terpenting dalam kehidupan muridnya. Aku mengamini kata-kata Pak J Sumardianta bahwa  murid akan dengan mudah melupakan materi yang guru sampaikan. Namun, kesan yang guru berikan di dalam kelas akan terus diingat seumur hidup.

Sebagai contoh, aku bahkan lupa seperti apa rumus matriks ketika kelas X SMA. Tapi aku ingat betul bagaimana cara guru tersebut mengajarku. Caranya berpakaian, berbicara, hingga bersikap. Mungkin hanya satu dua materi sekolah saja yang teringat sampai sekarang. Ingatanku ini sangat terbatas masalah pelajaran tapi sangat ingat dengan perlakuan.

Aku tak tahu apakah semua murid seperti itu. Tapi itulah yang kurasakan selama ini. Bahkan ada guru yang berhasil mengubah muridnya menjadi lebih baik. Tak terbayang betapa besar jasa dan pahala guru tersebut. Murid yang tadinya tak bersemangat mengejar cita-cita lantas menjelma manusia yang bersemangat. Begitu pula sebaliknya, murid yang semula bersemangat kemudian berubah menjadi malas-malasan mungkin juga disebabkan oleh perlakuan guru.

Ketika usiaku 15 tahun, saat itu aku baru mememasuki kelas X SMA. Banyak hal yang membuatku minder. Mulai dari fisikku, kondisi keluargaku, bahkan namaku sendiri. Semuanya terasa kurang dibanding teman sekelasku dan sungguh itu amat menyiksaku. Kuhabiskan hari-hari  di sekolahku dengan perasaan tak nyaman. Canggung. Tak enak mau bergerak rasanya setiap orang akan menertawakan semua kekuranganku.

Sampai pada suatu hari aku berjumpa dengan seorang guru mata pelajaran Sejarah. Beliau menyebutkan nama satu per satu murid di kelasku. Hingga tibalah giliranku. Dengan bersemangat beliau menyebutkan “Kurnia Hidayati,” sedetik kemudian, “artinya karunia dan hidayah. Kelak kamu akan menjadi orang hebat!”

Begitu mendengarnya seketika hatiku gemuruh. Ada perasaan lain di dadaku. Entah bangga, entah bahagia, namun aku jadi merasa bahwa diriku itu berharga. Aku bukan pecundang yang selalu kalah sebelum berperang. Aku punya kesempatan yang sama seperti lainnya. Sukses itu hak setiap manusia termasuk aku!

Bagi guru mungkin kata-kata yang diucapkan terasa biasa. Tak terlalu berarti. Tetapi bagi murid kata-kata seorang guru bisa menjadi sesuatu hal yang teramat berharga. Murid mengingat itu tak sebatas dalam pikiran, namun juga dalam jiwanya. Begitu pula ungkapan negatif, murid juga mengingat itu bahkan masih menyimpan perasaan sakit hati hingga nanti.

Karena itu, aku selalu berusaha mengucapkan sesuatu yang baik untuk muridku. Tentunya aku tak berharap banyak karena sejatinya aku tetaplah manusia biasa yang punya banyak kekurangan.  Aku harus tetap belajar bukan sekadar materi namun juga belajar bagaimana cara memahami setiap jiwa yang kudidik nanti.

 

Batang, 2 April 2019

Menjadi Guru


PNS-14

Pahlawan tanpa tanda jasa begitulah sebutan yang selalu disematkan kepada sosok guru. Guru bukan sebatas orang yang mengajar dan mendidik kita ketika berada di sekolah. Guru bisa juga orang-orang yang memberikan kita ilmu dalam kehidupan. Bisa orang tua, teman, keluarga, bisa pula orang lain yang mungkin kita temui. Tak bergantung umur. Siapa pun orangnya, jika ia memberikan ilmu maka layak kita sebut sebagai guru.

Lantas ke mana arah tulisan ini. Entahlah aku hanya ingin menulis tentang sedikit pengalamanku ketika menjadi guru. Guru secara akademis adalah orang yang  menyelesaikan sarjana pendidikan. Apa pun jurusannya maka ia bisa mengajar di sekolah. Menjadi seorang guru merupakan salah satu cita-cita yang kusebutkan sejak kecil. Selain dokter dan reporter atau malah pemain band?

Awalnya aku tak terlalu ingin menjadi guru.  Jelang kelulusan kelas 12 SMA aku mulai kebingungan mau ke manakah setelah lulus SMA. Kalau mendaftar kuliah sesuai yang kuinginkan biaya dari mana? Aku hanya pasrah kepada Sang Pemberi Keputusan mau dibawa ke manakah hidupku nanti. Memang berlebihan namun begitulah adanya. Pemikiran seorang remaja yang beranjak dewasa. Di tengah riuhnya pendaftaran perguruan tinggi. Di antara teman-teman yang hibuk mendaftar kampus sana-sini.

Aku pun pelan-pelan menjauh. Merasa tersingkir dari keriuhan itu sambil berharap akan adanya keajaiban yang dikirimkan Sang Pencipta, pemilik segala keputusan. Singkat cerita, ibuku membawa kabar bahagia bahwa Pak Dheku berbaik hati mau membiayai kuliahku asalkan dengan satu syarat yaitu aku harus kuliah di Pekalongan. Dengan alasan biayanya tidak terlalu banyak dan bisa dekat dengan orang tua. Pak Dhe dan ibuku sudah memilihkan kampus untukku yaitu STAIN Pekalongan jurusan Tarbiyah alias pendidikan.

Jujur aku pun bimbang. Aku, jadi guru? Tidak salahkah? Bagai kerbau dicucuk hidung aku pun menurut dan mendaftar ke kampus itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan berkuliah di situ. Eh sejatinya tak terbayangkan aku bisa kuliah. Jadi kebimbanganku tergantikan dengan rasa syukur yang besar.

Semester demi semester kulalui dengan lesu. Seperti terpenjara, merasa tidak bebas dan mulai kehilangan jati diri. Persetan dengan passion! Tugasku hanya menyelesaikan kuliah dengan predikat lulus. Mata kuliah pun kuikuti dengan sebaik-baiknya. Kalau ada tugas aku kerjakan dengan sungguh-sungguh tapi semuanya terasa hambar. IPK yang tinggi pun tak membuatku bangga, semua terasa biasa saja. Ibarat raga yang berdiri tanpa nyawa begitulah gambaran kehidupanku masa perkuliahan. Ada nilai tinggi tapi minus kebahagiaan.

Hal itu berjalan sampai aku masuk ke semester enam. Tiga tahun terlunta dalam kehambaran rasa. Semangat tak ada hanya ada rasa ingin lulus secepat cepatnya. Kupikir dengan menyelesaikannya aku bisa lebih bahagia. Namun, pemikiran tersebut akhirnya berganti. Berbalik 180 derajat. Semenjak aku berjumpa dengan seorang dosen di salah satu mata kuliah. Tak akan kusebut nama dosen ini agar tidak terkesan mengkerdilkan dosen lain. Namun, secara pribadi aku sudah berterima kasih dengan beliau.

Alhamdulillah atas izin Allah, kata-kata beliau saat mengajar benar-benar membuka pemikiranku. Salah satunya aku mulai mencari letak potensi diri di bidang apakah aku ini? Aku senang dengan hal-hal berbau kreatif seperti merangkai sesuatu menjadi kerajinan, menulis, dan membaca.  Aku bergabung Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di sanalah aku menemukan sebagian kebahagiaan. Aku bisa mengekspresikan segala ide melalui tulisan. Namun, aku kembali tersadar jangan-jangan aku salah jurusan.

Pertanyaan itu pun terbawa hingga semester berganti dan mulai memasuki mata kuliah micro teaching. Aku harus menampilkan bagaimana caraku mengajar kelak di hadapan dosen dan teman-teman selama 10 menit. Sekitar seminggu diberi persiapan aku bingung bagaimana cara mengajar yang baik.  Kuputuskan untuk mengajar dengan caraku sendiri. Tanpa kehilangan jati diri.

Aku suka membuat kerajinan atau keterampilan tangan. Kusulap kertas asturo menjadi suatu permainan. Di situ saya menuliskan materi yang akan dicocokkan dengan materi lain. Lalu kertas tersebut dilubangi dan diisi dengan tali. Tali itulah yang berfungsi untuk menyocokkan satu materi dengan materi lainnya.

Keesokan harinya waktunya eksekusi. Tak disangka aku mendapatkan nilai memuaskan. Meskipun Cuma 10 menit mengajar ternyata cukup menyadarkanku bahwa menjadi guru tidak akan menghalangi kita untuk menyalurkan bakat-bakat lainnya. Guru harus serba bisa karena kita kelak menghadapi murid-murid yang bermacam-macam. Menjadi guru menyenangkan.

Batang, 1 April 2019

Sumber gambar:

Semenjak Menjadi Ibu


Banyak yang bertanya padaku. Kenapa puisi-puisiku kini tak terdengar gaungnya lagi? Hampir semua pembaca tulisanku menanyakan hal yang sama. Aku hanya tersenyum menjawabnya. Memang tak bisa dimungkiri bahwa kehadiran sang buah hati ke dunia telah mengubah segalanya. Bukan Cuma sekadar status tapi juga mengubah banyak hal yang biasa rutin dikerjakan. Contohnya menulis.

Aku terbiasa menulis malam hari sebelum tidur. Atau pagi hari setelah solat subuh. Menurutku, dua waktu itu adalah waktu yang sangat pas untuk mengembangkan ide dalam pikiran, sekaligus menguras habis ‘sampah-sampah’ yang menumpuk di dalam otak. Pun saat mengkuti lomba, aku adalah hantu deadline. Biasanya aku menulis beberapa jam sebelum lomba ditutup. Nekat banget, kan?!

Kalo sekarang. Duh kalau hari itu deadline, ya, artinya ucapkan goodbye sama lomba itu. Alias kesempatan terlewat begitu saja. Padahal banyaaak sekali event lomba yang keren. Bukan Cuma hadiahnya tapi juga penyelenggaranya. Tapi, ya sudah lah. Mungkin belum rezeki.

Dari situlah aku banyak merenung. Dulu sebelum aku menikah dan punya anak aku adalah orang yang sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas atau seminar. Sampai-sampai aku pernah membikin sebuah status guyon begini, “Uripku kakehan komunitas.” Yang artinya hidupku kebanyakan komunitas. Karena jujur aku senang berteman dan berkumpul dengan orang-orang yang punya semangat positif tinggi. Meskipun aku jauh dari itu, tapi kuharap aku bisa tertular semangat mereka.

Berbagai komunitas aku ikuti, bahkan wa-ku penuh dengan grup komunitas. Tiap hari ada saja yang dibahas dan sebagian besar sangat bermanfaat. Aku pun aktif ikut kegiatan mereka. Ke sana ke sini. Senang rasanya bertemu orang-orang baru yang positif dan hebat. Lalu mengikuti berbagai event perlombaan, menulis di berbagai antologi dan Koran, serta aktif dalam grup kepenulisan di media social.

Sekarang. Ada yang harus kuprioritaskan dibandingkan keinginan pribadi. Yaitu keluarga dan buah hati. Betapa bahagianya menikmati setiap momen di dekatnya. Dia yang kecil yang belum kuat tenaganya, yang selalu memusatkan seluruh dunianya kepadaku, orangtuanya. Bebeda dengan aku yang punya banyak dunia di luar sana. Dunianya hanyalah orang tuanya. Dia butuh kehadiran dan perhatianku, bukan Cuma kepintaran dan keaktifanku.

Ya, menjadi ibu butuh banyak sekali pengorbanan. Semenjak menjadi ibu aku selalu diingatkan betapa beratnya perjuangan ibuku dulu membesarkanku. Ibu tinggalkan semua yang menjadi cita-cita dan impiannya. Ibu korbankan seluruh nyawa dan napasnya untuk anak-anaknya. Aku menulis ini sambil merasakan ada bulir bening yang menggantung di pelupuk mata. Pandanganku seketika lamur melihat tuts-tuts keyboard. Terbayang sosok wanita tua di seberang sana. Wanita yang melahirkanku dulu.

Ibu yang dulunya muda dan sangat cantik. Ibu yang cerdas dan aktif. Ia tinggalkan semua hal yang disenanginya, semua hal yang mungkin paling dibanggakannya di masa muda. Tak terhitung berapa banyak kesedihan dan angan-angan ibu tepis agar anaknya mendapatkan kasih sayang yang sempurna.

Semenjak menjadi ibu, aku kembali diingatkan betapa tak mudah menjalani peran ini. Betapa ibuku dulu kesulitan mendidik dan merawatku. Sungguh tak tahu diri jika anak tak bisa menghargai segala jerih payah ibu yang tak kenal waktu.

Ibu, kini aku sudah menjadi ibu. Semoga aku bisa sekuat dirimu. Pinjami aku perasaanmu agar aku bisa menjalani kehidupan tanpa sepatah keluhan.

 

Batang, 3 September 2018

Love,

Katakurnia

KEHIDUPAN MENGAJARKAN BANYAK HAL


2sFbF_kB_400x400

Memang benar kata orang, kehidupan akan mengajarkan kita banyak hal. Termasuk cara menyikapi suatu keadaan. Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Kalau kata lagu. Tapi hal itu memang benar adanya. Emosiku bertahun lalu yang kerapkali mudah terpancing tentu beda dengan pola emosiku saat ini. Semenjak aku menjadi orang tua.

Semenjak aku menjadi orang tua. Kehidupan seperti sebuah keajaiban. Hei, bahkan aku tak mengerti apa sejatinya arti dari keajaiban, ajaib, atau apalah itu. Rasa-rasanya seperti mimpi aku bisa menjalani kehidupan seperti saat ini. Bukankah baru kemarin aku menjadi gadis cilik berkepang dua yang suka mandi di sungai depan rumah?

Atau bukankan tadi malam aku deg-degan menanti pengumuman kelulusan sekolah menengah pertama. Sungguh tak terbayangkan. Aku menikah dengan teman sekelas saat sma Aku bisa punya anak. Dan lagi-lagi menjalani kehidupan seperti saat ini. Bekerja di sekolahku dulu, berteman dengan guruku dulu. Seakan-akan masa lalu kembali hidup di depan mataku.

Saat menelusuri koridor sekolah ini aku seperti melihat diriku sendiri. Berseragam SMA. Kadang duduk kadang berdiri dengan raut muka malu-malu. Aku yang pendiam dan rendah diri. Aku yang minderan dan tak pandai mencari teman. Aku yang biasa saja dan berasal dari keluarga sederhana. Aku yang …. Masa lalu. Tak perlu kuingat lagi.

Memang masa laluku terbilang tidak buruk. Aku bukan remaja yang terlibat kenakalan remaja. Bukan pula remaja yang nilai akademiknya jeblok. Bukan. Masalah terbesarku pada masa remaja adalah kepercayaan diri. Bukan sekadar percaya pada diri saja. Tapi lebih kepada penghargaan terhadap diri sendiri. Banyak hal yang menyebabkan hal ini. Salah satunya adalah factor didikan dari orang tua. Namun, bukan berarti aku menyalahkan didikan orang tuaku. Bukan. Hanya saja perlu dimaklumi bahwa orang tuaku dulu belum mendapatkan pendidikan parenting seperti saat ini.

