GURU, SANG PEMBELAJAR SEJATI


Aku senang menjadi guru karena menjadi guru membuatku terus belajar. Belajar apa saja. Karena pada sejatinya antara guru dan murid sama-sama belajar. Murid bisa belajar dari materi yang guru berikan, guru belajar dari murid bagaimana cara memahami kemampuan murid. Guru lantas terpacu untu terus mengembangkan dirinya dengan belajar.

Lebih dari seperempat abad usiaku saat ini. Sebagian besar aku habiskan untuk sekolah TK, MI, SMP, SMA, hingga kuliah. Tentu ada banyak pengalaman berjumpa dengan banyak guru. Memang tak bisa dipungkiri bahwa guru menjadi orang terpenting dalam kehidupan muridnya. Aku mengamini kata-kata Pak J Sumardianta bahwa  murid akan dengan mudah melupakan materi yang guru sampaikan. Namun, kesan yang guru berikan di dalam kelas akan terus diingat seumur hidup.

Sebagai contoh, aku bahkan lupa seperti apa rumus matriks ketika kelas X SMA. Tapi aku ingat betul bagaimana cara guru tersebut mengajarku. Caranya berpakaian, berbicara, hingga bersikap. Mungkin hanya satu dua materi sekolah saja yang teringat sampai sekarang. Ingatanku ini sangat terbatas masalah pelajaran tapi sangat ingat dengan perlakuan.

Aku tak tahu apakah semua murid seperti itu. Tapi itulah yang kurasakan selama ini. Bahkan ada guru yang berhasil mengubah muridnya menjadi lebih baik. Tak terbayang betapa besar jasa dan pahala guru tersebut. Murid yang tadinya tak bersemangat mengejar cita-cita lantas menjelma manusia yang bersemangat. Begitu pula sebaliknya, murid yang semula bersemangat kemudian berubah menjadi malas-malasan mungkin juga disebabkan oleh perlakuan guru.

Ketika usiaku 15 tahun, saat itu aku baru mememasuki kelas X SMA. Banyak hal yang membuatku minder. Mulai dari fisikku, kondisi keluargaku, bahkan namaku sendiri. Semuanya terasa kurang dibanding teman sekelasku dan sungguh itu amat menyiksaku. Kuhabiskan hari-hari  di sekolahku dengan perasaan tak nyaman. Canggung. Tak enak mau bergerak rasanya setiap orang akan menertawakan semua kekuranganku.

Sampai pada suatu hari aku berjumpa dengan seorang guru mata pelajaran Sejarah. Beliau menyebutkan nama satu per satu murid di kelasku. Hingga tibalah giliranku. Dengan bersemangat beliau menyebutkan “Kurnia Hidayati,” sedetik kemudian, “artinya karunia dan hidayah. Kelak kamu akan menjadi orang hebat!”

Begitu mendengarnya seketika hatiku gemuruh. Ada perasaan lain di dadaku. Entah bangga, entah bahagia, namun aku jadi merasa bahwa diriku itu berharga. Aku bukan pecundang yang selalu kalah sebelum berperang. Aku punya kesempatan yang sama seperti lainnya. Sukses itu hak setiap manusia termasuk aku!

Bagi guru mungkin kata-kata yang diucapkan terasa biasa. Tak terlalu berarti. Tetapi bagi murid kata-kata seorang guru bisa menjadi sesuatu hal yang teramat berharga. Murid mengingat itu tak sebatas dalam pikiran, namun juga dalam jiwanya. Begitu pula ungkapan negatif, murid juga mengingat itu bahkan masih menyimpan perasaan sakit hati hingga nanti.

Karena itu, aku selalu berusaha mengucapkan sesuatu yang baik untuk muridku. Tentunya aku tak berharap banyak karena sejatinya aku tetaplah manusia biasa yang punya banyak kekurangan.  Aku harus tetap belajar bukan sekadar materi namun juga belajar bagaimana cara memahami setiap jiwa yang kudidik nanti.

 

Batang, 2 April 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s