KATAKURNIA: Pada Hari Ketika Aku Menjadi Ibu


Pada hari  ketika aku menjadi ibu. Aku kembali paham mengapa surga terletak di telapak kaki seseorang bernama ibunda. Sebab begitu curam rasa sakit tatkala mengandung dan melahirkan. Betapa rasa takut ihwal maut begitu mengintai. Kami terancam setiap jam, kami waswas menanti pembukaan. Namun hanya kepada sang Maha Hidup kami menggantungkan keselamatan.

Di sudut ruang persalinan. Ruang paling menakutkan yang pernah kutinggali. Siang dan malam tak ada bedanya. Di ruang redup itu aku hanya bisa melihat bola lampu yang selalu sama pijar terangnya setiap waktu. Dan alat-alat pemeriksaan serta persalinan yang tampak tajam dan  menyeramkan. Pisau itu …, pinset itu…, semuanya ngeri di mataku.  Terlebih lagi ada perempuan-perempuan lain dalam satu ruangan yang hanya disekat tirai yang tengah berjuang lebih dulu. Teriakan dan erangan pilu sangat ngilu di telingaku. Menambah rasa curiga jangan-jangan Izrail sudah menungguku.

Pada hari ketika aku menjadi ibu, kudengar isak tangis seorang  lelaki di sebuah Minggu pukul delapan pagi. Aku tak bertanya mengapa ia mengeluarkan kristal bening dibalik bukubuku matanya. Air mata yang berbeda dari air mataku yang terbiasa tumpah bahkan hanya karena terbawa perasaan menonton film sendu. Ia menangis dalam kekuatannya namun memilih tak meraung hingga gema suaranya memekakkan telinga. Kendati mungkin sejatinya ia bisa.

Entah di luar sana ada air mata siapa yang lepas dari tempatnya. Usai kutemui seorang perempuan kecil yang ringkih. Dengan kulit putih kemerahan berlumur darah perjuangan kami berdua. Selama sekian puluh jam. Ia lalu hadir menyapa dunia dan aku hanya mampu membisu, menangis, tanpa keluar satu pun kata.  Aku belum mengenalinya –perempuan kecil itu- sebab hanya kutandai tangisannya yang teramat kencang serta kulihat kepalanya tatkla digendong seorang bidan, pada hari itu. Pada hari ketika aku menjadi ibu.

Kini, perempuan kecil yang kutemui pada hari itu telah mampu memanggil namaku. Ia  yang dulu tak berdaya kini bisa mengutarakan keinginannya. Dengan bahasanya yang selalu mengundang tawa dengan caranya yang suka meniru orang dewasa. Tangan kecil, kaki kecil, semuanya kecil namun memberiku banyak hal besar. Alhamdulillah segala puji hanya miIik Allah Rabb Semesta Alam yang telah mengizinkanku bertemu dan merawat seorang perempuan, anakku, Adhimatur Rizqi.

Batang, 13 Juni 18

Love Katakurnia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s