Lambat laun aku menemukan makna kepercayaan diri. Semuanya berbeda definisi. Tergantung pada umur dan tingkat kedewasaan. Saat remaja, percaya diri adalah ketika kau punya orang tua kaya raya, handphone bagus, kendaraan bagus, dan wajah yang bagus pula. Ganteng atau cantik. Maka, kau super percaya diri. Bisa bebas melakukan apa saja.

Saat kuliah kepercayaan diri bagiku adalah ketika kau berani menyampaikan pendapat di depan orang banyak. IPK-mu tinggi dan kau lagi-lagi punya materi yang mencukupi. Agar teman-teman mau berteman denganmu. Maka, kau akan jadi orang paling percaya diri.

Sekarang, aku menyadari bahwa percaya diri adalah bukan tentang apa yang tampak dari dirimu. Tapi apa yang ada di dalam jiwamu. Not about looks tapi about values. Nilai dalam dirimu. Jika kau menganggap dirimu berharga maka, kau akan percaya  bahwa dirimu juga mempunyai kesempatan yang sama seperti lainnya. Kesempatan untuk mengubah kehidupan lebih baik lagi. Kesempatan untuk sukses.

Kita yang harus menyelamatkan diri dari lubang ini. Lubang keterpurukan mental. Bukan orang lain. Stop menyalahkan orang lain karena segala perihal hati dan pikiran kaulah yang bisa mengendalikan.  Jangan bersedih untuk masa lalumu. Sebab kau masih memiliki masa depan untuk diraih.

Memang kehidupan akan mengajarkan kita banyak hal. Namun, jika pengalaman orang lain bisa kau jadikan pembelajaran tentu tak ada salahnya pula.

 

 

Batang, 30 Agustus 2018

 

Salam.

Katakurnia

Kurnia Hidayati

 

 

Sumber gambar: google ()

 

Sudah Bersyukur Hari Ini?


bersyukur

Sudah bersyukur hari ini?

Bersyukurlah Allah masih menitipkan napas di raga kita. Lihatlah saudara kita yang sudah tak punya lagi kuasa untuk hidup di dunia. Jasad dan ruhnya pergi meninggalkan kita semua. Maka dari itu umur yang diberikan adalah anugerah yang sangatlah berharga.

Bersyukurlah Allah masih memberikan kita kesempatan untuk hidup bersama kedua orang tua. Masih bisa kita rasakan hangat telapak tangan mereka ketika berjabat tangan sebelum kita pergi. Telapak tangan yang kasar karena bekerja keras dan mengusahakan kebahagiaan anak-anaknya. Telapak tangan yang selalu tengadah berdoa memohonkan kebaikan sang buah cinta. Bagi mereka, kita adalah segalanya. Tapi bagi kita, mereka belum tentu yang utama.

Mungkin suatu hari kita tak bisa lagi merasakan telapak tangan itu lembut menyentuh kulit kita. Karena waktu telah usai mempertemukan orang tua dengan buah hatinya. Betapa kehidupan amatlah sementara, segala yang terjadi nanti senantiasa merupa rahasia. Rahasia terbesar yang kita takuti adalah perpisahan dengan orang tercinta. Orang tua, pasangan, anak-anak, sahabat, bahkan berpisah dengan diri kita sendiri dalam bilangan usia yang tak lagi kita miliki.

Semangat pagi! Sudahkah kita bersyukur hari ini? Atas limpahan rizki yang bukan melulu materi. Semua kecukupan bukan kelebihan. Cukup dalam arti kita mampu hidup secara baik.Memang tak bisa dipungkiri bahwa hidup di dunia ini perlu modal, Saudara. Dan Allah telah mencukupkan itu semua. Allah jamin rezeki kita meskipun tanpa kita minta. Dan kita kerap salah memaknai bahwa rizki itu sama dengan gaji. Padahal itu salah besar. Sebab rizki lebih luas dan lebih berharga dari sekedar angka di lembar struk gaji.

Bersyukur dan bersyukur selalu. Tak ada gunanya mengeluh kepada sesama manusia. Betapa malunya kita mengeluhkan jumlah angka-angka sementara jumlah nikmat yang kita punya tak pernah ada batasannya. Lihatlah ke bawah agar kita bisa mesyukuri segala nikmatnya. Ada tetangga, saudara, atau mungkin orang lain yang mendambakan posisi kita. Sementara kita acapkali kufur dan mengingkarinya.

Tulisan ini aku tulis bukan untuk menggurui. Akan tetapi sebagai pengingat diri sendiri. Jikalau itu berguna maka lakukanlah, apabila tidak maka tinggalkanlah. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur. Alhamdulillah.

 

Salam.

Katakurnia

 

Sumber gambar: Google ()

KATAKURNIA: Pada Hari Ketika Aku Menjadi Ibu


Pada hari  ketika aku menjadi ibu. Aku kembali paham mengapa surga terletak di telapak kaki seseorang bernama ibunda. Sebab begitu curam rasa sakit tatkala mengandung dan melahirkan. Betapa rasa takut ihwal maut begitu mengintai. Kami terancam setiap jam, kami waswas menanti pembukaan. Namun hanya kepada sang Maha Hidup kami menggantungkan keselamatan.

Di sudut ruang persalinan. Ruang paling menakutkan yang pernah kutinggali. Siang dan malam tak ada bedanya. Di ruang redup itu aku hanya bisa melihat bola lampu yang selalu sama pijar terangnya setiap waktu. Dan alat-alat pemeriksaan serta persalinan yang tampak tajam dan  menyeramkan. Pisau itu …, pinset itu…, semuanya ngeri di mataku.  Terlebih lagi ada perempuan-perempuan lain dalam satu ruangan yang hanya disekat tirai yang tengah berjuang lebih dulu. Teriakan dan erangan pilu sangat ngilu di telingaku. Menambah rasa curiga jangan-jangan Izrail sudah menungguku.

Pada hari ketika aku menjadi ibu, kudengar isak tangis seorang  lelaki di sebuah Minggu pukul delapan pagi. Aku tak bertanya mengapa ia mengeluarkan kristal bening dibalik bukubuku matanya. Air mata yang berbeda dari air mataku yang terbiasa tumpah bahkan hanya karena terbawa perasaan menonton film sendu. Ia menangis dalam kekuatannya namun memilih tak meraung hingga gema suaranya memekakkan telinga. Kendati mungkin sejatinya ia bisa.

Entah di luar sana ada air mata siapa yang lepas dari tempatnya. Usai kutemui seorang perempuan kecil yang ringkih. Dengan kulit putih kemerahan berlumur darah perjuangan kami berdua. Selama sekian puluh jam. Ia lalu hadir menyapa dunia dan aku hanya mampu membisu, menangis, tanpa keluar satu pun kata.  Aku belum mengenalinya –perempuan kecil itu- sebab hanya kutandai tangisannya yang teramat kencang serta kulihat kepalanya tatkla digendong seorang bidan, pada hari itu. Pada hari ketika aku menjadi ibu.

Kini, perempuan kecil yang kutemui pada hari itu telah mampu memanggil namaku. Ia  yang dulu tak berdaya kini bisa mengutarakan keinginannya. Dengan bahasanya yang selalu mengundang tawa dengan caranya yang suka meniru orang dewasa. Tangan kecil, kaki kecil, semuanya kecil namun memberiku banyak hal besar. Alhamdulillah segala puji hanya miIik Allah Rabb Semesta Alam yang telah mengizinkanku bertemu dan merawat seorang perempuan, anakku, Adhimatur Rizqi.

Batang, 13 Juni 18

Love Katakurnia

 

KATAKURNIA:POS-THINK BEFORE POSTING


 

Yang paling tajam di dunia ini bukanlah pisau belati. Melainkan lisan, menurut Imam Al Ghazali.  Lisan atau lidah memang tak bertulang. Ia bebas meliuk-liuk sesuka hati kadang suka menyakiti bila si empunya tak bisa mengontrol diri. Lisan bisa membuat orang terpesona atau membuat orang murka. Dengan mahirnya ia berkata dusta tanpa memikirkan resiko setelahnya. Melalui lisan orang akan mendapatkan berkah atau malah dapat musibah.

Kita saksikan peristiwa di sekitar kita. Orang-orang saling membunuh karena lisan. Tidak terima orang lain berkata seenaknya, menghina harga diri, fitnah, ghibah dan sebagainya nyawalah yang jadi taruhannya. Sungguh ia adalah anggota tubuh paling berbahaya. Meskipun ia hanya mampu berkata-kata tanpa senjata namun luka yang ditimbulkannya amat luar biasa.

Kaitannya dengan kemajuan tekhnologi dewasa ini. Posisi lisan sudah digantikan dengan jari. Benar, jari! Hampir semua orang punya ponsel pintar, namun tidak semuanya pintar menggunakan ponsel. Bisa kita lihat dengan kemunculan fans dan hatter. Mereka adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari media sosial (medsos). Terutama akun media sosial kepunyaan pesohor negeri seperti artis, politikus, dan sebagainya. Sebut saja instagram. Hampir setiap postingan selebritis di instagram selalu menarik perhatian. Banyak komentar yang muncul. Ada yang memuji dan tidak jarang mencaci maki.

Netizen dengan mudah memberikan komentar miring tanpa tedeng aling-aling. Asal punya nyali dan kuota, komentar-komentar pedas langsung melanglang buana. Tak peduli orang lain sakit dibuatnya. Asal mengikuti hawa nafsu, postingan yang ak disukai angsung diserbu. Persetan dengan dosa. Yang penting “ini instagram saya, terserah saya mau posting dan komentar apa”. Astagfirullah! Nauzubillahimindaliik. Jangan sampai kita terjerat tipu daya setan. Setan tak pernah jera menggoda kita dari segala sisinya.

Tak berbeda dengan komentar. Postingan pun penuh dengan rupa-rupa tipu daya. Akun ghibah, fitnah alias hoax, bahkan pornografi merajalela. Ada yang sengaja membuat meme yang berisi menebar kebencian dan fitnah. Ada yang membuat akun dengan postingan menyesatkan. Semuanya bertumpukan di dunia maya. Tinggal kita pintar atau tidak memilahnya.

Perhatikan pula postingan akun kita. Barangkali ada yang tersakiti karena apa yang kita tuliskan. Jangan asal judge orang lain buruk sehingga dengan mudahnya kita nyinyir dan menyindir orang lain. Memang boleh kita berpendapat dan berekspresi melalui akun pribadi tetapi harus bisa memilih mana postingan yang sekiranya bisa diterima. Ingat, jarimu harimaumu. Meskipun menurut kita postingan itu biasa-biasa saja namun menurut orang lain belum tentu sama. Dalam terjemahan kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali bab Mengingat Kematian dan Peristiwa yang Terjadi Setelah itu disebutkan bahwa pada Yaumul Hisab segala amal dan perbuatan kita akan diperhitungkan dengan sangat rinci.

Orang yang meninggal dunia sebelum mengembalikan apa-apa yang diperolehnya melalui jalan kemaksiatan dan menganiaya orang lain, serta segala perbuatannya yang suka menyakiti sesama makhluk, kelak akan dipertanggungjawabkan di Yaumul Hisab. Ia akan dikerumuni oleh musuh-musuhnya di dunia yang kelak akan meminta pengadilan di hadapan Sang Maha Adil. Yang satu mengambil dengan tangannya. Yang satu memegang ubun-ubunnya. Yang ini berkata, “Engkau pernah menganiaya saya dulu!”. Yang itu berkata, “Engkau pernah mencaci maki aku!” Yang lain lagi berkata,”Engkau juga pernah menghinaku, meremehkanku, dan menganggap diriku tidak berarti.”

Betapa ngerinya peristiwa itu. Setiap orang mendapatkan balasan dari orang-orang yang sudah didzalimi. Tak terkecuali dzalim karena lisan. Bisa jadi postingan kita menyakiti saudara kita, bisa jadi komentar kita membuat orang lain menangis dan berputus asa. Duhai, jangan sampai kita melakukannya.

Maka, pos-think before posting. Positif thinking-lah terhadap orang lain, husnuzon, sebelum kita posting sesuatu di akun pribadi. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang bijak menjaga lisan dan jemari. Agar terhindar dari dosa dan penyakit hati. Sebab segalanya akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

 

Batang, 17 Oktober 2017

Katakurnia

 

KATAKURNIA: KIRIM NASKAH


Iseng buka-buka file tulisan di laptop. Eh, nemu tulisan yang sudah tertimbun beberapa bulan . Ada beberapa puisi yang tertunduk sedih ditendang koran. Salah satu judul puisinya adalah MALKA

; MUARA REJO. Puisi ini adalah puisi yang berhasil membawa pulang trophy juara kedua. Tapi justru terseok-seok mencari kolom koran. Memang tak bisa dipungkiri bahwa karya sastra terutama puisi tidak punya pakem khusus. Bagus atau tidaknya suatu puisi tergantung subjektifitas penikmatnya. Ada yang suka gaya puisi model panjang, ada yang suka puisi model rima, dan lain-lain. Jadi, bukan jaminan bahwa puisi yang menang lomba bisa dengan mulus melenggang di media massa. Juri yang ditunjuk untuk menilai perlombaan pun punya standar khusus. Bisa jadi lomba yang aku ikuti adalah ‘event kecil’ jadi standarnya kalah jauh dibandingkan standar koran.

Sudah lama aku vakum menulis puisi untuk media massa. Bisa dibilang aku menghilang. Sejatinya ini bukanlah keadaan yang aku inginkan. Aku ingin terus menulis bukan agar dimuat, tapi lebih kepada kecintaan menulis. Sayangnya hal itu tak berjalan sebagaimana rencana. Semangat menulisku terpacu ketika mengirim ke koran atau ikut perlombaan. Sejak menikah produktivitasku menurun. Kesibukan tak mau kujadikan kambing hitam. Namun lebih kepada ‘rasa malas’ yang kerap muncul dengan alasan ‘quality time’ bareng keluarga. Padahal menulis dan mengurus rumah tangga bisa dilakukan bersamaan. Yang diperlukan adalah komitmen tinggi.

Jika tidak menulis aku merasa berdosa terhadap diriku sendiri yang membiarkan ide bertumpuk dalam kepala. Aku merasa dzalim karena tidak memanfaatkan otak yang sudah diciptakan Allah dengan sangat hebat ini untuk menulis, berbagi kepada sesama, dan menginspirasi. Menulis akan menjadi ladang pahala apabila sesama bisa mengambil manfaat darinya.

Maka pagi ini aku memutuskan untuk mengirim naskah ke koran (lagi) dengan tujuan mencari pembaca. Barangkali pembaca bisa memetik manfaatnya. Baiklah, begitu semangatku. Hanya saja, aku perlu siap mental. Ditolak. Itu adalah hal yang sering terjadi. Dan aku harus kembali menyiapkan mentalku seperti dulu lagi saat pertama aku berapi-api ingin menjadi penulis produktif.

Semangat untuk diriku! Semoga kamu tahan terhadap penolakan! Sebab kamu harus memulai dari nol lagi dengan membaca banyak tulisan, menulis satu dua halaman, mengedit, mengirim, dan ditolak. Begituuuu terus berulang-ulang sampai kamu bosan dan hampir menyerah. Lalu senang luar biasa ketika karyamu dibaca banyak orang.

