Semenjak Menjadi Ibu


Banyak yang bertanya padaku. Kenapa puisi-puisiku kini tak terdengar gaungnya lagi? Hampir semua pembaca tulisanku menanyakan hal yang sama. Aku hanya tersenyum menjawabnya. Memang tak bisa dimungkiri bahwa kehadiran sang buah hati ke dunia telah mengubah segalanya. Bukan Cuma sekadar status tapi juga mengubah banyak hal yang biasa rutin dikerjakan. Contohnya menulis.

Aku terbiasa menulis malam hari sebelum tidur. Atau pagi hari setelah solat subuh. Menurutku, dua waktu itu adalah waktu yang sangat pas untuk mengembangkan ide dalam pikiran, sekaligus menguras habis ‘sampah-sampah’ yang menumpuk di dalam otak. Pun saat mengkuti lomba, aku adalah hantu deadline. Biasanya aku menulis beberapa jam sebelum lomba ditutup. Nekat banget, kan?!

Kalo sekarang. Duh kalau hari itu deadline, ya, artinya ucapkan goodbye sama lomba itu. Alias kesempatan terlewat begitu saja. Padahal banyaaak sekali event lomba yang keren. Bukan Cuma hadiahnya tapi juga penyelenggaranya. Tapi, ya sudah lah. Mungkin belum rezeki.

Dari situlah aku banyak merenung. Dulu sebelum aku menikah dan punya anak aku adalah orang yang sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas atau seminar. Sampai-sampai aku pernah membikin sebuah status guyon begini, “Uripku kakehan komunitas.” Yang artinya hidupku kebanyakan komunitas. Karena jujur aku senang berteman dan berkumpul dengan orang-orang yang punya semangat positif tinggi. Meskipun aku jauh dari itu, tapi kuharap aku bisa tertular semangat mereka.

Berbagai komunitas aku ikuti, bahkan wa-ku penuh dengan grup komunitas. Tiap hari ada saja yang dibahas dan sebagian besar sangat bermanfaat. Aku pun aktif ikut kegiatan mereka. Ke sana ke sini. Senang rasanya bertemu orang-orang baru yang positif dan hebat. Lalu mengikuti berbagai event perlombaan, menulis di berbagai antologi dan Koran, serta aktif dalam grup kepenulisan di media social.

Sekarang. Ada yang harus kuprioritaskan dibandingkan keinginan pribadi. Yaitu keluarga dan buah hati. Betapa bahagianya menikmati setiap momen di dekatnya. Dia yang kecil yang belum kuat tenaganya, yang selalu memusatkan seluruh dunianya kepadaku, orangtuanya. Bebeda dengan aku yang punya banyak dunia di luar sana. Dunianya hanyalah orang tuanya. Dia butuh kehadiran dan perhatianku, bukan Cuma kepintaran dan keaktifanku.

Ya, menjadi ibu butuh banyak sekali pengorbanan. Semenjak menjadi ibu aku selalu diingatkan betapa beratnya perjuangan ibuku dulu membesarkanku. Ibu tinggalkan semua yang menjadi cita-cita dan impiannya. Ibu korbankan seluruh nyawa dan napasnya untuk anak-anaknya. Aku menulis ini sambil merasakan ada bulir bening yang menggantung di pelupuk mata. Pandanganku seketika lamur melihat tuts-tuts keyboard. Terbayang sosok wanita tua di seberang sana. Wanita yang melahirkanku dulu.

Ibu yang dulunya muda dan sangat cantik. Ibu yang cerdas dan aktif. Ia tinggalkan semua hal yang disenanginya, semua hal yang mungkin paling dibanggakannya di masa muda. Tak terhitung berapa banyak kesedihan dan angan-angan ibu tepis agar anaknya mendapatkan kasih sayang yang sempurna.

Semenjak menjadi ibu, aku kembali diingatkan betapa tak mudah menjalani peran ini. Betapa ibuku dulu kesulitan mendidik dan merawatku. Sungguh tak tahu diri jika anak tak bisa menghargai segala jerih payah ibu yang tak kenal waktu.

Ibu, kini aku sudah menjadi ibu. Semoga aku bisa sekuat dirimu. Pinjami aku perasaanmu agar aku bisa menjalani kehidupan tanpa sepatah keluhan.

 

Batang, 3 September 2018

Love,

Katakurnia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s