IBNU SINA


IBNU SINA

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Fisafat Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan

Tahun Akademik 2010/2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

 

  1. Kurnia Hidayati                      202 111 0206
  2. Uswatun Khasanah                 202 111 0210
  3. Muhammad Bagus Yudistira  202 111 0214
  4. Naelal Khusna                         202 111 0222

 

 

KELAS E

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PEKALONGAN

2011

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul Ibnu Sina” ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.

Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang Ibnu Sina dan filsafat serta pemikirannya. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami filsafat Ibnu Sina, mengingat beliau adalah seorang filosof yang cerdas. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Amat Zuhri M.Ag, selaku dosen pembimbing Filsafat Islam dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Filsafat Islam. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

 

 

Pekalongan, 2 Oktober 2011

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 Dinamika pemikiran dalam dunia Islam tetap berkembang sampai sekarang. Kenyataan ini dimungkinkan terjadi berkat doktrin yang menghargai akal setinggi mungkin sebagai salah satu sumber pengetahuan dan kebenaran.

Menurut Ibnu Sina, jiwa merupakan satu kesatuan dan memiliki wujud sendiri. Jiwa nihil sebagai fungsi-fungsi fisikan dan tugasnya ialah untuk berfikir dalam rangka ini, jiwa memerlukan tubuh. Pada mulanya tubuh menolong jiwa manusia untuk berfikir.

Namun, jika jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan maka sebaliknya, tubuh hanya akan menjadi penghalang bagi jiwa untuk berkembang. Karena jiwa merupakan satu unit sendiri yang terlepas dari badan. Inilah sebagian pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Sina dasar ajaran filsafatnya. Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini akan kami jelaskan lebih lanjut mengenai filsafat Ibnu Sina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Biografi Ibnu Sina

Abu Ali Husein Ibnu Abdillah Ibnu Sina lahir Afyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukharadi tahun 980 M. Orang tuanya berkedudukan pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani. Menurut sejarah hidup yang disusun oleh murinya, Jurjani, dari semenjak kecil Ibnu Sina telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, seperti fisika, metematika, kedokteran, hukum, dan lain-lain. Sewaktu masih berumur 17 tahun, ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan istana.[1]

Pada waktu usianya mencapai 22 tahun, ayahnya meninggal dunia, kemudian ia meninggalkan negeri Bukharauntuk menuju Jurjan, dan dari sini ia pergi ke Chawarazm. Di Jurjan ia mengajar  dan mengarang, tetapi karena kekacauan politik, ia tak lama tinggal di situ.[2]

Ibnu Sina dalam berfilsafat berusaha mensintesakan ajaran filsafat Aristoteles dengan Neo-Platonisme. Bagi Ibnu Sina, filsafat tidak lain adalah pengetahuan mengenai segela sesuatu (benda) sejauh mana kebenaran obyek itu dapat dijangkau oleh akal manusia.

Ibnu Sina melihat filsafat dari dua arah, pertama dari segi teoritisnya dan kedua dari segi praktisnya. Yang teoritis terbagi atas ilmu-ilmu fisika, matematika dan metafisika, sedangkan yang praktis disebutkan dengan politik dan etika.[3]

Pada akhir hayatnya ia menjadi guru filsafat dan dokter di Ishfahan dan meninggal di Hamadzan pada tahun 428H (1037 M) dalam usia 57 tahun. Diberitakan, penyakit perut (maag) yang membawa kematiannya sebagai dampak dari kerja kerasnya untuk urusan negara dan ilmu pengetahuan.[4]

 

 

 

  1. Hasil Karya Ibnu Sina

Ibnu Sina meskipun disibukkan oleh kegiatan politik namun karena kecerdasan yang dimilikinya, menyebabkan ia mampu menulis beberapa buku.

Karena kecerdasan dan kepandaiannya dalam mengatur waktu. Tidak kurang dari 50 lembar karya yang ia hasilkan. Ia sangat berjasa bagi para ilmuwan.

Adapun karya-karya Ibnu Sina adalah:

  1. 1.      As-Syifa

Merupakan buku filsafat terpenting dan terbesar yang terdiri dari 4 bagian, yaitu logika, fisika, matematika dan metafisika.

  1. 2.      An-Najat

Merupakan buku ringkasan As-Syifa.

  1. 3.      Al-Syarat Wat-Tanbihat

Merupakan buku terakhir dan paling baik, pernah diterbitkan diLeidentahun 1892.

  1. 4.      Al-Hikmat Al-Masyriqiyyah

Memuat tentang logika, namun banyak orang yang membicarakannya kerena ketidakjelasan maksud judul ini.

  1. 5.      Al-Qanun/ Canon of Medicine

Pernah diterjemahkan dalam bahasa latin dan menjadi buku standar universitas-universitas di Eropa.[5]

  1. Filsafat Ibnu Sina
  1. 1.      Filsafat Jiwa

Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah filsafatnya tentang jiwa. Sebagaiman al-Farabi, ia juga menganut paham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari Akal Pertama; demikian seterusnya sehingga tercapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari Akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah Jibril.

Ibnu Sina berpendapat bahwa Akal Pertama mempunyai dua sifat, yaitu:

1)      Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah.