 

Batang, 13 Oktober 2017

Love, Katakurnia

LATAR BELAKANG ILMU PENGETAHUAN


MAKALAH

LATAR BELAKANG ILMU PENGETAHUAN

Disusun guna memenuhi tugas

Mata kuliah                 : Metode Penelitian

Dosen Pengampu        : Drs. M. Slamet Untung, M.Ag.

Disusun Oleh :

  1. Kurnia Hidayati                                  2021110206
  2. Salafuddin                                          2021110207
  3. M. Bagus Yudistira                             2021110214
  4. Dewi Riska Khodijah                         2021110219

 

 

Kelas E

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PEKALONGAN 2011

BAB I

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dan berkembang sebagai konsekuensi dari usaha-usaha manusia baik untuk memahami realitas kehidupan dan alam semesta maupun untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, serta mengembangkan dan melestarikan hasil yang sudah dicapai oleh manusia sebelumnya. Usaha-usaha tersebut terakumulasi sedemikian rupa sehingga membentuk tubuh ilmu pengetahuan yang memiliki strukturnya sendiri.

Struktur tubuh ilmu pengetahuan bukan barang jadi dan mapan, karena struktur tersebut selalu berubah seiring dengan perubahan manusia baik dalam mengidentifikasika dirinya, memahami alam semesta maupun dalam cara mereka berpikir.

Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan, suatu sisitem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Motif-Motif Perkembangan Ilmu Pengetahuan
    1. Definisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Pengetahuan diartikan secara luas yang mencakup segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek.[1]

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[2]

Sifat-sifat ilmu pengetahuan adalah bersifat akumulatif, mutlak, dan objektif. Adapun ciri-ciri umum daripada ilmu, yaitu:

  1. Rasional
  2. Empiris
  3. Umum
  4. Akumulatif[3]

Syarat-syarat ilmu adalah sebagai berikut:

  1. Objektif.

Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam.

  1. Metodis

Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran.

  1.  Sistematis.

Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.

  1. Universal.

Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). [4]

  1. Motif-Motif Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh.

Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, namun lebih dari itu manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna kepada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya. Dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya.

Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuan dan pengetahuan ini juga yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi. Motif-motif perkembangan ilmu pengetahuan oleh manusia disebabkan dua hal utama, yakni:

  1. Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.
  2. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap karena kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.[5]

 

 

  1. B.     Tugas-Tugas Ilmu Pengetahuan

Tugas-tugas Ilmu Pengetahuan dan Penelitian

  1. Menyandra (deskripsi)

Menggambarkan secara jelas dan cermat, hal-hal yang dipersoalkan.

Contoh : terjadi kecelakaan di jalan Juanda.

  1. Menerangkan (Eksplanasi)

Menerangkan secara detil kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa.

Contoh : kecelakaan itu disebabkan:

Melibatkan dua buah bis yang sarat penumpang

Keduanya sama-sama kencang

Jalanan licin sehabis hujan.

  1. Menyusun teori

Mencari dan merumuskan hukum-hukum, tata hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain. Contoh :

–          Bila kendaraan dijalankan kencang terlebih di jalan licin maka akan terjadi kecelakaan.

–          Bila kecelakaan melibatkan kendaraan yang penuh penumpang, maka akan banyak korban.

  1. Ramalan (Prediksi)

Membuat prediksi (ramalan), estimasi (taksiran) dan proyeksi mengenai peristiwa yang bakal muncul bila keadaan didiamkan. Contoh :

–          Bila didiamkan semakin banyak terjadi kecelakaan

–          Tempat itu dianggap rawan (dikeramatkan)

  1. Pengendalian (Kontrol)

Melakukan tindakan-tindakan guna mengatasi keadaan atau gejala yang bakal muncul. Contoh:

–          Memasang rambu lalu lintas

–          Membuat/memasang lampu penerangan[6]

  1. C.    Postulat-Postulat Pokok Tentang Alam Semesta

Postulat adalah adalah asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya atau anggapan dasar.

Postulat – postulat tentang Alam Semesta antara lain:

  1.  Postulat Jenis

Postulat jenis  adalah menentukan bahwa gejala yang ada di alam ini mempunyai kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Adanya perbedaan-perbedaan akan menentukan aneka ragam jenis dan kesamaan gejala yang akan mewujudkan rumpun sejenis.

Contohnya, air dan minyak berbeda tapi sejenis, batu dan besi walau berbeda tetapi sejenis.

  1. Postulat Keajegan

Postulat ini beranggapan bahwa gejala-gejala alam mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan sifat-sifat hakikat dalam keadaan dan waktu tertentu. Gejala-gejala alam dan sosial sifatnya tidak mutlak atau dapat berubah-ubah. Perubahan kemutlakan gejala alam relatif lebih kecil daripada gejala-gejala sosial.  Contohnya, matahari terbit disebelah timur adalah postulat keajegan karena kita menyaksikan bahwa disepanjang hidup kita matahari selalu terbit disebelah timur.[7]

  1.  Postulat Sebab Akibat

Postulat ini menganggap bahwa semua kejadian dalam alam semesta ini terikat pada hubungan kausal (sebab akibat). Benda jatuh karena gaya gravitasi bumi, mengantuk karena terlalu banyak makan, sakit, capek, dll.

  1. Postulat Keterbatasan Sebab Akibat

Tidak, semua sebab menimbulkan akibat. Sebab dapat membatasi akibat, demikian juga akibat dapat membatasi sebab. Belum tentu mengantuk disebabkan kurang istirahat, demikian juga sebaliknya.

  1. Postulat Variabilitas Gejala

Contohnya adalah pencampuran berbagai kadar pewarna dalam air putih; tingkah laku orang melihat kita tersenyum.

 

  1. D.     Postulat Pokok tentang Kemampuan Manusia

Postulat pokok tentang kemampuan manusia antara lain:
1. Postulat Reliabilitas Pengamatan :

Tidak selamanya pengamatan peneliti tetap, bahkan mungkin pada suatu saat salah dalam pengamatannya, kelelahan, keinginan tak terpenuhi, harapan tak terwujud atau motivasi yang rendah.
ang  perlu dilakukan adalah:
1) Pengamatan ulang

2) Menambah banyak kasus yang diamati
3) Membandingkan dengan hasil pengamatan orang lain
4) Menggunakan ukuran-ukuran yang mantap, terpercaya dan memadai
5) Menggunakan simbol-simbol
6) Berbuat obyektif
2.  Postulat Reliabilitas Ingatan :

Orang mudah mengingat hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mengesankan : apa yang disenangi, dikagumi, dibenci, mencemaskan, dan lain sebagainya. Yang perlu dilakukan adalah :
1. Dokumentasi
2. Penggunaan simbol
3. Postulat Reliabilitas Pemikiran

Seseorang tak luput dalam reasoning. Pemikiran seseorang dapat dipengaruhi keadaan, tempat, dan waktu. Kadang kita mengikuti logika, tapi kadang mengikuti perasaan (hati). Kita harus ingat bahwa yang benar itu logis tapi yang logis tak selamanya selalu benar.[8]

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. A.    Motif-Motif Perkembangan Ilmu Pengetahuan
    1. Definisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

  1. B.     Tugas-Tugas Ilmu Pengetahuan
    1. Menyandra (deskripsi)
    2. Menerangkan (Eksplanasi)
    3. Menyusun teori
    4. Ramalan (Prediksi)
    5. Pengendalian (Kontrol)
    6. C.    Postulat-Postulat Pokok Tentang Alam Semesta
      1. Postulat Jenis
      2. Postulat Keajegan
      3. Postulat Sebab Akibat
      4. 4.      Postulat Keterbatasan Sebab Akibat
      5. Postulat Variabilitas Gejala
      6. D.    Postulat Pokok tentang Kemampuan Manusia
        1. Postulat Reliabilitas Pengamatan
        2. Postulat Reliabilitas Ingatan
        3. Postulat Reliabilitas Pemikiran

 

M. Toyibi, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1994), hal. 1

[1] Ilmu, (http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu), diakses tanggal 15 Februari 2012

[1] Burhanudin Salam , Pengantar Filsafat, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 24

 

 

 


[1] M. Toyibi, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1994), hal. 1

[2] Ilmu, (http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu), diakses tanggal 15 Februari 2012

[3] Burhanudin Salam , Pengantar Filsafat, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 24

[4] Ibid.

[5] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 93.

[6] Yulia Dwi Indiarti, Research Method Metode Penelitian, (http://jul1a_indria.staff.ipb.ac.id/2011/02/26/metode-penelitian/) diakses tanggal 14 Februari 2012.

 

IBNU SINA


IBNU SINA

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Fisafat Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

 

  1. Kurnia Hidayati                      202 111 0206
  2. Uswatun Khasanah                 202 111 0210
  3. Muhammad Bagus Yudistira  202 111 0214
  4. Naelal Khusna                         202 111 0222

 

 

KELAS E

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul Ibnu Sina” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.

Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang Ibnu Sina dan filsafat serta pemikirannya. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami filsafat Ibnu Sina, mengingat beliau adalah seorang filosof yang cerdas. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Amat Zuhri M.Ag, selaku dosen pembimbing Filsafat Islam dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Filsafat Islam. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

 

 

Pekalongan, 2 Oktober 2011

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 Dinamika pemikiran dalam dunia Islam tetap berkembang sampai sekarang. Kenyataan ini dimungkinkan terjadi berkat doktrin yang menghargai akal setinggi mungkin sebagai salah satu sumber pengetahuan dan kebenaran.

Menurut Ibnu Sina, jiwa merupakan satu kesatuan dan memiliki wujud sendiri. Jiwa nihil sebagai fungsi-fungsi fisikan dan tugasnya ialah untuk berfikir dalam rangka ini, jiwa memerlukan tubuh. Pada mulanya tubuh menolong jiwa manusia untuk berfikir.

Namun, jika jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan maka sebaliknya, tubuh hanya akan menjadi penghalang bagi jiwa untuk berkembang. Karena jiwa merupakan satu unit sendiri yang terlepas dari badan. Inilah sebagian pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Sina dasar ajaran filsafatnya. Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini akan kami jelaskan lebih lanjut mengenai filsafat Ibnu Sina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Biografi Ibnu Sina

Abu Ali Husein Ibnu Abdillah Ibnu Sina lahir Afyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukharadi tahun 980 M. Orang tuanya berkedudukan pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani. Menurut sejarah hidup yang disusun oleh murinya, Jurjani, dari semenjak kecil Ibnu Sina telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, seperti fisika, metematika, kedokteran, hukum, dan lain-lain. Sewaktu masih berumur 17 tahun, ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan istana.[1]

Pada waktu usianya mencapai 22 tahun, ayahnya meninggal dunia, kemudian ia meninggalkan negeri Bukharauntuk menuju Jurjan, dan dari sini ia pergi ke Chawarazm. Di Jurjan ia mengajar  dan mengarang, tetapi karena kekacauan politik, ia tak lama tinggal di situ.[2]

Ibnu Sina dalam berfilsafat berusaha mensintesakan ajaran filsafat Aristoteles dengan Neo-Platonisme. Bagi Ibnu Sina, filsafat tidak lain adalah pengetahuan mengenai segela sesuatu (benda) sejauh mana kebenaran obyek itu dapat dijangkau oleh akal manusia.

Ibnu Sina melihat filsafat dari dua arah, pertama dari segi teoritisnya dan kedua dari segi praktisnya. Yang teoritis terbagi atas ilmu-ilmu fisika, matematika dan metafisika, sedangkan yang praktis disebutkan dengan politik dan etika.[3]

Pada akhir hayatnya ia menjadi guru filsafat dan dokter di Ishfahan dan meninggal di Hamadzan pada tahun 428H (1037 M) dalam usia 57 tahun. Diberitakan, penyakit perut (maag) yang membawa kematiannya sebagai dampak dari kerja kerasnya untuk urusan negara dan ilmu pengetahuan.[4]

 

 

 

  1. Hasil Karya Ibnu Sina

Ibnu Sina meskipun disibukkan oleh kegiatan politik namun karena kecerdasan yang dimilikinya, menyebabkan ia mampu menulis beberapa buku.

Karena kecerdasan dan kepandaiannya dalam mengatur waktu. Tidak kurang dari 50 lembar karya yang ia hasilkan. Ia sangat berjasa bagi para ilmuwan.

Adapun karya-karya Ibnu Sina adalah:

  1. 1.      As-Syifa

Merupakan buku filsafat terpenting dan terbesar yang terdiri dari 4 bagian, yaitu logika, fisika, matematika dan metafisika.

  1. 2.      An-Najat

Merupakan buku ringkasan As-Syifa.

  1. 3.      Al-Syarat Wat-Tanbihat

Merupakan buku terakhir dan paling baik, pernah diterbitkan diLeidentahun 1892.

  1. 4.      Al-Hikmat Al-Masyriqiyyah

Memuat tentang logika, namun banyak orang yang membicarakannya kerena ketidakjelasan maksud judul ini.

  1. 5.      Al-Qanun/ Canon of Medicine

Pernah diterjemahkan dalam bahasa latin dan menjadi buku standar universitas-universitas di Eropa.[5]

  1. Filsafat Ibnu Sina
  1. 1.      Filsafat Jiwa

Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah filsafatnya tentang jiwa. Sebagaiman al-Farabi, ia juga menganut paham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari Akal Pertama; demikian seterusnya sehingga tercapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari Akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah Jibril.

Ibnu Sina berpendapat bahwa Akal Pertama mempunyai dua sifat, yaitu:

1)      Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah.

2)      Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.[6]

Akal pertama mempunyai tiga objek pemikiran, yakni Tuhan, dirinya sendiri sebagai wajib wujudnya,  dan dirinya sendiri sebagai mungkin wujudnya. Ketika akal memikirkan Tuhan akan timbul akal-akal lain. Ketika akal memikirkan dirinya sebagai dirinya sebagai wajib wujudnya, timbul jiwa-jiwa, dan dari dari aktivitas berfikir tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit. Jadi, Akal Pertama melimpahkan tiga wujud: Akal Kedua, Jiwa Pertama, dan langit tempat fixed stars.[7]

Ibnu Sina juga membagi jiwa itu sendiri dalam tiga bagian:

1)      Jiwa tumbuh-tumbuhan, dengan tiga daya (makan, tumbuh, dan berkembang biak)

2)      Jiwa binatang, dengan dua daya (gerak dan menangkap)

3)      Jiwa manusia, dengan dua daya (praktis dan teoritis)[8]

Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan ini tidak dapat diremehkan, baik pada dunia fikir Arab sejak abad 10 M sampai akhir abad 19 M, maupun pada filsafat scolastik Yahudi dan Masehi.

