KATAKURNIA: KIRIM NASKAH


Iseng buka-buka file tulisan di laptop. Eh, nemu tulisan yang sudah tertimbun beberapa bulan . Ada beberapa puisi yang tertunduk sedih ditendang koran. Salah satu judul puisinya adalah MALKA

; MUARA REJO. Puisi ini adalah puisi yang berhasil membawa pulang trophy juara kedua. Tapi justru terseok-seok mencari kolom koran. Memang tak bisa dipungkiri bahwa karya sastra terutama puisi tidak punya pakem khusus. Bagus atau tidaknya suatu puisi tergantung subjektifitas penikmatnya. Ada yang suka gaya puisi model panjang, ada yang suka puisi model rima, dan lain-lain. Jadi, bukan jaminan bahwa puisi yang menang lomba bisa dengan mulus melenggang di media massa. Juri yang ditunjuk untuk menilai perlombaan pun punya standar khusus. Bisa jadi lomba yang aku ikuti adalah ‘event kecil’ jadi standarnya kalah jauh dibandingkan standar koran.

Sudah lama aku vakum menulis puisi untuk media massa. Bisa dibilang aku menghilang. Sejatinya ini bukanlah keadaan yang aku inginkan. Aku ingin terus menulis bukan agar dimuat, tapi lebih kepada kecintaan menulis. Sayangnya hal itu tak berjalan sebagaimana rencana. Semangat menulisku terpacu ketika mengirim ke koran atau ikut perlombaan. Sejak menikah produktivitasku menurun. Kesibukan tak mau kujadikan kambing hitam. Namun lebih kepada ‘rasa malas’ yang kerap muncul dengan alasan ‘quality time’ bareng keluarga. Padahal menulis dan mengurus rumah tangga bisa dilakukan bersamaan. Yang diperlukan adalah komitmen tinggi.

Jika tidak menulis aku merasa berdosa terhadap diriku sendiri yang membiarkan ide bertumpuk dalam kepala. Aku merasa dzalim karena tidak memanfaatkan otak yang sudah diciptakan Allah dengan sangat hebat ini untuk menulis, berbagi kepada sesama, dan menginspirasi. Menulis akan menjadi ladang pahala apabila sesama bisa mengambil manfaat darinya.

Maka pagi ini aku memutuskan untuk mengirim naskah ke koran (lagi) dengan tujuan mencari pembaca. Barangkali pembaca bisa memetik manfaatnya. Baiklah, begitu semangatku. Hanya saja, aku perlu siap mental. Ditolak. Itu adalah hal yang sering terjadi. Dan aku harus kembali menyiapkan mentalku seperti dulu lagi saat pertama aku berapi-api ingin menjadi penulis produktif.

Semangat untuk diriku! Semoga kamu tahan terhadap penolakan! Sebab kamu harus memulai dari nol lagi dengan membaca banyak tulisan, menulis satu dua halaman, mengedit, mengirim, dan ditolak. Begituuuu terus berulang-ulang sampai kamu bosan dan hampir menyerah. Lalu senang luar biasa ketika karyamu dibaca banyak orang.

 

Batang, 13 Oktober 2017

Love, Katakurnia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s