Menjadi Guru


PNS-14

Pahlawan tanpa tanda jasa begitulah sebutan yang selalu disematkan kepada sosok guru. Guru bukan sebatas orang yang mengajar dan mendidik kita ketika berada di sekolah. Guru bisa juga orang-orang yang memberikan kita ilmu dalam kehidupan. Bisa orang tua, teman, keluarga, bisa pula orang lain yang mungkin kita temui. Tak bergantung umur. Siapa pun orangnya, jika ia memberikan ilmu maka layak kita sebut sebagai guru.

Lantas ke mana arah tulisan ini. Entahlah aku hanya ingin menulis tentang sedikit pengalamanku ketika menjadi guru. Guru secara akademis adalah orang yang  menyelesaikan sarjana pendidikan. Apa pun jurusannya maka ia bisa mengajar di sekolah. Menjadi seorang guru merupakan salah satu cita-cita yang kusebutkan sejak kecil. Selain dokter dan reporter atau malah pemain band?

Awalnya aku tak terlalu ingin menjadi guru.  Jelang kelulusan kelas 12 SMA aku mulai kebingungan mau ke manakah setelah lulus SMA. Kalau mendaftar kuliah sesuai yang kuinginkan biaya dari mana? Aku hanya pasrah kepada Sang Pemberi Keputusan mau dibawa ke manakah hidupku nanti. Memang berlebihan namun begitulah adanya. Pemikiran seorang remaja yang beranjak dewasa. Di tengah riuhnya pendaftaran perguruan tinggi. Di antara teman-teman yang hibuk mendaftar kampus sana-sini.

Aku pun pelan-pelan menjauh. Merasa tersingkir dari keriuhan itu sambil berharap akan adanya keajaiban yang dikirimkan Sang Pencipta, pemilik segala keputusan. Singkat cerita, ibuku membawa kabar bahagia bahwa Pak Dheku berbaik hati mau membiayai kuliahku asalkan dengan satu syarat yaitu aku harus kuliah di Pekalongan. Dengan alasan biayanya tidak terlalu banyak dan bisa dekat dengan orang tua. Pak Dhe dan ibuku sudah memilihkan kampus untukku yaitu STAIN Pekalongan jurusan Tarbiyah alias pendidikan.

Jujur aku pun bimbang. Aku, jadi guru? Tidak salahkah? Bagai kerbau dicucuk hidung aku pun menurut dan mendaftar ke kampus itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan berkuliah di situ. Eh sejatinya tak terbayangkan aku bisa kuliah. Jadi kebimbanganku tergantikan dengan rasa syukur yang besar.

Semester demi semester kulalui dengan lesu. Seperti terpenjara, merasa tidak bebas dan mulai kehilangan jati diri. Persetan dengan passion! Tugasku hanya menyelesaikan kuliah dengan predikat lulus. Mata kuliah pun kuikuti dengan sebaik-baiknya. Kalau ada tugas aku kerjakan dengan sungguh-sungguh tapi semuanya terasa hambar. IPK yang tinggi pun tak membuatku bangga, semua terasa biasa saja. Ibarat raga yang berdiri tanpa nyawa begitulah gambaran kehidupanku masa perkuliahan. Ada nilai tinggi tapi minus kebahagiaan.

Hal itu berjalan sampai aku masuk ke semester enam. Tiga tahun terlunta dalam kehambaran rasa. Semangat tak ada hanya ada rasa ingin lulus secepat cepatnya. Kupikir dengan menyelesaikannya aku bisa lebih bahagia. Namun, pemikiran tersebut akhirnya berganti. Berbalik 180 derajat. Semenjak aku berjumpa dengan seorang dosen di salah satu mata kuliah. Tak akan kusebut nama dosen ini agar tidak terkesan mengkerdilkan dosen lain. Namun, secara pribadi aku sudah berterima kasih dengan beliau.

Alhamdulillah atas izin Allah, kata-kata beliau saat mengajar benar-benar membuka pemikiranku. Salah satunya aku mulai mencari letak potensi diri di bidang apakah aku ini? Aku senang dengan hal-hal berbau kreatif seperti merangkai sesuatu menjadi kerajinan, menulis, dan membaca.  Aku bergabung Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di sanalah aku menemukan sebagian kebahagiaan. Aku bisa mengekspresikan segala ide melalui tulisan. Namun, aku kembali tersadar jangan-jangan aku salah jurusan.

Pertanyaan itu pun terbawa hingga semester berganti dan mulai memasuki mata kuliah micro teaching. Aku harus menampilkan bagaimana caraku mengajar kelak di hadapan dosen dan teman-teman selama 10 menit. Sekitar seminggu diberi persiapan aku bingung bagaimana cara mengajar yang baik.  Kuputuskan untuk mengajar dengan caraku sendiri. Tanpa kehilangan jati diri.

Aku suka membuat kerajinan atau keterampilan tangan. Kusulap kertas asturo menjadi suatu permainan. Di situ saya menuliskan materi yang akan dicocokkan dengan materi lain. Lalu kertas tersebut dilubangi dan diisi dengan tali. Tali itulah yang berfungsi untuk menyocokkan satu materi dengan materi lainnya.

Keesokan harinya waktunya eksekusi. Tak disangka aku mendapatkan nilai memuaskan. Meskipun Cuma 10 menit mengajar ternyata cukup menyadarkanku bahwa menjadi guru tidak akan menghalangi kita untuk menyalurkan bakat-bakat lainnya. Guru harus serba bisa karena kita kelak menghadapi murid-murid yang bermacam-macam. Menjadi guru menyenangkan.

Batang, 1 April 2019

Sumber gambar:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s