Bukti-bukti wujud jiwa juga diungkapkan Ibnu Sina dengan mengedepankan 4 dalil, yaitu:

1)      Dalil psiko-fisik

2)      Dalil aku dan kesatuan fenomena kejiwaan

3)      Dalil kelangsungan (kontinuitas)

4)      Dalil manusia terbang atau dalil manusia melayang-layang di udara.[9]

Ibnu Sina juga membuktikan bahwa jiwa adalah kekal, ia memaklumi bahwa jiwa itu adalah makhluk yang temporal tidak ada kecuali ada badan. Jiwa tidak mendahului badan, walaupun ia kekal setelah badan sirna, sehingga dengan demikian jiwa diklasifikasikan sebagai sesuatu yang mempunyai awal tetapi tidak mempunyai akhir. [10]

  1. 2.      Filsafat Wahyu dan Nabi

Pendapat Ibnu Sina tentang Nabi bertitik tolak dari tingkatan akal. Akal meteriil sebagai yang terendah adakalanya dianugerahkan Tuhan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, oleh Ibnu Sina dinamakan intuisi. [11] Daya yang ada pada pada akal materiil seperti ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada nabi-nabi.[12]

  1. 3.      Filsafat Wujud

Ibnu Sina berpendapat bahwa dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama, sendiru karena hanya dari yang tunggal. Yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Namun sifat intelegensi pertama itu tidak selamanya mutlak satu, karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan berkat kedua sifat itu., yang sejak saat itu melingkupi seluruh ciptaan di dunia, intelegensi pertama memunculkan dua kemaujudan yaitu:

1)      Intelegensi kedua melalui kebaikan ego tertinggi dari adanya aktualitas, dan

2)      Lingkungan pertama dan tertinggi berdasarkan segi terendah dari adanya kemungkinan alamiahnya. Dua proses pemancaran ini berjalan terus sampai mencapai intelegensi kesepuluh yang mengatur dunia ini, yang oleh kebanyakan filosof mungkin disebut malaikat jibril.[13]

Esensi dalam paham Ibnu Sina, terdapat dalam akal, sedang wujud itu diluar itu diluar akal. Ibnu Sina mengombinasikan antara wujud dan esensi sebagai berikut:

  1. Esensi yang tak dapat mempunyai wujud
  2. Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud
  3. Esensi tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud adalah sama dan satu.[14]

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Sina sependapat dengan al-Farabi mengenai filsafat jiwanya. Ibnu Sina dapat berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat, yaitu:

  1. Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah.
  2. Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.

Sedangkan mengenai filsafat wujud, Ibnu Sina berpendapat bahwa dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama sendiri. Karena hanya dari yang tunggal yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Namun, sifat intelegensi pertama itu tidak selamanya mutlak satu sebab ia bukan ada dengan sendirinya.Ia hanya mungkin dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Amin, Miska Muhammad. 1983. Epistemologi Islam. Jakarta: Penerbit UniversitasIndonesia.

 

Drajat, Amroeni. 2006. Filsafat Islam:Buat yang Pengen Tahu, Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Mustofa, H. A. 2004. Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia.

 

Nasution, Harun. 1999. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

 

Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta:Gaya Media Pratama.


[1] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), hal. 28.

[2] H. A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hal.189.

[3] Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1983), hal. 42)

[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999). Hal. 68.

[5]Mustofa, Op.Cit. hal. 189-190

[6] Harun Nasution, Op. Cit. hal. 29.

[7] Amroeni Drajat, Filsafat Islam:Buat yang Pengen Tahu, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hal.47.

[8] Nasution, Op. Cit, hal. 29-30.

[9] Mustofa, Loc. Cit, hal. 209.

[10] Ibid.

[11] Hasyimsyah Nsution, Loc. Cit, hal. 75.

[12] Nasution, Loc. Cit, hal. 33.

[13]Mustofa, Loc. Cit, hal. 190-191.

[14] Nasution, Op.Cit, hal. 33-34.

PERINTAH AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR ( Telaah QS. Al-Hajj Ayat 41 )


PERINTAH AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

( Telaah QS. Al-Hajj Ayat 41 )

Dosen Pengampu : H.A.UBAEDI FATHUDDIN, Lc, MA

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

1.         Nita Eviana                        : 2021110217

  1. 2.         Indah Rediana                  : 2021110205
  2. 3.         Kurnia Hidayati                : 2021110206
  3. 4.         Ulva Riskilah                     : 2021110195

Kelompok 12

KELAS E

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN

2011

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. A.      Perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar ( QS. Al-Hajj ayat 41)

t

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

 

  1. B.       Asbabun Nuzul

Ibnu abbas mengatakan tentang Asbabun Nuzul ayat ini. “ Tatkala Rasulullah SAW. Di usir dari mekkah Abu Bakar berkata “ Mereka telah mengusir Nabi, mereka sesungguhnya kita kepunyaan Allah, sesungguhnya kita kembali pada-Nya benar-benar hancurlah kaum itu.” Maka Allah SWT menurunkan ayat ini yang artinya : Di izinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh Allah Maha Kuasa Menolong mereka itu. Abu Bakar berkata : Maka tahulah aku Sesungguhnya aka nada peperangan.’ ( Riwayat Ahmad At-Tarmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majjah).[1]

  1. C.      Hadits Pendukung

أ. عن ابى سعيد الحد رى رضي الله عنه قا ل : سمعت رسو ل الله ص.م يقو ل : من را ى منكم منكرا فليغيره بيده وان لم يستطع فبلسا نه فا ن لم يستطع فبقلبه وذ لك اذعف اليمان .

Artinya : Dari Abu Sa’id al Khudriy ra, ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW beesabda : “ Siapa saja diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganya, apabila ia tidak mampu, maka Rasulullah dengan lisanya, bila ia tidak mampu rubahlah hatinya, dan itu adalah paling lemahnya iman.” (HR. Muslim).[2]

 

  1. D.            Penjelasan Tafsir

 

  1. 1.    Tafsir Al-Azhar ( Nita Eviana : 2021110217)

Dalam suratAl Hajj ayat 41, yang artinya :(yaitu) Orang-orang yang apabila kemi kokohkan mereka di bumi.” Dapat diartikan telah Kami tolong dan berhasil perjuangan mereka melawan kedhaliman itu,” mereka mendirikan sholat dan memberikan zakat .” Dengan susunan ayat ini bukanlah berarti bahwa mereka mau mendirikan sholat dan kokoh di muka bumi, atau setelah mereka menang menghadapi musuh-musuhnya, bahkan sejak semula perjuangan keyakinan dan keimanan kepada Tuhan itulah pegangan teguh mereka. Dalam pengalaman kita dimasa perjuangan melawan penjajahan belanda, pada umumnya orang shalih dan taat sembahyanglima waktu mereka kerjakan dengan tekun. Zakat mereka berikan. Tetapi setelah kedudukan kokoh di muka bumi prang mulai melalikan agama.

“Dan mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf.” Maka timbullah berbagai anjuran agar sama-sama berbuat yang ma’ruf. Artinya yang ma’ruf ialah anjuran-anjuran atau perbuatan yang diterima baik dan disambut dengan segala senang hati oleh masyarakat ramai. Betambah banyak anjuran kepada yang ma’ruf bertambah majulah masyarakat.

“Dan mereka mecegah dari berbuat yang munkar.” Artinya yag munkar adalah segala anjuran atau perbuatan yang masyarakat bersama tidak senang melihat atau menerimanya, karena tidak sesuai dengan garis-garis kebenaran.

“Dan kepada Alah jualah akibat dari segala urusan.” ujung ayat 41) Artinya walau bagaimanapun keadaan yang dihadapi, baik ketika lemah yang menghendaki kesabaran, atau menghadapi perjuangan yang amat sengit dengan musuh karena mempertahankan ajaran Alah atau seketika kemenangan telah tercapai, sekali-kali jangan lupa, bahwa keputusan terakhir adalah pada Allah SWT jua.[3]

  1. 2.    Tafsir Al Maragi ( Indah Rediana : 2021110205)

Orang-orang yang diusir dari kampung halamannya ialah orang-orang  yang apabila kami meneguhkan kedudukan mereka didalam negeri, lalu mereka mengalahkan kaum musrikin. Lalu , mereka taat ke[pada Allah, mendirikan sholat seperti yang diperintahkan kepada mereka, mengeluarkan zakat harta yang telah diberikan kepada mereka, menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya, menyuruh orang untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh syari’at. Dan melarang melakukan kemusrikan, serta kejahatan.

Ringkasan : Mereka adalah Orang-orang yang menyempurnakan dirinya dengan menghadirkan Tuhan dan menghadapkan diri Kepada-Nya didalam shalat menurut kemampuannya dan mereka dengan menolong  orang-orang fakir dan yang butuh pertolongan diantara mereka. Disamping itu, mereka menyempurnakan orang lain dengan memberikan sebagian ilmu dan adabnya, serta mencegah berbagai kerusakan yang menghambat orang lain untuk mencapai akhlak dan adab yang luhur.

Kemudian , Allah menjanjikan akan meninggikan kalimat-Nya dan menolong para penolong agama-Nya :

 

والله عا قبة الامور

Kepada Allah lah segala urusan dikembalikan, apakah dia akan membalasnya dengan pahala ataukah dengan siksa di negeri akhirat.

Senada dengan ayat tersebut. Ialah firman Allah :

والعاقبة للمتقين

 “ Dan sesudah yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-A’raf. 7 : 128).[4]

  1. 3.    Tafsir al-Misbah (Kurnia Hidayati : 2021110206)

Ayat-ayat QS-Al Hajj ayat 41 menerangkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang jika kami anugerahkan kepada kemenangan dan kami teguhkan kedudukan mewreka dimuka bumi, yakni kami berikan mereka keleluasaan mengelola suatu wilayah dalam keadaan mereka merdeka dan berdaulat niscaya mereka yakni masyarakat itu melaksanakan shalat secara sempurna rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya dan mereka uga menunaikan zakat sesuai kadar waktu, sasaran dan cara penyuluran yang ditetapkan oleh Allah, serta mereka menyuruh anggota-anggota masyarakat agar berbuat yang ma’ruf, yani nilai-nilai luhur serta adat istiadat yang diakui baik dalam masyarakat itu, lagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ilahiah dan mereka mencegah dari yang munkar, yakni yang nilai buruk lagi diingkari oleh akal sehat masyarakat, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan, Dialah yang memenagkan siapa yang hendak dimenangka-Nya dan Dia pula yang menjatuhkan kekalahan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menentukan masa kemenangan dan kekalahan itu.

Ayat diatas mencerminkan sekelumit dari cirri-ciri masyarakat yang diidamkan islam, kapan dan dimanapun dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat beliau.

Masyarakat itu adalah yang pemimpin-pemimpin dan anggota-anggotanya dinilai kolektif bertakwa, sehingga hubungan mereka dengan Allah SWT. Baik dan jauh dari kekejian dan kemunkaran, sebagaimana dicerminkan oleh sikap mereka yang selalu melaksanakan shalat dan harmonis pula hubungan anggota masyarakat, termasuk antara kaum yang punya dan lemah yang dicerminkan oleh ayat diatas iringan menunaikan zakat. Disamping itu mereka juga menegakkan nilai-nilai yang dianut masyarakat, yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar. Pelaksanaan kedua hal tersebut menjadikan masyarakat melaksanakan control social, sehingga mereka saling mengingatkan dalam hal kebajikan, serta mencegah terjadinya pelanggaran.[5]

  1. 4.    Tafsir Ibnu Katsir (Ulva Rizkililah : 20211102195)

Menurut Abu Al Aliyah, orang yang menyebutkan alam ayat ini iaah para sahabat Muhammad SAW. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Utsman bin Affan, dia berkata : “ Mengenai kamilah ayat,orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi ini susunkan kami diusir dari kampung halaman kami sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karna kami mengatakan bahwa Tuhan kami adalah Allah, kemudian kami diteguhkan di bumi, lalu kami mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, kepunyaan Allah kemudahan segala perkara. Jadi ayat ini diturunkan berkenan dengan aku dan para sahabatku.

Ash-Shahab bin Suwadah al Kindi berkata, “Aku mendengar Umar Bin Abdul Aziz berkhutbah. Dia membaca ayat “Orang-orang yang kami teguhkan kedudukan mereka dibumi, kemudian berkata.” Ketahuilah, ayat ini bukan hanya ditujukan kepada pemimpin semata, namun ditujukan kepada pemimpin dan rakyatnya. Ketahuilah, aku akan memberitahukan kepadamu kewajiban pemimpin kepada rakyatnya dan kewajiban rakyat kepada pemimpinnya. Sesungguhnya yang mejadi hak kamu dan kewajiban pemimpin ialah memperlakukan amu dengan ketentuan Allah yang telah diwajibkan atasmu, memperlakukan sebagian kamu karena sebagian yang lain dengan ketentuan Allah dan menunjukkan kamu kepada jalan yang lurus sesuai dengan kemampuan pemimpin. Adapun kewajiban kamu adalah mentaati pemimpin tanpa terpaksa dan tidak bertentangan antara ketaatan perkataan dan perbuatan dengan ketaatan hati.

Zaid bin Aslam berkata, “ Dan kepada Alah lah kembali segala urusan berarti pada sisi Allah lah pahala atas apa yang telah mereka lakukan.[6]

 

  1. E.       Kesimpulan Tafsir

 

  1. 1.      Tafsir Al-Azhar ( Nita Eviana : 2021110217)

Dari penafsiran diatas, maka dapat disimpulkan behwa kita sebagai kaum muslimin untuk selalu berbuat baik, sebab dengan perbuatan yang baik agama islam akan tetap kokoh, dan mencegah dari perbuatan yang munkar, karena hal itu dapat memecah belah sesama muslim, perbuatan-perbuatan yang baik itu misalnya Shalat, Zakat,menolong orang lain yang membutuhkan. Dari contoh perbuatan ma’ruf tersebut, maka akan terjadi keseimbangan hubungan dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia.

  1. 2.      Tafsir Al Maragi ( Indah Rediana : 2021110205)

*) Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa  dalam keadaan apapun baik dalam mendapatkan kemenangan ataupun kekalahan, seperti yang dicontohkan pada masyarakat masa Nabi Muhammad SAW danParaSahabat-sahabat beliau. Manusia harus melaksanakan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar.

*) Dengan shalat maka akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, menauhkan diri dari kemungkaran, menunaikan zakat dengan memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk orang yang kurang mampu. Berarti juga telah menjalin hubungan yang baik antara orang yang mampu/punya dengan orang yang kurang punya, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dengan menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, adat istiadat, budaya yang diakui dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nila-nilai keagamaan, mencegah yang munkar, dengan cara menghindari dan mencegah segala sesuatu yang dinilai tidak baik/buruk dalam masyarakat dan juga dinilai dari kacamata agama. Saling mengingatkan dalam segala kebajikan dan salig mencegah terjadinya perbuata yang munkar. Segala urusan yang kita lakukan, semuanya ditujukan hanyalah kepada Allah, dan Allah lah yang akan menentukan kekalahan kemenangan. Yang akan membalas dengan pahala ataupun dengan siksa.

  1. 3.      Tafsir al-Misbah (Kurnia Hidayati : 2021110206)

Dalam penafsiran QS. Al-Hajj ayat 41 dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat yang diidam-idamkan islam adalah masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW, dan para Sahabat-sahabatnya. Yaitu msayarakat yang pemimpin-pemimpinya dinilai kolektif bertakwa. Orang-orang-orang yang mempunyai hubungan baik dengan Alah SWT. Sehingga perbuatan mereka baik dan jauh dari kekejian serta kemunkaran. Perbuatan baik mereka dicerminkan dengan selalu melaksanakan shalat, menjalin hubungan yang harmonis dengan anggota masyarakat, termasuk dalam semua kaum. Baik kaum berpunya ataupun kaum lemah. Yang lebih penting lagi, mereka menegakkannilai-nilai kebaikan yaitu kaum lemah. Yang lebih penting lagi, mereka menegakkan nilai-nilai kebaikan yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar, yaitu perbuatan buruk.