2)      Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.[6]

Akal pertama mempunyai tiga objek pemikiran, yakni Tuhan, dirinya sendiri sebagai wajib wujudnya,  dan dirinya sendiri sebagai mungkin wujudnya. Ketika akal memikirkan Tuhan akan timbul akal-akal lain. Ketika akal memikirkan dirinya sebagai dirinya sebagai wajib wujudnya, timbul jiwa-jiwa, dan dari dari aktivitas berfikir tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit. Jadi, Akal Pertama melimpahkan tiga wujud: Akal Kedua, Jiwa Pertama, dan langit tempat fixed stars.[7]

Ibnu Sina juga membagi jiwa itu sendiri dalam tiga bagian:

1)      Jiwa tumbuh-tumbuhan, dengan tiga daya (makan, tumbuh, dan berkembang biak)

2)      Jiwa binatang, dengan dua daya (gerak dan menangkap)

3)      Jiwa manusia, dengan dua daya (praktis dan teoritis)[8]

Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan ini tidak dapat diremehkan, baik pada dunia fikir Arab sejak abad 10 M sampai akhir abad 19 M, maupun pada filsafat scolastik Yahudi dan Masehi.

Bukti-bukti wujud jiwa juga diungkapkan Ibnu Sina dengan mengedepankan 4 dalil, yaitu:

1)      Dalil psiko-fisik

2)      Dalil aku dan kesatuan fenomena kejiwaan

3)      Dalil kelangsungan (kontinuitas)

4)      Dalil manusia terbang atau dalil manusia melayang-layang di udara.[9]

Ibnu Sina juga membuktikan bahwa jiwa adalah kekal, ia memaklumi bahwa jiwa itu adalah makhluk yang temporal tidak ada kecuali ada badan. Jiwa tidak mendahului badan, walaupun ia kekal setelah badan sirna, sehingga dengan demikian jiwa diklasifikasikan sebagai sesuatu yang mempunyai awal tetapi tidak mempunyai akhir. [10]

  1. 2.      Filsafat Wahyu dan Nabi

Pendapat Ibnu Sina tentang Nabi bertitik tolak dari tingkatan akal. Akal meteriil sebagai yang terendah adakalanya dianugerahkan Tuhan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, oleh Ibnu Sina dinamakan intuisi. [11] Daya yang ada pada pada akal materiil seperti ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada nabi-nabi.[12]

  1. 3.      Filsafat Wujud

Ibnu Sina berpendapat bahwa dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama, sendiru karena hanya dari yang tunggal. Yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Namun sifat intelegensi pertama itu tidak selamanya mutlak satu, karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan berkat kedua sifat itu., yang sejak saat itu melingkupi seluruh ciptaan di dunia, intelegensi pertama memunculkan dua kemaujudan yaitu:

1)      Intelegensi kedua melalui kebaikan ego tertinggi dari adanya aktualitas, dan

2)      Lingkungan pertama dan tertinggi berdasarkan segi terendah dari adanya kemungkinan alamiahnya. Dua proses pemancaran ini berjalan terus sampai mencapai intelegensi kesepuluh yang mengatur dunia ini, yang oleh kebanyakan filosof mungkin disebut malaikat jibril.[13]

Esensi dalam paham Ibnu Sina, terdapat dalam akal, sedang wujud itu diluar itu diluar akal. Ibnu Sina mengombinasikan antara wujud dan esensi sebagai berikut:

  1. Esensi yang tak dapat mempunyai wujud
  2. Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud
  3. Esensi tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud adalah sama dan satu.[14]

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Sina sependapat dengan al-Farabi mengenai filsafat jiwanya. Ibnu Sina dapat berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat, yaitu:

  1. Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah.
  2. Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.

Sedangkan mengenai filsafat wujud, Ibnu Sina berpendapat bahwa dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama sendiri. Karena hanya dari yang tunggal yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Namun, sifat intelegensi pertama itu tidak selamanya mutlak satu sebab ia bukan ada dengan sendirinya.Ia hanya mungkin dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Amin, Miska Muhammad. 1983. Epistemologi Islam. Jakarta: Penerbit UniversitasIndonesia.

 

Drajat, Amroeni. 2006. Filsafat Islam:Buat yang Pengen Tahu, Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Mustofa, H. A. 2004. Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia.

 

Nasution, Harun. 1999. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

 

Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta:Gaya Media Pratama.


[1] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), hal. 28.

[2] H. A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hal.189.

[3] Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1983), hal. 42)

[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999). Hal. 68.

[5]Mustofa, Op.Cit. hal. 189-190

[6] Harun Nasution, Op. Cit. hal. 29.

[7] Amroeni Drajat, Filsafat Islam:Buat yang Pengen Tahu, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hal.47.

[8] Nasution, Op. Cit, hal. 29-30.

[9] Mustofa, Loc. Cit, hal. 209.

[10] Ibid.

[11] Hasyimsyah Nsution, Loc. Cit, hal. 75.

[12] Nasution, Loc. Cit, hal. 33.

[13]Mustofa, Loc. Cit, hal. 190-191.

[14] Nasution, Op.Cit, hal. 33-34.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s