Lalu pelaksanaan kedua hal tersebut, dijadikan sebagai suatu control social dalam suatu masyarakat, sehingga mereka saling megingatkan dalam hal kebaikan serta saling mecegah terjadinya pelanggaran. Semoga masyarakat kita dapat meniru hal hal baik seperti yang dicontohkan masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabat beliau. Amiin .

  1. 4.      Tafsir Ibnu Katsir (Ulva Rizkililah : 20211102195)
  2. Dari penafsiran QS. Al-Hajj ayat 41, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu perbuatan para sahabat dalam membela keimanan mereka yakni mengakui ke Esa an Allah SWT dan tetap teguh menjalankan syariat agama islam, seperti halnya shalat, dan zakat. Meskipun pada hakikatnya, apa yang mereka / para sahabat lakukan mendapat kecaman dan tantangan yang tidak mudah, tetapi mereka tetap teguh pendirianya dan tetap menyakini Allah SWT sebagai Tuhan mereka.
  3. Ayat ini juga ditujukan kepada para pemimpin dan juga kepada yang dipimpin, yakni rakyat, disini tersirat bahwa seorang pemimpin dilarang bertindak sewenang-wenang, tetapi sebagai seorang pemimpin harus bias mengayomi dan sebisa mungkin mensejahterakan rakyatnya, yakni tidak terpendam rasa tidak suka / terpaksa dalam hati mereka dalam melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka terhadap pemimpin sebagai rakyat yang dipimpin.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maragi, Juz XVII, (Semarang: Toha Putra, 1993)
  • Ar-Rifa’i, Muhammad Najib. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 3
  • Al-Qur’an Bayan
  • Hamka, Tafsir Al-Azhar ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)
  • Imam Nawawi. Terjemah Riyadhus Shalihin. Jakarta : Pustaka Amani. 1996.
  • Shihab, M.Quraisy, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Al-Qur’anul Bayan. ( Jakarta : Bayan, 1996) hlm. 337.

[2] Imam Nawawi, Terjemahan Riyadus Shalihin, ( Jakarta: Pustaka Amani, 1996) hlm. 212.

[3] Hamka, tafsir Al-Azhar ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), Juz XVII, h. 177

[4] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Juz XVII, (Semarang: Toha Putra, 1993 Hal, 209-210.

[5] M.Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002),hlm, 71-75

[6] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Penerjamah Shihabudin,(Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm,. 379.

HUKUM PIDANA ISLAM DALAM KONSEP


MAKALAH

HUKUM PIDANA ISLAM DALAM KONSEP

 

Makalah ini disususn guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah                           : Fiqh II

Dosen Pengampu                   : Kuat Ismanto, M. Ag.

Disusun oleh:

  1. Ely Mustagfiroh                                  202 111 0204
  2. Indah Rediana                                                202 111 0205
  3. Kurnia Hidayati                                  202 111 0206
  4. Salafudin                                             202 111 0207
  5. Hammydiati Azifa L I                        202 111 0208

 

 

 

KELAS E

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

Perbuatan manusia yang dinilai sebagai pelanggaran atau kejahatan kepada sesamanya, baik pelanggaran tersebut secara fisik atau nonfisik, seperti membunuh, menuduh atau memfitnah maupun kejahatan terhadap harta benda lainnya, dibahas dalam jinayah. Pembahasan terhadap masalah yang sama dalam ilmu hukum, dinamai hukum pidana yang merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, strafrecht.

Dalam kitab-kitab klasik, pembahasan masalah jinayah ini hanya dikhususkan pada perbuatan dosa yang berkaitan dengan sasaran (objek) badan atau jiwa saja. Adapun perbuatan dosa selain sasaran badan dan jiwa, seperti kejahatan terhadap harta, agama, negara dan lain-lain tidak termusuk dalam jinayah, melainkan dibahas secara terpisah-pisah pada berbagai bab tersendiri.

Buku atau kitab yang memuat rincian perbuatan pelanggaran atau kejahatan dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku perbuatan tersebut dinamakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau dalam bahasa aslinya dikenal sebagai Wetboek van Strafrecht.

Dalam makalah ini akan kami bahas mengenai hokum pidana Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Hukum Pidana Islam

Hukum pidana Islam merupakan terjemahan dari kata fiqh jinayah. Fiqh Jinayah adalah segala ketentuan hukum mengenai tindak pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang mukallaf sebagai hasil dari pemahaman atas dalil-dalil hukum yang terperinci dari Al Qur’an dan Hadist.[1] Tindakan kriminal dimaksud, adalah tindakan-tindakan kejahatan yang menggangu ketentraman umum serta tindakan melawan peraturan perundang-undangan yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.

Hukum pidana Islam merupakan syariat Allah yang mengandung kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. syari’at Islam dimaksud secara materiil mengandung kewajiban asasi bagi setiap manusia untuk melaksankannya. Konsep kewajiban asasi syari’at yaitu menempatkan Allah sebagai pemegang segala hak, baik yang ada pada diri sendiri maupun yang ada pada orang lain. Setiap orang hanya pelaksana, yang berkewajiban memenuhi perintah Allah. Perintah Allah dimaksud, harus ditunaikan untuk kemaslahatan dirinya dan orang lain.[2]

Asas-asas Hukum Pidana Islam

Asas-asas hukum pidana Islam adalah asas-asas hukum yang mendasari pelaksanaan hukum pidana Islam, diantaranya:

  1. Asas Legalitas

Asas legalitas adalah asas yang menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran dan tidak ada hukuman sebelum ada undang-undang yang menyatakannya. Asas ini berdasarkan pada Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 15 dan  Surat Al-An’am ayat 19.

Kedua ayat tersebut mengandung makna bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW supaya menjadi peringatan (dalam bentuk aturan dan ancaman hukuman) kepadamu.

  1. Asas Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain

Asas ini adalah asas yang menyatakan bahwa setiap perbuatan manusia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang jahat akan mendapat imbalan yang setimpal.

Seperti yang tertulis pada ayat 38 Surat Al-Mudatsir, Allah menyatakan bahwa setiap orang terikat kepada apa yang dia kerjakan, dan setiap orang tidak akan memikul dosa atau kesalahan yang dibuat oleh orang lain.

  1. Asas Praduga Tak Bersalah

Asas praduga tak bersalah adalah asas yang mendasari bahwa seseorang yang dituduh melakukan suatu kejahatan harus dianggap tidak bersalah sebelum hakim dengan bukti-bukti yang meyakinkan menyatakan dengan tegas persalahannya itu. [3]

  1. B.     Unsur-unsur Hukum Pidana Islam

Untuk menentukan suatu hukuman terhadap suatu tindak pidana dalam hukum Islam, diperlukan unsur normative dan moral, sebagai berikut:

  1. Unsur Yuridis Normatif

Unsur ini harus didasari oleh suatu dalil yang menentukan larangan terhadap perilaku tertentu dan diancam dengan hukuman.

  1. Unsur Moral

Adalah kesanggupan seseorang untuk menerima sesuatu yang secara nyata mempunyai nilai yang dapat dipertanggung jawabkan.[4]

 

  1. Ciri-ciri Hukum Pidana Islam

Ciri-ciri hukum pidana Islam adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Islam adalah bagian dan bersumber dari ajaran agama Islam
  2. Hukum Islam mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dicerai-pisahkan dengan iman dan kesusilaan atau akhlak Islam.
  3. Hukum Islam mempunyai istilah kunci, yaitu a)syariah, dan b) fikih.
  4. Hukum Islam terdiri dari dua bagian utama, yaitu 1) hukum ibadah dan 2) hukum muamalah dalam arti  yang luas.
  5. Hukum Islam mempunyai struktur yang berlapis-lapis seprti dalam bentuk bagan bertingkat.
  6. Hukum Islam mendahulukan kewajiban dari hak, amal, dan pahala.
  7. Hukum Islam dapat dibagi menjadi: 1) hukum taklifi, 2) hukum wadh’i. [5]

 

  1. D.    Tujuan Hukum Islam

Tujuan hukum pada umumnya adalah menegakkan keadilan berdasarkan kemauan pencipta manusia sehingga terwujud ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Namun bila tujuan hukum Islam dilihat dari ketetapan hukum yang dibuat oleh Allah dan Nabi Muhammad, baik yang  termuat di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan mencegah  serta menolak segala yang tidak berguna kepada kehidupan manusia. Dengan kata lain tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia baik jasmani maupun rohani individu dan masyarakat. Kemaslahatan dimaksud, dirumuskan oleh Abu Ishak Asy-Syathibi dan disepakati oleh ahli hukum Islam lainnya seperti yang telah dikutip oleh H.Hakam Haq, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.[6]

 

  1. E.     Perbandingan  Hukum Pidana Islam dengan Hukum Pidana di Indonesia

Hukum pidana yang berlaku di Indonesia hingga kini merupakan peninggalan penjajahan Belanda yang dilandasi oleh falsafah yang berbeda dengan falsafah yang dianut bangsa Indonesia, seperti mengutamakan kebebasan, menonjolkan hak-hak individu, dan kurang berhubungan dengan moralitas.

Ancaman pidana yang dijatuhkan oleh para hakim di sidang pengadilan seringkali tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat, khususnya korban kejahatan dan keluarganya. Berbagai kejahatan dengan kekerasan seperti perampokan, pencurian, pembunuhan, perkosaan, penganiayaan yang setiap hari terjadi di depan mata masyarakat hanya diganjar hukuman ringan. Ditambah dengan faktor krisis multidimensi dan lemahnya penegakan hukum, masyarakat yang terhimpit berbagai beban bangkit melakukan perlawanan secara masal terhadap berbagai macam kejahatan tadi dan akibatnya sering sangat fatal.[7]

Hukum pidana Islam ditandai oleh kuatnya celupan (shibgah) keagamaan. Dengan demikian ketaatan seorang muslim pada hukum ini bukan atas dasar ketakutan, tetapi atas  dasar kesadaran iman. Dengan demikian menjalankan atau menegakkan hukum ini dalam pandangan seorang muslim merupakan bagian dari keislaman yang total, hukum ini juga berfungsi menjaga nilai-nilai moral (akhlak) karena hukum diturunkan dan sanksi dijatuhkan untuk menjaga akhlak manusia.[8]

.

Dalam Hukum Pidana Positif di indonesia yang menjadi perbedaan adalah bahwa tidak dapat dilakukan damai secara hukum antara keluarga pihak yang dibunuh dan orang yang membunuh. Jadi walaupun ada perdamaian antara kedua belah belah pihak proses pidananya tetap berjalan. Dalam hukum pidana positif di indonesia tidak dikenal damai yang menggugurkan proses pidana kecuali untuk kasus yang memuat delik aduan, seperti kasus pencurian dalam keluarga dan kasus perzinahan atau perselingkuhan bagi suami/istri. Delik aduan dapat dicabut kembali apabila pihak yang mengadukan tindakan pidana tersebut mencabutnya.

Perbedaannya dalam hukum pidana islam berlaku Qishaash dan Dziyat, sementara dalam hukum positif di indonesia yang di berlakukan adalah pidana penjara, kurungan, denda seperti pidana mati dan seumur hidup.

Sementara itu dalam kasus pidana positif yang berlaku di indonesia tidak berlaku perdamaian secara hukum bila terjadi perbuatan melawan hukum yang melanggar kejahatan.[9]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Hukum pidana Islam merupakan terjemahan dari kata fiqh jinayah. Fiqh Jinayah adalah segala ketentuan hukum mengenai tindak pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang mukallaf sebagai hasil dari pemahaman atas dalil-dalil hukum yang terperinci dari Al Qur’an dan Hadist.

Asas-asas hukum pidana Islam adalah asas-asas hukum yang mendasari pelaksanaan hukum pidana Islam, diantaranya:

  1. Asas Legalitas
  2. Asas Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain
  3. Asas Praduga Tak Bersalah

Tujuan hukum pada umumnya adalah menegakkan keadilan berdasarkan kemauan pencipta manusia sehingga terwujud ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Perbedaannya dalam hukum pidana islam berlaku Qishaash dan Dziyat, sementara dalam hukum positif di indonesia yang di berlakukan adalah pidana penjara, kurungan, denda seperti pidana mati dan seumur hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Ali, Zainuddin. 2007. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

Haq, Hamka. 1998. Filsafat Ushul Fiqh. Makasar:Yayasan Al-Ahkam.

Rosyada, Dede. 1992. Hukum Islam dan Pranata Sosial. Jakarta: Lembaga Study Islam dan Kemasyarakatan.

Santoso, topo.1998. Membumikan Hukum Pidana Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Unik Karlita, Perbandingan hukum Pidana Islam dangan Hukum Pidana Positif, (http://unikkarlita.blogspot.com/2011/03/perbandingan-hukum-pidana-islam-fiqh.htm,l, diakses 14 November 2011 )

 


[1] Dede Rosyada, Hukum Islam dan Pranata Sosial (Jakarta: Lembaga Study Islam dan Kemasyarakatan, 1992), hlm.86.

[2] Zainudin Ali, Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), hlm.1.

[3] Ibid, hal.5-7.

[4] Zainuddin  Ali, Ibid, hal. 22.

[5] Ibid, hal. 22-23.

[6] H.Hamka Haq, Filsafat Ushul Fiqh (Makassar: Yayasan Al-Ahkam, 19kum 98), hlm.68.

[7] Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Gema Insani Press , 2003), hlm. 84-85.

[8] Ibid, Hlm, 90.

[9]Unik Karlita, Perbandingan hukum Pidana Islam dangan Hukum Pidana Positif, (http://unikkarlita.blogspot.com/2011/03/perbandingan-hukum-pidana-islam-fiqh.htm,l, diakses 14 November 2011 )

Makalah Hadits Tarbawi: Media Pembelajaran yang Diterpkan Nabi SAW


MEDIA PEMBELAJARAN YANG DITERAPKAN NABI SAW DALAM MELAKUKAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Hadits Tarbawi
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan
Tahun Akademik 2010/2011

Oleh:

1. Kartika Anggun Pratiwi 202 111 0190
2. Kurnia Hidayati 202 111 0206
4. Saikhu 202 111 0216
5. Muhammad Muslimin 202 111 0220
6. Lukman Hakim 202 111 0235

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2011
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “Media Pembelajaran yang Diterapkan Nabi SAW dalam Melakukan Kegiatan Belajar Mengajar” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikantantang media pembelajaran pada masa Rasulullah. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami media pembelajaran pada masa Rasulullah serta mampu membandingkan dengan konteks kekinian. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Kurdi Fadhal, MHI, M.Si selaku dosen pembimbing Hadits Tarbawi dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Hadits Tarbawi. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

Pekalongan, 23 Oktober 2011

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran alat / media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media pengajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Alat / Media merupakan sarana yang membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indera pendengaran dan penglihatan, bahkan adanya alat / media tersebut dapat mempercepat proses pembelajaran murid karena dapat membuat pemahaman murid lebih cepat pula.
Penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Bukan pada masa modern saja, penggunaan media atau alat bantu pembelajaran juga sudah dikenal sejak masa Nabi SAW. Nabi SAW adalah sosok pendidik yang agung bagi umat manusia. Meskipun pendidik pertama-adalah Allah SWT. Nabi Muhammad pada dasarnya mempresentasikan dan mengejawantahkan apa yang diajarkan melalui tindakan, kemudian menerjemahkan tidakannya dalam kata-kata. Sehingga segala “materi” yang diajarkan Muhammad akan segera diterima para sahabatnya karena ucapannya yang diawali dengan contoh tindakan konkret.
Nabi Muhammad adalah sosok pendidik agung bagi umat islam. Meskipun pendidik pertama sebagai mana diyakini umat islam adalah Allah SWT. Praktek pendidikan Rasul penuh dengan muatan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Media Pembelajaran Nabi SAW
Berikut ini adalah contoh hadits tentang media pembelajaran yang digunakan Rasulullah di sela-sela kegiatan belajar mengajar.
1. Membentuk Lingkaran

Terjemah: Nabi bersabada : “Tiada Tuhan selain Allah, kerusakan bagi orang Arab karena keburukan yang mendekati, hari semakin hari terbuka dari bentengnya Ya’juj Ma’juj seperti ini.” (Nabi melingkarkan jarinya) (HR Bukhari)
2. Mengarahkan Jarinya ke Lisan

Terjemah: “Apakah kalian tidak mendengarkan: Sesungguhnya Allah tidak menyiksa disebabkan air mata dan tidak juga sebab susahnya hati, akan tetapi Allah menyiksa dengan ini. (Rasulullah mengarahkan jarinya ke lisan) atau Allah mengasihi. Sesungguhnya mayit itu disiksa sebab tangisan keluarganya. (HR Bukhari)
3. Mengepalkan Tangan

Terjemah: “Orang mukmin terhadap mukmin bagaikan bangunan yang saling mengokohkan. (Rasulullah menyatukan kedua telapak tangannya). (HR Bukhari)
4. Isyarat Tangan

Terjemah: “Mintalah pertolongan dengan tangan kananmu.” (Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya untuk menulis) (HR Tirmidzi)
5. Isyarat Dada

Terjemah: “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kamu dan tidak pula bentuk kamu, akan tetapi Allah melihat hati kamu.” (Nabi memberi isyarat dengan menunjuk ke arah dada dengan jarinya) (HR Bukhari)

Dari beberapa hadits di atas dapat kita ambil nilai-nilai pembelajaran yang di berikan Nabi. Apa yang di ajarkan Nabi merupakan persoalan yang berkaitan dengan materi pendidikan, dan menjadi karakteristik selanjutnya dengan pendidikan Nabi. Pendidikan Akhlak merupakan sisi lain dari pendidikan Nabi yang menjadi jiwa dari pendidikan Muslim.
Usaha Nabi dalam menanamkan akidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya yaitu dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh / teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” barangkali dapat diidentifikasikan dengan “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya.

B. Media Pembelajaran dalam Konteks Kekinian
Kata media sebenarnya berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Kalau kita lihat perkembangan media, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru.
Jenis Alat / Media
Para ahli mengklasifikasikan alat / media kepada dua bagian, yaitu alat yang bersifat benda (materiil) dan yang bukan benda.
1. Alat yang bersifat benda
Pertama, media tulis, seperti Al-Qur’an, Hadis, Tauhid, Fiqih, Sejarah. Kedua, benda-benda alam seperti hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Ketiga, gambar-gambar yang dirancang seperti grafik. Keempat, gambar yang diproyeksikan, seperti video, transparan. Kelima, audio recording (alat untuk didengar), seperti kaset, tape, radio, dan lain-lain.
2. Alat yang bersifat bukan benda
Di antara alat / media pengajaran yang bukan berupa benda adalah :
(1). Keteladanan
(2). Perintah / Larangan
(3). Ganjaran dan Hukuman.
Dengan melihat manfaat alat / media tersebut di atas, maka akan memberikan pengaruh terhadap peserta didik yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, dan juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi. Sehingga besar kemungkinan dengan memperhatikan alat / media pengajaran itu, tujuan pendidikan akan tercapai secara efektif dan efisien.

C. Manfaat media pembelajaran
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.

C. Nilai Tarbawi
Dari berbagai penjelasan di atas. Dapat dilihat bahwa Nabi SAW merupakan seorang guru yang teladan. Sebagai seorang guru, Nabi Muhammad SAW, tidak hanya berorientasi kepada kecakapan-kecakapan ranah cipta saja, tetapi juga mencakup dimensi ranah rasa dan karsa. Sebagai contoh menggunakan media-media dalam pengajaran agar peserta didiknya menjadi jelas menyerap apa yang diajarkan.
Sebagai seorang pendidik, media pembelajaran perlu digunakan supaya memberikan pengaruh terhadap peserta didik yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, dan juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi.

BAB III
KESIMPULAN

Usaha Nabi dalam menanamkan akidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya yaitu dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh / teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” barangkali dapat diidentifikasikan dengan “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya.
Media pembelajaran bisa berupa alat yang bersifat bukan benda dan alat yang bersifat benda. Manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiani Mustikasari, Mengenal Media Pembelajaran, (http://edu-articles.com/mengenal-media-pembelajaran/2011/10/25, diakses 25 Oktober 2011)

Kitab Sunan Al Tirmidzi.
Kitab Sahih Bukhari.
Kitab Sahih Muslim.

Mahmud, Media Pembelajaran PAI, ( http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/10/media-pembelajaran-pai.html/2011/10/24, diakses 24 Oktober 2011)

Sadiman. Arief S, Raharjo, R. dkk. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Untung,Moh. Slamet. 2007. Menulusuri Metode Pendidikan Ala Raulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

.

Makalah: Kepribadian dan Sikap Keagamaan


KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Psikologi Agama

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Ani Maftuchah            2021110201

Mubarokah                  2021110202

Afik Fatkhurrahman   2021110203

Ely Maghfiroh             2021110204

Indah Rediana                        2021110205

Kurnia Hidayati          2021110206

 

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

Kepribadian dalam khasanah peradaban dan pemkiran Islam telah mendapatkan posisi yang penting meski tidak pernah disebut teori. Konsep-konsep kepribadian tersebut semuanya berbahan buku yang sama, yaitu dua raja dalil ( Al-Qur’an dan Al-Hadits). Penafsiran keduanya menjadi karya-karya tulis yang luar biasa. Memang tidak mudah untuk menyusun teori alternatif bagi teori kepribadian. Belajar dari teori-teori kepribadian yang ditawarkam psikologi kontemporer.

Sebenarnay tidak pantas untuk menyandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah SAW dengan kata-kata keilmuan psikologi, terutama psikologi barat. Tetapi selama ilmu itu bersifat eksakta dan sains murni maka ia merupakan bagian dari sunatullah yang boleh di sadur sebagai khasanah kekayaan intelektual.


BAB II

KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN

 

  1. Pengertian dan Teori Kepribadian

Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah:

  1. Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Pengertian secara definitif yang dikemukakan dalam Oxford Dictionary:

Mentality   = Intellectual Power.

= Integrated activity of the organism.

  1. Personality, menurut Wibters Dictionary adalah:
    1. a.      The totality of personality’s characteristic.
    2. An integrated group of constitution of trends behavior tendencies act.
    3. Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainya.
    4. 4.      Identity, yaitu sifat kedirian sebagai suatu satu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance of personality).[1]

 

Selanjutnya berdasarkan pengertian dari kata-kata tersebut, beberapa ahli mengemukakan definisinya sebagai berikut: [2]

1)      Allport

Dengan mengecualikan beberapa sifat kepribadian dapat dibatasi sebagai cara bereaksi yang khas dari seseorang individu terhadap perangsang sosial dan kualitas penyesuaian diri yang dilakukannya terhadap segi sosial dari lingkungannya.

2)      Mark A. May

Apa yang memungkinkan seseorang berbuat efektif atau memungkinkan seseorang mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Dengan kata lain kepribadian adalah nilai perangsang sosial seseorang.

3)      Woodwort

Kualitas dari tingkah laku seseorang.

4)      Morisson

Keseluruhan dari apa yang dicapai seseorang individu dengan jalan menampilkan hasil-hasil kultural dari evolusi sosial.

5)      Hartmann

Susunan yang terintegritaskan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas yang diperlihatkannya kepada orang lain.

6)      L.P Thorp

Sinonim dengan pikiran tentang berfungsinya seluruh individu-individu secara organisme yang meliputi seluruh aspek yang secara verbal terpisah-pisah seperti: Intelek, watak , motif dan emosi, minat, kesediaan untuk bergaul dengan orang lain (sosialias) dan kesan individu yang ditimbulkanya pada orang lain serta efektivitas sosial pada umumnya.

7)      C.H Judd:

Hasil lengkap serta merupakan suatu keseluruhan dari proses perkembangan yang telah dilalui individu.

8)      Wetherington

Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas wetheringthon menyimpulkan, bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
  2. Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu.
  3. Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pkiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.
  4. Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang.
  5. Kepribadian tidak berkembang secara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial.

Selanjutnya dari sudut filsafat dikemukakan pendapat: [3]

  1. William Stern

Menurut W.Stern kepribadian adalah suatu kesatuan banyak (Unita multi compleks) yang diarah kan kepada tujuan-tujuan terentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri.

Dalam uraian selanjutnya ia mengemukakan ciri-ciri kepribadian:

  1. Kesatuan banyak: Mengandung unsur-unsur yang banyak dan tersusun secara hierarki dari unsur yang berfungsi tinggi ke unsur yang rendah.
  2. Bertujuan: mempunyai tujuanyang erdiri dari mempertahankan diri dan mengembangkan diri.
  3. Individualitas: Merdeka untuk menentukan dirinya sendiri dan kesadaran tidak termasuk ke dalamnya.

Berdasarkan pendapat ini W.Stern menganggap bahwa Tuhan juga termasuk suatu pribadi, karena Tuhan menurutnya mempunyai tujuan dalam diri Nya dan tidak ada tujuan lain di atas Nya.

  1. Prof. Kohnstamm

Ia menentang pendapat W.Stern yang meniadakan kesadaran dalam pribadi terutama pada Tuhan. Menurut Kohnstamm Tuhan merupakan pribadi yang menguasai alam semesta. Dengan kata lain kepribadian sama artinya dengan teistis (Keyakinan). Orang yang berkepribadian menurutnya adalah orang yang berkeyakinan ke-Tuhanan.

Selanjutnya dari pendapat yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pribadi seseorang terkumpul beberapa aspek yang terintegrasikan, berupa:

 

  1. Keyakinan hidup yang dimiliki seseorang: Filsafat, keyakinan, cita-cita, sikap dan era hidupnya.
  2. Keyakinan mengenai diri: perawakan jasmani, sifat psikis, intelegensi, emosi, kemauan, pandangan terhadap orang lain, kemampuan bergaul, kemampuan memimpin, dan kemampuan bersatu.
  3. Keyakinan mengenai kemampuan diri: status diri dalam keluarga dan masyarakat, status sosial berdasarkan keturunan dan historis.

Manusia melaksanakan perbuatanya untuk memenuhi naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya. Perkumpulan perbuatan-pernuatan tersebut adalah tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bergantung pada pemahaman-pemahaman atau (mafahim) manusia tentang segala sesuatu (asyya’), aktivitas dan kehidupan. Tingkah lakulah yang menunjukkan kepribadian manusia, sedangkan tampan, postur tubuh, warna kulit atau jenis kelamin itu tidak menentukan kepribadian. [4]

Kepribadian adalah metode berfikir manusia terhadap realita. Kepribadian juga merupakan kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap realita. [5]

Kepribadian yang khas adalah kepribadian dimana pola pikir dan pola jiwa pemiliknya terdiri dari satu jenis. Lalu kecenderungan nya tunduk kepa dan kecenderungannya, maksudnya pola jiwa nya tunduk pada pola pikirnya. Ia cenderung pada segala sesuatu (benda) dan perbuatan sesuai dengan pemahaman-pemahamannya dalam memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan mensetandarkan pada standar pemikiran dasar (ideologi). [6]

Kepribadian yang khas ini tidak terwujud kecuali dengan kepribadian yang berideologi (mabda’iyah) seperti kepribadian islam, kepribadian kapitalisme, dan kepribadian komunisme karena pola pikir dan pola jiwa setiap kepribadian tersebut standarnya pada pemikiran dan kecenderungan nya yaitu aqidah aqliyah yang memancarkan sistem untuk mengatur semua interaksi manusia inilah yang dinamakan ideologi. [7]

Kepribadian tidak khas adalah pola pikirnya berbeda dengan pola jiwanya, kepribadian yang tidak khas ini tumbuh pada seseorang ketika standar yang membangun pemikirannya berbeda dengan standar yang membangun kecenderungan nya.

Orang-orang yang memilki kepribadian tidak khas, tingkah laku mereka selalu tampak gelisah dan kacau, karena pemikiran mereka adalah bukan kecenderungan mereka.

Kepribadian yang tidak khas terkadang menjadi kepribadian kacau. Memilik kepribadian yang tidak khas ini tidak membuat kaidah-kaidah yang tetap untuk pola pikir dan pola jiwanya. Jadi pemikiran dan kecenderungan nya terhadap segala seseuatu dan perbuatan saling berselisih, kontradiksi, berbeda-beda dan terpengaruh oleh lingkungan dari waktu ke waktu.

Kepribadian tidak khas terkadang stagnan. Orang yang memiliki kepribadian tersebut menjadikan sebuah kaidah atau kaidah-kaidah yang kokoh untuk menghukumi perbuatan dan segala sesuatu (benda-benda) yang terindra olehnya. [8]

  1. B.     Tipe-tipe Kepribadian

Secara garis besarnya pembagian kepribadian manusia ditinjau dari berbagai aspek: [9]

 

  1. Aspek biologis

Aspek biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya bedasarkan aspek biologis ini antaranya:

  1. Hippocrates dan Galenus

Mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan, yaitu:

1)      Tipe choleris

Tipe ini disebabkan cairan empedu kuning yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak emosi: mudah marah mudah tersinggung.

2)      Tipe Melancholis

Tipe ini disebabkan cairan empedu hitam yang dominan dalam tubuh nya. Sifatnya agak tertutup : rendah diri, mudah sedih, sering putus asa.

3)      Tipe Plegmatis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan lendir yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak statis: Lamban, apatis, pasif, pemalas.

4)      Tipe Sanguinis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan darah merah yang dominan. Sifat yang dimilkinya agak aktif, cekatan, periang, mudah bergaul.

  1. Cretchmer

Dalam membagi tipe wataknya Cretchmer mendasarkan pada bentuk tubuh seseorang, yaitu :

1)      Tipe Astenis (Litosome)

Yaitu tipe orang yang memiliki tubuh tinggi, kurus, dada sempit dan lengan kecil.

2)      Tipe Piknis

Yaitu tipe orang yang memiliki bentuh tubuh gemuk bulat. Sifat yang dimilikinya antaralain : Periang, mudah bergaul dan suka humor.

3)      Tipe Atletis

Yaitu Tipe orang yang memiliki bentuk tubuh tubuh atlit tinggi, kekar dan berotot, sifat-sifat yang dimiliki antara lain: mudah menyesuaikan dri, berpendrian teguh dan pemberani.

4)      Tipe Displastis

Yaitu Tipe manusia yang memiliki bentuk tubuh campuran. Sifat yang dimiliki tipe ini adalah sifat yang mudah terombang ambing oleh situasi sekelilingnya. Oleh karena itu di istilahkan Cretchmer tpe ini adalah tipe orang yang tidak mempunyai ciri kepribadian yang mantab.

  1. Sheldon

Sheldon membagi tipe kepribadian berdasarkan dominasi lapisan yang berada dalam tubuh seseorang. Berdasar aspek ini ia membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Ektomorph, yaitu tipe orang yang berbadan kurus tinggi, karena lapisan badan bagian luar yang dominan. Sifatnya antara lain suka menyendiri dan kurang bergaul pada masyarakat.

2)      Tipe Mesomorph, yaitu tipe orang yang berbadan sedang dikarenakan lapisan tengah yang dominan. Sifat orang tipe ini adalah: giat bekerja dan mampu mengatasi sifat agresif.

3)      Tipe Endomorph, yaitu tipe orang yang berbadan gemuk, bulat dan anggota badan yang pendek, karena lapisan dalam tubuhnya yang dominan. Sifat tipe orang ini adalah: kurang cerdas, senang makan, suka dengan kemudahan yang tidak banyak membawa resiko dalam kehidupan.

  1. Aspek Sosiologis

Pembagian ini didasarkan pada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologi ini antara lain:

  1. Edward Spranger.

Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi:

1)        Tipe Teoritis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada masalah teori dan nilai-nilai: ingin tahu, meneliti dan mengemukakan pendapat.

2)        Tipe Ekonomis, Orang yang perhatianya tertuju kepada manfaat segala sesuatu berdasarkan faidah yang dapat mendatangkan untung rugi

3)        Tipe Esthetis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada masalah-masalah keindahan.

4)        Tipe Sosial, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada kepentingan masyarakat dan pergaulan.

5)        Tipe Politis, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada kepentingan kekuasaan, kepentingan dan Organisasi.

6)        Tipe Religius, Orang yang perhatianya selalu diarahkan kepada ketaatan pada agama. Senang dengan masalah-masalah ketuhanan dan keyakinan agama.

  1. Murray

Murray membagi tipe kepribadian:

1)      Tipe Teoritis, yaitu orang yang menyenangi ilmu pengetahuan, berpikir logis dan rasional.

2)      Tipe Humanis, yaitu tipe orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang mendalam.

3)      Tipe Sensasionis, yaitu tipe orang yang suka sensasi, berkenalan.

4)      Tipe Praktis yaitu tipe orang yang giat bekerja dan mengadakan praktek.

 

  1. Fritz kunkel

Fritz kunkel membagi tipe kepribadian menjadi:

1)      Tipe Sachelichkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat.

2)      Tipe Ichhaftigkeit, yaitu tipe orang yang menaruh perhatianya kepada kepentinganya sendiri.

Menurut Fritz kunkel antara Tipe Sachelichkeit dan Tipe Ichhaftigkeit berbanding terbalik. Jika seseorang memiliki Sachelichkeit yang besar maka, Ichhaftigkeit menjadi kecil dan sebaliknya.

  1. Aspek Psikologis
  2. Dalam membagi tipe kepribadian berdasarkan tipe psikologis Prof. Heymann mengemukakan, bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur: emosionalitas, aktifitas dan fungsi sekunder (proses pengiring)

1)   Emosionalitas, merupakan unsur yang mempunyai sifat yang di dominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah: kurang respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, ingin menguasai, bercita-cita yang dinamis, pemurung suka berlebih-lebihan.

2)   Aktifitas, sifat yang dikuasai oleh aktifitas gerakan, sifat umum yang tampak adalah: lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang, dan selalu melindungi orang lemah.

3)   Fungsi sekunder (proses pengiring), yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak: watak tertutup, tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya.

 

  1. C.    HUBUNGAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
    1. Struktur kepribadian Sigmound freud

Merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memilki jiwa sehat ketiga sistem itu bekerja dalam susunan yang harmonis. Segala bentuk tujaun dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan dirinya dan lingkingannya. Dengan kala lain efisiensinya menjadi berkurang.

a. Id (das es)

Sebagai suatu sistem Id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah. Dengan kata lain Id mengemban prinsip kesenangan (Pleasure Principle), yang tujuanya untuk membebaskan manusia dari ketegangan dorongan naluri dasar: makamn, minum, seks dll.

  1. Ego (das es)

Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan Id ke keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang di emban oleh ego sebagai prinsip kenyataan (objektive atau reality principle). Segala bentuk dorongan naluri dasar dari Id hany dapat direalisasi dalam bentuk nyata melalui bantuan ego. Ego juga mengandung prinsip kesadaran

  1. Super Ego (das Uber ich)

Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur mural dan keadilan. Maka sebagian besar Super Ego mewakili alam ideal. Tujuan Super Ego adalah membawa individu kearah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral. Ia merupakan kode modal seseorang dan berfungsi pula sebagai pengawas tindakan yang dilakukan oleh ego. Jika tindakan itu sesuai dengan pertimbangna moral dan keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang. Sebaliknya jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa rasa gelisah dan cemas. Super Ego mempunyai dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani.

 

 

 

  1. 2.      H.J Eysenck

Menurut Eysenck kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari yang paling bawah ke yang paling tinggi adalah:

a)      Specifik response, yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu, jadi khusus sekali.

b)   Habitual response, mempunyai corak yang lebih umum dari pada Specifik response, yaitu respon-respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.

c)    Trait, yaitu terjadi saat Habitual response yang saling berhubungan satu sama lain dan cenderung ada pada individu tertentu.

d)   Tipe, yaitu organisasi dalam individu yang lebih umum, lebih mencakup lagi.

 

  1. 3.      Sukamto M.M

Menurut pendapat Sukamto M.M kepribadian terdiri dari empat sistem atau aspek:

  1. Qalb (Angan-angan kehatian).
  2. Fuad (Perasaan/hati nurani/ulu hati).
  3. Ego (Aku sebagai pelaksana dari kepribadian).
  4. Tingkah laku (Wujud gerakan)

Meskipun keempat aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun keempatnya berhubungan dengan erat dan tidak dapat dipisahkan.

a)      Qalb

Adalah hati yang menurut istilah kata atau terminologis adalah sesuatu yang berbolak balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata Qolaba, artinya membolak-balikan. Qalb bisa diartikan hati sebagai hati sekepal(biologis), dan juga bisa bersrti’ kehatian’ (nafsiologis). Ada sebuah hadist nabi riwayat bukhari muslim berbunyi sebagai berikut: “ ketehuilah bahwa didalam tubuh ada sekepal daging. Kalau itu baik, baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak- rusak lah seluruh tubuh. Itulah qalb”

Secara nafsiologis qalb disini dapat diartikan sebagai radar kehidupan dilaksanakan. Qalb adalah reservoir energi nafsiah yang menggerakkan ego dan fuad. Dilihat dari beberapa segi, ada kecenderungan bahwa teori freud tentang Id mirip dengan karakter hati yang tidak berisi iman, yaitu qalb yang selalu menuntut kepuasan dan menganut prinsip kesenangna (pleasure principle). Ia menghendaki agar segala sesuatu segera dipenuhi atau dilaksanakan. Kalau satu segi sudah terpenuhi, ia menuntut lagi yang lain, dan begitu seterusnya. Ia menjadi anak manja dari kepribadian.

 

b)      Fuad

Fuad adalah perasaan yang terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati) dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati dan merasakan akibatnya, kalau hati kufur, Fuad pun kufur dan menderita. Kalau hati bergejolak karena terancam oleh bahaya atau hati tersentuh oeh siksaan batin, fuad terasa seperti terbakar. Kalau hati tenang, Fuad pun tentram dan senang. Satu segi kelebihan fuad dibanding dengan hati ialah, bahwa fuad itu dalam situasi yang bagaimanapun, tidak bisa dusta. Ia tidak bisa menghianati kesaksian terhadap yang dipantulkan oleh hati dan apayang diperbuat oleh ego. Ia berbicara apa adanya. Berbagai rasa yang dialami oleh fuad ditutukan dalam al-quran sebagai berikut:

1)      Fuad bisa bergoncang gelisah (Qs al-Qashas: 10)

Dan fuad ibu musa menjadi bingung (kosong) Hampir saja ia membukakan rahasia (Musa), Jika aku tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia menjadi: orang yang beriman.

2)      Dengan diwahyukannya al-quran kepada Nabi, fuad Nabi menjadi teguh (QS al-furqan: 32)

Dan orang-orang kafir bertanya: “ mengapa al-quran tidak diturunkan kepadanya dengan sekaligus”? Demikianlah, karena dengan (cara) itu, Aku hendak meneguhkan fuadmu, dan aku bacakan itu dengan tertib (sebaik-baiknya)

3)      Fuad tidak bisa berdusta (QS Anm Najm: 11):

Fuad tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.

4)      Orang yang zalim hatinya kosong (bingung). (QS Ibrahim:43):

Dengan terburu-buru sambil menundukkan kepala, mereka tidak berkedip, tetapi fuadnya kosong (bingung)

5)      Orang musrik, fuad dan pandanganya dibolak-balikan atau diguncang (QS al-an’am: 110):

Aku goncangkan fuad dan pandangan mereka (kaum musrikin), sebagaimana jejak semula mereka tidak mau beriman, dan aku biarkan mereka dalam kedurhakaanya mengembara tanpa arah tertentu.

c)      Ego

Aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Ego atau aku bisa dipandang sebagai eksekutif kepribadian, mengntrol cara-cara yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan, memilih objek-objek yang bisa memenuhi kebutuhan, mempersatukan pertentangan-pertenangan antara qalb dengan fuad dengan dunia luar. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang objek (dunia realitas). Didalam fungsinya, Ego berpegang pada prinsip kenyataan atau realiti principle. Tujuan prinsip kenyataan ini adalah mencari objek yang tepat (serasi), Untuk mereduksikan keteganganya yang timbul dalam organisme. Ia merumuskan suatu rencana pemuasan kebutuhan dan mengujinya (biasanya dengan tindakan). Untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil atau tidak.

d)     Tingkah laku

Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersifat objektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang di sadari oleh pribadi. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan, adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya.

Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal soleh disegala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal yaitu, sifat-sifat dholim, fasik, syirik, kufur, nifak, dan sejenis itu. [10]

 

  1. D.    DINAMIKA KEPRIBADIAN

Selain tipe dan struktur kepribadan juga memiliki dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktifitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:

  1. Energi rohaniyah (psychis energy) yang berfungsi sebagai pengatur aktifitas rohaniyah seperti berfikir, mengingat, mengamati dan sebagainya.
  2. Naluri yang berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan, minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniyah dan gerak hati. Berbeda dengan energi rohaniyah, maka naluri mempunyai sumber (pendorong), maksud dan tujuan.
  3. Ego (aku sadar) yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri drngan cara melakukan aktifitas penyesuain dorongan-dorongan yang ada dengan kenyaaan obyektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisaahan atau ketegangan batin.
  4. Super ego yang berfungsi sebagai ganjaran batin baik berupa penghargaan (rasa puas, senang dan berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa dan menyesal). Penghargaan batin diperankan oleh ego-ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani. [11]

Pemenuhan dorongan pertama akan menyebabkan terjadi kegelisahan pada ego, sedangkan pemenuhan dorongan kedua akan menjadikan ego tentram. Dengan demikian, kemampuan ego untuk mempertahankan diri tergantung dari pembentukan ego-ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan kaitanya agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan moral dan ahlak ini adalah upaya membekali ego-ideal dengan nilai-nilai luhur.

Dalam konteks ini terlihat bagaimana pentingya pendidikan agama diberikan kepada anak-anak dalam usia dini dalam upaya mengisi nilai-nilai agama agar karakternya terbentuk, oleh pengaruh nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai agama ini kemudian akan memperkuat ego-ideal yang sekaligus akan berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin. Jika kondisi ego-ideal ini berperan secara dominan dalam diri seseorang, maka ego akan senantiasa terpelihara dari pengaruh dorongan naluri yang menyalahi norma dan agama.  [12]

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

Dalam kaitanya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketenteraman dalam batinya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhanya yang bertentangan dengan realita yang ada. Misalnya dorongan untuk makan ingin dipenuhi, tetapi makanan tidak ada (realita) maka timbul dorongan untuk mencuri. Jika perbuatan itu dilaksanakan, maka  ego (aku sadar), akan merasa bersalah karena mendapat hukuman dari ego ideal ( norma yang terbentuk dalam batin baik oleh norma masyarakat maupun agama). Sebaliknya jika dorongan untuk mencuri tidak dilaksanakan, maka ego akan memperoleh penghargaan dari hati nurani.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:1996), PT. RajaGrafindo Persada.

Purwanto, Yadi, Psikologi Kepribadian, (Bandung: 2007), PT. Refika Aditama.

 

 


[1] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:1996), PT. RajaGrafindo Persada. H. 149

 

[2] Jalaludin, Ibid. H. 150-151

 

[3] Jalaludin, Ibid. H. 151

 

[4] Yadi Purwanto, Psikologi Kepribadian, (Bandung: 2007), PT. Refika Aditama. H. 253-254

[5] Ibid. H.254

[6]Ibid. H. 263-264

[7] Ibid. H. 271

 

[8] Yadi Purwanto,Ibid. H. 273-274

[9] Jalaludin, Loc. Cit. H. 153-160

[10] Jalaludin, Ibid. H. 160-165

[11] Jalaludin, Ibid. H. 166

[12] Jalaludin, Ibid. H. 167-168

KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN; PSIKOLOGI AGAMA


KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
  1. Pengertian Kepribadian
Menurut Pervin dan John:
    kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi yang berbeda-beda. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Dibandingkan dengan konsep trait, tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besar daripada trait.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
    * Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga:
          – Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
          – Trait konsisten dari situasi ke situasi
* Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena:
          – ada proses adaptif
          – adanya perbedaan kekuatan, dan
          – kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
  1. Sikap Keagamaan
Sikap keagamaan dalam agama terdiri dari berbagai pengaruh terhadap keyakinan dan perilaku keagamaan, dari pendidikan yang kita terima pada masa kanak-kanak, berbagai pendapat dan sikap orang-orang di sekitar kita, dan berbagai tradisi yang kita terima dari masa lampau. Mungkin kita cendrung menganggap faktor ini kurang penting dalam perkembangan agama kita dibandingkan dengan penelitian para ahli psikologi. Tidak ada seorang pun di antara kita dapat mengembangkan sikap-sikap keagamaan kita dalam keadaan terisolasi dari saudara-saudara kita dalam masyarakat. Sejak masa kanak-kanak hingga masa tua kita menerima dari perilaku orang-orang di sekitar kita dan dari apa yang mereka katakan berpengaruh terhadap sikap-sikap keagamaan kita. Tidak hanya keyakinan-keyakinan kita yang terpengaruh oleh faktor-faktor sosial, pola-pola eksperesi emosianal kita pun, sampai batas terakhir, bisa dibentuk oleh lingkungan sosial kita.
Faktor-faktor sosial juga tampak jelas dalam pembentukan keyakinan keagamaan, tetapi secara prinsip ia tidak melalui penampilan yang berlandasan penalaran sehingga keyakinan-keyakinan seseorang terpegaruh oleh orang lain. Tidak diragukan sama sekali bahwa penalaran memainkan peranan dalam intraksi timbal-balik di antara berbagai sistem keyakinan banyak orang, tetapi peranan jauh lebih kecil dibandingkan dengan proses-proses psikologik lain yang non-rasional. Tidak ada seseorang pun dapat beranggapan banwa cara untuk mengajarkan tentang Tuhan kepada anak kecil adalah dengan mengemukakan argumen rasioanal mengenai adanya Tuhan itu. Pengajaran harus dilakukan lebih dahulu, sedangkan saat bagi argumen-argumen penegasan tentang kebenaran ajaran-ajaran agama yang diberikan oleh orang-orang terhormat (terutama bila penegasannya diulang-ulang dan dengan penuh keyakinan) mungkin berpengaruh yang didasarkan atas penalaran, adalah sugesti. Agar kita dapat memahami faktor sosial dalam agama itu, kita harus menelaah psikologi segesti ini.
Konflik Moral
Ahli psikologi tidak mau membicarakan masalah-masalah filosofik yang berkaitan dengan hakikat kewajiban-kewajiban filosofik yang berkaitan dengan hakikat kewajiban-kewajiban yang disebabkan oleh hukum moral itu. Hukum moral bisa dianggap sebagai sistem tatanan sosial yang dikembangkan oleh suatu masyarakat dan diteruskan kepada generasi-genarasi berikutnya melalui proses pengkondisian sosial. Di pihak lain, ia juga dapat dianggap sebagai sistem kewajiban yang mengikat manusia tanpa mempermasalahkan apakah sistem itu bermanfaat atau tidak dilihat dari sisi sosial.
Sejumlah masyarakat menyatakan bahwa kewajiban-kewajiban ini dikendalikan secara intuitif; sementara masyarakat-masyarakat lainnya berpendapat bahwa kewajiban-kewajiban itu bisa didedukasikan dengan berbagai proses penalaran, dan masyarakat-masyarakat lainnya lagi menganggpa kewajiban-kewajibab itu diwahyukan [oleh Tuhan] secara adikodrati. Apapun jawaban yang bisa diberikan terhadap persoalan-persoalan etik ini, masalah yang penting bagi ahli psikologi adalah bahwa konflik moral itu merupakan fakta psikologik yang benar-benar ada.
Source:

http://krewengcool.blogspot.com/2011/05/kepribadian-dan-sikap-keagamaan.html

Tema, Topik, dan Judul


TEMA, TOPIK, DAN JUDUL

 

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Bahasa Indonesia

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

  1. Fitriana Mushofa                     202 111 0189
  1. Kartika Anggun Pratiwi          202 111 0190
  2. Siti Kuntari                             202 111 0191
  3. Laili Masrukhah                      202 111 0193
  4. Kurnia Hidayati                      202 111 0206
  5. Toto Suwiryo                          202 109 390

 

 

 

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji syukur penulis pamjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “tema,            topik, dan Judul” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.

Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang tema, topik, dan judul. Dan dengna adanya mekalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memehami cara menentukan tema, topik, dan judul yang baik dan benar. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Muchammad Fauzan, M.Pd, selaku dosen pembimbing Bahasa Indonesia dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Bahasa Indonesia. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

 

 

 

Pekalongan, 11 Juni 2011

 

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar isi

BAB I       PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
    1. Rumusan Masalah
    2. Metode Pemecahan Masalah
    3. Sistematika Penulisan Makalah

BAB II      TEMA, TOPIK, DAN JUDUL

  1. Definisi Tema
  2. Definisi Topik
  3. Pertimbangan Memilih Topik
  4. Pembatasan Topik
    1. Definisi Judul
      1. Pertimbangan Memilih Judul
      2. Aturan Pemilihan Judul
    2. Perbedaan Tema, Topik, dan Judul

BAB III    PENUTUP

  1. Simpulan
  2. Saran-saran/Rekomendasi

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Tema, topik, dan judul merupakan salah satu unsur terpenting dalam membuat karya ilmiah. Antara tema, topik, dan judul itu berbeda. Topik dan tema harus ditentukan sebelum mulai menulis. Sedangkan judul tidak selalu demikian. Terkadang topik juga langsung di jadikan judul.

Dalam makalah ini akan penulis sajikan pengertian atau definisi masing-masing dari topik, tema, dan judul. Serta perbedaan tema, topik, dan judul.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.

  1. Apa pengertian Tema?
  2. Apa pengrtian  Topik?
  3. Apa pengertian Judul?
  4. Bagaimana cara memilih topik yang baik?
  5. Apa saja batasan-batasan dalam topik?
  6. Bagaiman cara memilih judul yang tepat?

C. Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah yang dilakukan melelui studi literature/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Adapun langkah pemecahan masalahnya adalah menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisian serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D. Sistematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis ke dalam 3 bagian meliputi:

Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah;

Bab II, adalah pembahasan;

Bab II, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.

BAB II

TEMA, TOPIK, DAN JUDUL

 

  1. A.    Definisi Tema

Tema adalah sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Kata “tema” berasal dari bahasa Yunani tithenai yang berarti menempatkan atau meletakkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tema disebut sebagai pokok pikiran, dasar cerita.

Secara khusus, dalam karangan-mengarang, pengertian tema dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut karangan yang telah selesai dan dari sudut proses penyusunan sebuah karangan.[1]Dilihat dari sudut sebuah karangan yang sudah selesai, tema dapat diartikan sebagai amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya.[2]

Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen, puisi, novel, karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah atapnya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut.[3]

Syarat-syarat memilih tema yang baik antara lain:

1. Tema menarik perhatian penulis.

Dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.

2. Tema dikenal/diketahui dengan baik.

Maksudnya pengetahuan umum yang berhubungan dengan tema tersebut sudah dimilki oleh penulis supaya lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.

3. Bahan-bahannya dapat diperoleh.

Sebuah tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.

4. Tema dibatasi ruang lingkupnya.

Tema yang terlampau umum dan luas yang mungkin belum cukup kemampuannya untuk menggarapnya akan lebih bijaksana kalau dibatasi ruang lingkupnya.

Tema dapat dikesankan melalui:

1. Perwatakan watak-watak dalam sesebuah cerita.

2. Peristiwa, kisah, suasana dan unsur lain seperti nilai-nilai kemanusian dan kemasyarakatan yang terdapat dalam cerita.

3. Persoalan-persoalan yang disungguhkan dan kemudian mendapatkan pokok persoalannya secara keseluruhan.

4. Plot cerita.[4]

  1. B.     Definisi Topik

Pengertian topik adalah berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti tempat, dalam tulis menulis bebarti pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel.[5] Topik atau masalah adalah pokok pembicaraan. Menurut Kridalaksana topik adalah (1) bagian kalimat yang diutamakan dari beberapa hal yang mengikutinya ; kerangka yang bersangkutan dengan ruang, waktu, dan benda. Keraf mengatakan, penulis lebih baik menulis hal-hal yang sifatnya menarik bagi penulis sendiri dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui dan dipahami daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahui.[6]

  1. 1.      Pertimbangan Memilih Topik

Untuk menghasilkan sebuah karangan yang baik, pengarang harus memilih topik yang menarik hatinya. Manurut Arifin, berikut hal-hal yang dipertimbangkan dalam memilih topik.

1. Topik yang dipilih harus berada di sekitar penulis, baik disekitar pengalaman penulis maupun disekitar pengetahuan penulis.

2. Topik yang dipilih hendaknya yang menarik perhatian penulis

3. Topik yang dipilih berpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan terbatas.

4. Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif, bukan subjektif seperti angan-angan.

5. Topik yang dipilih harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya walaupun serba sedikit. Artinya, topik yang dipilih janganlah terlalu baru bagi penulis.

6. Topik yang dipilih harus memiliki acuan berupa bahan kepustakaan yang akan memberikan informasi tentang pokok persoalan yang akan ditulis.[7]

  1. 2.      Pembatasan Topik

Topik yang akan diangkat dalam permasalahan haru dibatasi sampai tahap yang paling sempit dan terbatas agar pembatasanny tidak terlalu luas dan terarah.

Cara mempersempit itu seperti disebutkan “Cipta Lika Caraka” dapat dilakukan sebagai berikut.

1. Menurut tempat

Contoh, Indonesia lebih khusus daripada dunia, pulau jawa lebih khusus daripada tanah air Indonesia, dan sebagainya.

  1. Menurut waktu/ periode zaman

Contoh, “Perkembangan Islam” bisa dibatasi “ Perkembangan Islam di Masa Nabi Muhammad SAW”

3. Menurut Hubungan Kausal

Contoh, “Perkembangan Islam” dapat dikhususkan pembahasannya menjadi “Sebabnya Islam Tersiar”

4. Menurut pembagian bidang kehidupan manusia (politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kesenian)

Contoh, Topi “ Pembangunan di Indonesia” dapat dibatasi menjadi “ Pembangunan Politik Masa Orde Baru”

5. Menurut aspek umum-khusus

Contoh, Topik “ Pengaruh Kebijaksanaan 15 November 1978 Terhadap Masyarakat” dapat dikhususkan menjadi “ Pengaruh Kebijaksanaan 1978 Terhadap Usaha Kerajinan Rotan di Amuntai”

6. Menurut objek material dan objek formal

Objek material ialah bahan yang dibicarakan, sebagai objek formal ialah dari sudut mana bahan itu ditinjau.

Contih: “Perkembangan Pers di Indonesia di Tinjau dari Segi Kebebasannya. Perkembangan Pers di Indonesia sebagai objek material, dan di Tinjau dari Segi Kebebasannya adalah objek material.[8]

C. Definisi Judul

      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, judul di definisikan sebagai (1) nama yang dipakai untuk nama buku atau bab dalam buku yang dapay menyiratkan secara pendek isi atau maksud buku dalam bab itu; (2) kepala karangan judul dalam suatu karya ilmiah harus berbentuk frasa, bukan kalimat atau kata.[9]

Pengertian lain tentang judul, sebagai berikut.

  • Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain; identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersipat menjelaskan diri dan yang manarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah (lokasi).
  • Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan.
  • Ada yang mendefinisikan Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan.
  • Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.

Judul terbagi menjadi dua:

1. Judul langsung

Judul yang erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubugannya dengan bagian utama nampak jelas.

2.Judul tak langsung :

Judul yang tidak langsung hubungannya dengan bagian utama berita tapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.[10]

  1. Pertimbangan Memilih Judul

Judul adalah kepala karangan. Jadi judul harus sesuai dengan uraian dan untaian kalimat yang ada dibawahnya.[11] Jangan sampai antara judul dan isi terdapat perbedaan atau tidak relevan karena judul diibaratkan seperti kepala dan isi sebagai tubuhnya. Pada umumnya judul dibuat sebelum menuliskan isi. Akan tetapi, ada juga yang lebih suka menulis kalimat terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan apa judul yang sesuai dengan tulisan itu.[12]

  1. 2.      Aturan Pemilihan Judul

Berikut beberapa aturan pemilihan judul :

1. Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.

2.   Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan.

3.   Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangklaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.[13]

D. Perbedaan Tema, Topik, dan Judul

Perbedaan antara Tema, Topik, dan Judul ialah,

  1. Tema merupakan pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh penulis melalui karangannya.Dan tema juga merupakan dasar cerita (yang dipercakapkan-dsb), yang dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak,dsb.
  2. Topik merupakan pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dsb. Topik juga merupakan ide sentral yang mengikat keseluruhan uraian, deskripsi, penjelasan, dan seluruh pembuktian.
  3. Judul merupakan kepala karangan (cerita,drama,dsb) atau perincian atau penjabaran dari topik dan judul dapat juga merupakan nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang menyiratkan secara pendek isi buku atau bab.[14]

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Sebagai salah satu unsur terpenting dalam membuat karya ilmiah, tema, topik, dan judul merupakan hal yang harus diperhatikan dalam membuat karya tulis. Karena, tema, topik, dan judul merupakan sesuatu yang mendasar.

Tema merupakan pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh penulis melalui karangannya.Dan tema juga merupakan dasar cerita (yang dipercakapkan-dsb), yang dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak,dsb.

Topik merupakan pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dsb. Topik juga merupakan ide sentral yang mengikat keseluruhan uraian, deskripsi, penjelasan, dan seluruh pembuktian.

Judul merupakan kepala karangan (cerita,drama,dsb) atau perincian atau penjabaran dari topik dan judul dapat juga merupakan nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang menyiratkan secara pendek isi buku atau bab.

 

 

  1. Saran-saran

Dengan memahami dan menguasai berbagai kaidah penulisan tema, topik, dan judul. Diharapkan pembaca dapat membuat tema, topik, dan judul yang baik dan benar. Setidaknya dengan memahami pembahasan makalah penulis kali ini, pembaca menjadi paham bagaimana cara membuat tema, topik, dan judul dengan baik dan sisitematis dan mengerti apa saja syarat-syarat penyusunan tema, topik, dan judul agar didapat suatu karya yang baik dan benar, serta menghindari kekeliruan penentuan.

Para dosen, guru, atau mahasiswa yang senantiasa bergerak dengan tulisan atau karya ilmiah, sangat besar peranannya dalam pembinaan pembuatan karya ilmiah khususnya dalam penentuan tema, topik, dan judul. Oleh karena itu, sangat masuk akal jika para doseen, guru, atau mahasisiwa perlu rajin membaca sebagai modal dasar bagi seorang penulis. Selain itu, kemauan, motivasi, dan kemampuan menulis merupakan modal dasar yang mutlak dimiliki oleh seseorang dalam menulis karya ilmiah.

Bagi  pemula, untuk membuat suatu karya ilmiah diperlukan kejelian untuk menentukan tema, topik, dan judul. Sebaiknya dalam  mengambil tema, topik, dan judul yang sesuai dengna materi yang dikuasai. Agar tidak terjadi kekeliruan dalam pembahasan karya ilmiah atau karangan. Selanjutnya, teruslah mencipta dan jangan lelah untuk terus belajar serta perhatikan hal-hal yang penting dalam penulisan atau penentuan tema, topik, dan judul.

DAFTAR PUSTAKA

 

Karyanto, Umum Budi. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.

Makalah Tentang Pengertian Tema, Topik, dan Judul, (http://iksan-jambi.blogspot.com/2009/07/indonesia.html, diakses 13 Juni 2011)

Tema, (http://id.wikipedia.org/wiki/Tema.html, diakses 13 Juni 2011)

Widagdo, Djoko. 1997. Bahasa Indonesia Pengantar Kemahiran Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Yukfuk, Topik, Tema, Judul. (http//yukfuk.wordpress.com/2011/06/11, diakses 11 Juni 2011)

 


1Umum Budi Karyanto, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Pekalongan:STAIN Pekalongan Press, 2009), hal. 70

[2] Ibid.

[4] Yukfuk, Topik, Tema, Judul. (http//yukfuk.wordpress.com/2011/06/11)

[5] Ibid.

[6] Karyanto,Loc. Cit. hal.70

[7] Ibid, hal. 71.

[8] Djiko Widagdo, Bahasa Indonesia Pengantar Kemahiran Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 1997, hal. 123

[9] Karyanto,Loc. Cit. hal. 73

[10] Yukfuk, Topik, Tema, Judul. (http//yukfuk.wordpress.com/2011/06/11)

[11] Karyanto, Loc. Cit. hal. 73

[12] Ibid.

[13] Yukfuk, Topik, Tema, Judul. (http//yukfuk.wordpress.com/2011/06/11)

[14]Makalah Tentang Pengertian Tema, Topik, dan Judul, (http://iksan-jambi.blogspot.com/2009/07/indonesia.html)